Masa Depan Energi Terbarukan

Masa Depan Energi Terbarukan

Masa Depan Energi Terbarukan

Bagi kebanyakan orang, bisnis di bidang energi terbarukan kelihatan sangat menjanjikan. Bukan hanya karena produknya yang menghasilkan emisi karbon yang rendah dan ramah lingkungan, tapi karena seakan-akan energi terbarukan adalah terobosan baru sebagai alternatif migas.

Padahal, energi terbarukan sudah ada hampir lebih dari 4 dekade yang lalu. Seperti misalnya industri wind turbine yang berdiri sejak tahun 1979 di Denmark. Bahkan di Inggris, mobil listrik sudah diproduksi pada tahun 1953 oleh Morrisons-Electricar, dan digunakan untuk pengantaran susu.

Hanya saja, baru akhir-akhir ini para pemimpin dunia sepakat untuk lebih banyak lagi menggunakan energi terbarukan, alasannya demi masa depan bumi yang lebih baik. Jika kita refleksikan, revolusi industri yang digerakkan oleh migas memang telah menyebabkan kerusakan iklim dan ekosistem bagi bumi.

Selain itu, menariknya energi terbarukan juga disumbang oleh keberhasilan Tesla dalam menciptakan kesan publik dan membuat trajectory industri otomotif, dengan hasil terobosannya di teknologi baterai dan kendaraan berenergi listrik. Walaupun, Tesla sendiri hingga sekarang masih mengalami free cash flow to firm negatif yang bisa menyebabkan kebangkrutan di masa mendatang.

Jika kita dalami laporan keuangan dan rantai pasokan bisnis energi terbarukan, posisi industri energi terbarukan saat ini tidak jauh berbeda dengan migas. Sebagian besar perusahaan di industri tersebut mengalami kesulitan dalam pengelolaan dana operasional dan manajemen investasi. Sebagai contoh, baru-baru ini Solar World AG sebagai salah satu pionir panel surya terbesar dunia dari Jerman harus gulung tikar. Contoh lainnya, perusahaan wind turbine Nordex dan panel surya Sunpower mengurangi puluhan ribu karyawannya.

Penyebabnya antara lain:

  • Perang dagang China. Selama ini pemerintah China menerapkan politik dumping untuk menguasai pasar dunia dan mematikan pesaingnya. Caranya adalah dengan mensubsidi 30% seluruh perusahaan energi terbarukan milik China. Sehingga, harga jual produk2 China sangat jauh di bawah harga pasar. Dengan strategi perangnya, China dapat menguasai 60% dari pasar panel surya. Bahkan hampir 80% perusahaan instalasi panel surya di Amerika mendapatkan produknya dari perusahaan China.
  • China menguasai pasar energi terbarukan dengan cara membangun pembangkit secara gratis, namun syaratnya tenaga kerja dan perawatan harus dari China. Pembangunan ini terutama dilakukan di wilayah Afrika. Seperti misalnya membangun wind turbine gratis di Nigeria.
  • Industri energi terbarukan sangat sensitif terhadap inovasi dan LCOE (levelized cost of electricity), sehingga produk yang dapat memberikan yield lebih tinggi secara cepat, akan menjadi lebih menarik.
  • Biaya investasi dan R&D yang sangat besar. Juga global value chain yang dapat menurunkan biaya operasional namun meningkatkan risiko geopolitik.
  • Dari sisi konsumen, Payback period untuk berinvestasi di panel surya bagi konsumen saat ini masih sekitar lebih dari 15 tahun. Sedangkan untuk wind turbine masih di kisaran 20 tahun.
  • Dari sisi konsumen, energi terbarukan memerlukan lahan yang jarang tersedia. Misalnya microhydro memerlukan aliran air yang stabil, onshore wind turbine memerlukan lahan luas dengan aliran angin stabil & tidak terganggu, offshore wind turbine memerlukan infrastruktur untuk mendirikan pembangkit dan mengalirkan listriknya.

Penyebab lainnya, industri energi terbarukan tidak sehijau yang selama ini dibayangkan orang.

Pembuatan polysilicon sebagai bahan baku panel surya dan penambangan magnet neodymium sebagai bahan baku wind turbine atau generator microhydro, menghasilkan limbah dan kerusakan lingkungan yang cukup besar. China sebagai pemasok terbesar bahan baku logam dan magnet untuk generator listrik sudah mengalami kerusakan alam karena penambangan tersebut. Saat ini pemerintah China mulai menutup pabrik-pabrik bahan baku karena kerusakan lingkungan, dan hal ini akan mengakibatkan penurunan pasokan bahan baku di masa mendatang.

Biomass di Asia Timur mengalami penolakan masyarakat untuk mendirikan pabrik karena menghasilkan emisi dan bau yang mengganggu. Pembangunan pembangkit Geothermal juga mau tidak mau harus merusak alam dan ekosistem disekitarnya. Belum lagi wind turbine aktif yang sudah menyebabkan kematian burung-burung karena menabrak baling-balingnya.

Berdasarkan data dari BP, saat ini energi terbarukan baru menyumbang sekitar 1% konsumsi energi dunia. Jika dikaitkan dengan data ini, maka untuk dapat mencapai 30% konsumsi energi dunia, energi terbarukan akan membutuhkan penambangan bahan baku dan instalasi pembangkit yang lebih masif lagi. Artinya, jika tidak ada inovasi dalam teknologi konversi atau pembangkit listrik, angka 30% dan kata “ramah lingkungan” masih jauh dari masuk akal.

Jadi, mimpi energi terbarukan untuk masa depan bumi yang lebih baik harus diimbangi dengan inovasi teknologi dan manajemen bisnis yang lebih baik. Tanpa hal tersebut, kendaraan listrik tetap akan berjalan di masa depan, namun dengan listrik yang bersumber dari generator migas…

Baca Juga :

Leadership Challenge

Leadership Challenge

Leadership Challenge

Inilah foto saya (sisi kiri jaket merah) bersama teman sekelas dan dosen-dosen dalam mata kuliah leadership challenge.

Ya, ini adalah kelas paling masif yang pernah saya ikuti selama berkuliah di Aberdeen. Kelas ini berisi orang-orang dari 35 negara yang berbeda, dan “challenge” di judul mata kuliah ini bermakna tantangan dalam menghadapi manusia yang luar biasa bermacam ragam.

Dari jumlah negara saja sudah berarti ada berbagai macam ras, budaya, dan bahasa. Belum perbedaan agama dan kepercayaan. Kemudian perbedaan kepribadian (ekstrovert-introvert). Kemudian perbedaan cara mempersepsikan informasi (logis-perasaan), cara menciptakan dan mengolah informasi (terstruktur-acak/kreatif). Belum lagi sifat bawaan, dan banyak hal lainnya.

Manusia itu memang diciptakan sangat luar biasa beragam, dan yang harus dilakukan bukan menyeragamkan manusia namun memahami keberagaman.

Kuliah ini sangat menantang karena saya harus melakukan kerja kelompok, dan hasil kerja kelompok memiliki bobot nilai 30% dari total nilai.

Berkumpul untuk menyelesaikan masalah dengan adanya kepentingan di dalamnya bukanlah suatu hal yang mudah. Jelas, semua anggota kelompok ingin mendapatkan nilai A. Masalahnya, semua anggota memiliki persepsi bahwa caranya masing2 yang bisa membawa kelompok untuk mendapat nilai A. Tidak ada yang percaya bahwa anggota kelompok yang lain juga memiliki kemampuan. Di sinilah muncul kompleksitas.

Setiap orang ingin memimpin dan merasa harus memimpin. Sehingga terjadi konflik di dalam kelompok. Konflik kognitif (tentang ide, penyelesaian masalah) bisa berakhir menjadi konflik afektif (perasaan, emosional).

Tanpa hierarki dan struktur, manajerial tidak dapat berjalan. Menciptakan hierarki dan struktur dalam tim yang relatif baru, apalagi orang-orangnya berbakat dan memiliki latar belakang yang cukup kuat, menjadi sangat sulit.

Memerintah atau maju ke depan dan menjadi “alpha” person, berarti menciptakan konflik. Karena tidak ada yang mau merendah, semua berbakat, semua punya ego. Di sinilah kepemimpinan alami diuji dan definisi pemimpin menjadi nyata.

Sebagai ENTP, cara saya menyelesaikan masalah ini adalah dengan berkolaborasi dan supportif terhadap anggota kelompok. Saya menciptakan suasana cair tapi penuh semangat. Dengan cairnya suasana, saya dapat mempengaruhi orang-orang dominan tersebut untuk melakukan apa yang saya inginkan, tanpa membuat mereka merasa diperintah atau dipimpin.

Berdasar teori, saya menemukan bahwa ini merupakan salah satu definisi pemimpin, yaitu dapat mempengaruhi orang lain. Pengaruh di sini tidak harus dalam bentuk kekuasaan atau hierarki.

Saya ingat sebuah video mengenai seorang anak kecil yang berusaha mengangkat pohon tumbang di tengah hujan dengan ketekunan dan kegigihan, kemudian banyak orang dewasa yang melihat jadi tergerak untuk ikut mengangkat pohon, dan pohon tersebut akhirnya berhasil dipindahkan. Anak kecil itu, tanpa kekuatan, tanpa hierarki, tanpa perintah, berhasil menggerakkan orang2 dewasa untuk memindahkan pohon tumbang.

Banyak teori dan penelitian akademik di luar sana yang membahas mengenai kepemimpinan yang kolaboratif, bahkan ada yang menyebut Jazz Leadership. Sebuah kepemimpinan yang berbeda dengan konduktor orkestra, tidak berdiri di depan dan memberi aba2, namun ikut bermain musik bersama tim tanpa memberi perintah. Jazz Leadership mendengarkan timnya, beradaptasi dengan permainan timnya, dan saling mempengaruhi dalam menciptakan melodi yang harmonis.

Sayangnya, sebagai ENTP saya lebih menyukai berpikir dan mencari tahu daripada menyelesaikan masalah. Saya lebih tertantang secara kognitif, sehingga banyak ide yang saya hasilkan dan saya dalami, namun malah membuat tim kebingungan, apalagi saya tidak menciptakan struktur penyelesaian masalah.

Dari pengalaman itu saya belajar. Ada saatnya menikmati berpikir, ada saatnya harus menjadi pragmatis untuk menyelesaikan masalah. Namun, pelajaran utama yang saya dapat adalah; improvisasi dalam ide namun ciptakan struktur dalam menyelesaikan masalah.

Berikut ini hasil feedback dari teman2 yang saya gunakan sebagai bahan refleksi (karena no pic hoax), dan refleksi tersebut sangat bermanfaat untuk pengembangan diri saya sendiri:

Sumber : https://penzu.com/public/0f583643

Gerakan Bangsa Indonesia

Gerakan Bangsa Indonesia

Gerakan Bangsa Indonesia

Tulisan ini berawal dari pengalaman sewaktu saya berada dalam kerja kelompok.

Kebetulan waktu itu saya berada dalam satu kelompok yang sangat beragam (satu pria Sikh dari India, satu wanita berhijab dari Oman, satu wanita kulit hitam dari Kanada, dan satu gadis dari China).

Dalam kerja kelompok ini, saya mengetahui bahwa persepsi rekan Oman terhadap orang Indonesia adalah ramah, sopan, tapi kebanyakan kurang berpendidikan. Karena memang kebanyakan orang Indonesia yang berada di Oman bekerja sebagai PRT (faktanya juga banyak orang Indonesia menjadi PRT di timur tengah). Rekan saya tersebut bahkan bisa beberapa kosa kata bahasa Indonesia, karena dia mempelajari dari PRTnya. Persepsi tersebut membuat dia jadi bertanya-tanya dengan cukup skeptis, bagaimana saya bisa bersekolah bersama dia. Hal ini cukup menyesakkan dada, namun karena orangnya sangat sopan dan baik, keterbukaannya tidak berasa offensif. Selain itu, dia juga bercerita sisi positifnya Indonesia, yaitu punya Bali yang sangat indah. Sehingga kesan Indonesia dalam cerita dia masih imbang positif negatif. Setidaknya, ini pertama kalinya saya mendapat kejujuran dari rekan di dunia lain secara sopan (rekan saya dari Kenya pernah bercerita kalau seorang British di kelompoknya mengeluh, great, I am in a group with Africans).

Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, kebanyakan orang memang menghakimi dan melakukan stereotyping ketika bertemu orang lain. Itu memang sifat dasar, sifat manusia sebagai primata.

Di sini saya sebetulnya cukup sedih, karena masih ada yang memandang Bangsa Indonesia sebelah mata.

Selain itu, saya pernah juga berkumpul bersama rekan-rekan dari Jerman, Meksiko, Korea Selatan, dan China, mereka membahas World Cup dengan penuh antusias. Kemudian salah satu rekan saya menyeletuk, bangga sekali negaranya bisa masuk ke World Cup, disiarkan di seluruh dunia, apalagi dari ratusan negara anggota FIFA, hanya puluhan yang bisa berkompetisi. Kebetulan, hanya saya satu2nya yang berasal dari negara yang jangankan masuk World Cup, sepak bola termasuk supporternya saja masih di abad kegelapan.

Selain itu juga, kebetulan program studi saya berisi orang-orang dari sektor energi, terutama migas. Aberdeen memang terkenal sebagai pusat migasnya Eropa dan tempat berkumpulnya orang2 migas. Rekan-rekan saya berpengalaman kerja di perusahaan energi (dan terkait) kelas dunia seperti Shell, Chevron, BP, Schlumberger. Setiap kali saya memperkenalkan diri bekerja di Pertamina, sejauh ini belum ada yang tahu apa itu Pertamina. Saya harus menjelaskan bahwa pertamina merupakan NOC terbesarnya Indonesia dan masuk dalam fortune global 500. Tapi itu tidak membantu, mereka bahkan tidak terkesan dengan fortune. Sedihnya, kebanyakan dari mereka tahu Petronas, dan saya hanya bisa bilang, ya, itu milik Malaysia.

Dari sini saya sangat memahami, dan hal ini sangat mengena sekali hingga ke lubuk hati terdalam, bahwa image Bangsa itu sangat penting. Di luar sana, banyak yang tidak peduli siapa itu Pak Habibie atau Bu Sri Mulyani. Kebanyakan orang cenderung melakukan generalisasi berdasarkan apa yang umum terjadi.

Sama seperti ketika kita melihat orang Jepang, yang akan muncul di benak kita adalah Robot, Manga, Anime, dan asumsi kita pasti orang Jepang itu unik-pintar-cerdas-inovatif. Penyebabnya bukan karena satu orang Masashi Kishimoto membuat manga, tapi karena satu bangsa Jepang konsisten menjadi unik-pintar-cerdas-inovatif. Banyak sekali orang Jepang menciptakan manga-manga yang luar biasa kreatif dan berhasil memasarkannya ke seluruh dunia. Jadi kesimpulannya, image bangsa Jepang diciptakan oleh satu bangsa, bukan segelintir orang.

Jadi kesimpulan saya, untuk mengangkat derajat Bangsa itu tidak cukup seorang Pak Habibie atau Muhammad Zohri. Pengangkatan derajat ini harus dijalankan secara sistemik satu Bangsa, dan dipasarkan secara global.

Misalnya, para pemimpin BUMN bahu membahu membesarkan BUMNnya, para dosen bahu membahu membesarkan lingkungan akademisnya, warga dan wisatawan domestik bahu membahu menjaga kesan positif tempat wisata, anak-anak muda bergerak bersama menjadi lebih tertib, berwawasan luas, dan produktif berkarya. Semuanya harus bergerak secara bersama dan sistemik. Ini harus menjadi gerakan nasional seluruh bangsa.

Bahu membahu, bukan saling menjatuhkan. Saling mendukung untuk kepentingan bersama, bukan kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Semuanya harus satu visi: Demi kebanggaan generasi penerus Bangsa Indonesia.

Kasihan jika nanti anak cucu kita di masa depan memperkenalkan dirinya sebagai orang Indonesia di depan orang Oman, dan mereka masih dipersepsikan sebagai bangsa PRT. Biarlah cukup Dilan saja yang menanggungnya…

*Saya sendiri akan berusaha berbuat sesuatu untuk hal ini. Saya yakin, setidaknya saya akan menyumbangkan sesuatu untuk gerakan ini.

Sumber : https://uberant.com/article/624633-dosenpendidikan-introduces-high-school-study-materials-on-their-website/

Network area

Network area

Network area

LAN (Local area network)

Jaringan wilayah local (local area network biasa disingkat LAN) adalah jaringan komputer yang jaringannya hanya mencakup wilayah kecil; seperti jaringan computer kampus, gedung, kantor dalam rumah, sekolah atau yang lebih kecil. Saat ini, kebanyakan LAN  berbasis pada teknologi IEEE 802.3 Ethernet menggunakan perangkat switch, yang mempunyai kecepatan transfer data 10, 100, atau 1000 Mbit/s. Selain teknologi Ethernet, saat ini teknologi 802.11b (atau biasa disebut Wi-fi) juga sering digunakan untuk membentuk LAN. Tempat yang menyediakan koneksi LAN dengan teknologi Wi-fi disebut hotspot.

Pada LAN, setiap node atau komputer mempunyai daya komputasi sendiri, berbeda dengan konsep dump terminal. Setiap komputer juga dapat mengakses sumber daya pada LAN sesuai dengan hak akses yang diatur. Sumber daya tersebut berupa data atau perangkat seperti printer. Pada LAN, seorang pengguna dapat berkomunikasi dengan pengguna lain dengan menggunakan aplikasi yang sesuai.

Berbeda dengan Jaringan Area Luas atau Wide Area Network (WAN), maka LAN mempunyai karakteristik sebagai berikut :

  1. Meliputi wilayah geografi yang lebih sempit
  2. Mempunyai pesat data yang lebih tinggi
  3. Tidak membutuhkan jalur telekomunikasi yang disewa dari operator telekomunikasi

Salah satu komputer di antara jaringan komputer akan digunakan menjadi server yang mengatur semua sistem di dalam jaringan tersebut.

WAN (Wide area network)

WAN adalah Wide Area Network merupakan jaringan komputer yang mencakup area besar yaitu jaringan komputer antar wilayah, kota dan negara, atau dapat didefinisikan sebagai jaringan komputer yang membutuhkan router dan saluran komunikasi publik.

WAN digunakan untuk menghubungkan jaringan lokal yang satu dengan yang lain, sehingga pengguna atau komputer di lokasi satu dapat berkomunikasi dengan pengguna yang lain.

WiMAX (Worldwide Interoperability For Microwave Access)

WiMAX adalah Worldwide Interoperability for Microwave Access, merupakan teknologi akses nirkabel pita lebar (broadband wireless access atau disingkat BWA) yang memiliki kecepatan akses tinggi dengan jangkauan luas. WiMAX merupakan evolusi teknologi BWA yang sebelumnya dengan fitur yang menarik. Disamping kecepatan data yang tinggi. WiMAX juga merupakan teknologi dengan open standar. Dalam arti komunikasi perangkat WiMAX diantara beberapa vendor yang berbeda tetap dapat dilakukan (tidak proprietary). Dengan kecepatan data yang besar (sampai 70 MBps), WiMAX dapat diaplikasikan untuk koneksi broadband ‘last mile’, ataupun backhaul.

Versi awal Xerox ethernet dikeluarkan pada tahun 1975 dan di desain untuk menyambungkan 100 komputer pada kecepatan 2,94 megabit per detik melalui kabel sepanjang satu kilometer.

Desain tersebut sukses di masa itu sehingga xerox, intel dan Digital Equipment Corporation (DEC) mengeluarkan standar Ethernet 10Mbps yang banyak digunakan pada jaringan komputer saat ini. Selain itu, terdapat standar Ethernet dengan kecepatan 100Mbps yang dikenal sebagai fast ethernet.

Asal Ethernet bermula dari sebuah pengembangan WAN di university of hawaii pada akhir tahun 1960 yang dikenal dengan nama “ALOHA”. Universitas tersebut memiliki daerah geografis kampus yang luas dan berkeinginan untuk menghubungkan komputer yang tersebar di kampus tersebut menjadi sebuah jaringan komputer kampus.

Proses standardisasi teknologi Ethernet akhirnya disetujui pada tahun 1985 oleh institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE), dengan standar yang dikenal dengan Project 802. Standar IEEE selanjutnya diadopsi oleh International Organization for Standardization (ISO), sehingga menjadikannya standar internasional dan mendunia yang ditujukan untuk membentuk jaringan komputer. Karena kesederhanaan dan keandalannya, Ethernet pun bertahan hingga saat ini, dan menjadi arsitektur jaringan yang paling banyak digunakan.

Baca Juga :

Organisasi sistem Sosial

Organisasi sistem Sosial

Organisasi sistem Sosial

Sistem sosial adalah Sejumlah kegiatan hubungan timbal balik yang kurang lebih bersifat konsisten. Sistem sosial diciptakan manusia untuk mempengaruhi prilaku manusia. Dalam sistem sosial hubungan timbal balik terjadi antara masyarakat, organisasi dan kelompok sosial. Dalam masyarakat terjadi interaksi dan juga terdapat fakta sosial yang bersifat umum. Selain fakta umum juga terdapat fakta eksternal yang bersifat memaksa seperti norma hukum.

Pada organisasi yaitu kelompok yang mempunyai tujuan tertentu, akan terjadi suatu interaksi yang langgeng, memiliki identitas yang jelas, keanggotaan, program dan prosedur. Sedangkan pada kelompok sosial interaksi tidak terlalu interen. Dalam sistem sosial selalu mempertahankan batas untuk membedakan dearah lingkungan. Menurut Robert K. Merton terdapat dua fungsi dari interaksi yaitu fungsi manifest dan laten. Fungsi manifest bersifat jelas, terang dan diketahui atau dengan kata lain fungsi yang diketahui oleh orang yang bertindak ( aktor ). Contohnya adalah peran atau status sebagai dosen. Sedangkan fungsi laten memiliki sifat tersembunyi atau yang tidak diketahui atau dengan kata lain kebalikan dari fungsi manifest, yaitu fungsi yang tidak diketahui oleh orang yang bertindak ( aktor ).

Kelompok adalah suatu sistem sosial yg terdiri dari sejumlah orangyg berinteraksi satu sama lain dan terlibat dalam suatu kegiatan bersamadan memilki sikap lebih solidaritas serta bersifat kolektivitas .Jika organisasi lebih memiliki peraturan dan bersifat role expectation yaitu memiliki harapan kelompok.

Adapun perbedaan antara organisasi dan masyarakat adalah jika masyarakat merupakan sistem sosial yg memiliki identitas kolektif yang tegas, daftar anggota yangg terperinci, program kegiatan yang jelas & prosedur pengganti anggota serta interaksinya lebih solid dan makin terintegrasi. Sedangkan pada masyarakat cakupannya lebih luas dan merupakan system interaksi, atau keseluruhan komplek hubungan manusia yang luas sifatnya. Perbedaan antara organisasi dan individu antara lain jika organisasi  merupakan kenyataan objektif / eksternal sedangkan individu merupakan subjek yang mempunyai perasaan, pikiran memberi arti pada sesuatu yang mampu menilai tindakan sendiri atau dengan kata lain merupakan kenyataan subjektif / internal.

Status merupakan hal yang dibuat oleh manusia dan bersifatsubyektif. Selain itu pengertian dari status adalah tatanan ( order ) hak dan kewajiban secara hierarkis dalam struktur formal suatu organisasi. Menurut Talcott Parsons status seseorang timbul karena kelahiran contoh anak raja, karena mutu pribadi, karena prestasi, karena  kepemilikan, dan karena otoritas/kekuasaan. Adapun manfaat dari mengetahui tentang organisasi sosial adalah untuk dapat diajak bekerja sama dalam kegiatan kesehatan. Status subjektif ada yang bersifat konsisten dan non konsisten. Dalam organisasi terdapat peran yang memiliki arti pola perilaku yang diharapkan dari seseorang yang memiliki status atau posisi tertentu dalam organisasi. Maka dari itu sangat diperlukan sumber daya manusia yang baik untuk melaksanakan perannya dalam mensejahterakan masyarakat.

Sumber : https://www.thebaynet.com/community/science/13-factors-that-cause-ocean-damage-and-its-explanations.html

Undang- undang No. 39/2008 – Kementerian Negara

Undang- undang No. 39/2008 – Kementerian Negara

Undang- undang No. 39/2008 – Kementerian Negara

Undang-Undang No. 39 Tahun 2008 tentang tentang Kementerian Negara, yang isinya terdiri 9 bab dan 28 pasal . Undang-Undang ini ditandatangani oleh Presiden RI tertanggal 6 November 2008.

Dalam Undang-Undang tersebut dikemukakan :

  • Bab I Ketentuan Umum
  • Bab II Kedudukan dan Urusan Pemerintahan
  • Bab III Tugas, Fungsi, dan Susunan Organisasi
  • Bab IV Pembentukan, Pengubahan, dan Pembubaran Kementerian
  • Bab V Pengangkatan Dan Pemberhentian
  • Bab VI Hubungan Fungsional Kementerian dan Lembaga Pemerintah Nonkementerian
  • Bab VII Hubungan Kementerian Dengan Pemerintah Daerah
  • Bab VIII Ketentuan Peralihan
  • Bab IX Ketentuan Penutup
  • Penjelasan

Baca Juga :

Pendekatan dalam Teori Pendidikan

Pendekatan dalam Teori Pendidikan

Pendekatan dalam Teori Pendidikan

Pendidikan dapat dilihat dalam dua sisi yaitu: (1) pendidikan sebagai praktik dan (2) pendidikan sebagai teori. Pendidikan sebagai praktik yakni seperangkat kegiatan atau aktivitas yang dapat diamati dan disadari dengan tujuan untuk membantu pihak lain (baca: peserta didik) agar memperoleh perubahan perilaku. Sementara pendidikan sebagai teori yaitu seperangkat pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis yang berfungsi untuk menjelaskan, menggambarkan, meramalkan dan mengontrol berbagai gejala dan peristiwa pendidikan, baik yang bersumber dari pengalaman-pengalaman pendidikan (empiris) maupun hasil perenungan-perenungan yang mendalam untuk melihat makna pendidikan dalam konteks yang lebih luas.

Diantara keduanya memiliki keterkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Praktik pendidikan seyogyanya berlandaskan pada teori pendidikan. Demikian pula, teori-teori pendidikanseyogyanya bercermin dari praktik pendidikan. Perubahan yang terjadi dalam praktik pendidikan dapat mengimbas pada teori pendidikan. Sebaliknya, perubahan dalam teori pendidikan pun dapat berdampak terhadap praktik pendidikan

Terkait dengan upaya mempelajari pendidikan sebagai teori dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, diantaranya: (1) pendekatan sains; (2) pendekatan filosofi; dan (3) pendekatan religi. (Uyoh Sadulloh, 1994).

1. Pendekatan Sains

Pendekatan sains yaitu suatu pengkajian pendidikan untuk menelaah dan dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan disiplin ilmu tertentu sebagai dasarnya. Cara kerja pendekatan sains dalam pendidikan yaitu dengan menggunakan prinsip-prinsip dan metode kerja ilmiah yang ketat, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif sehingga ilmu pendidikan dapat diiris-iris menjadi bagian-bagian yang lebih detail dan mendalam.

Melalui pendekatan sains ini kemudian dihasilkan sains pendidikan atau ilmu, dengan berbagai cabangnya, seperti: (1) sosiologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari sosiologi dalam pendidikan untuk mengkaji faktor-faktor sosial dalam pendidikan; (2) psikologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari psikologi untuk mengkaji perilaku dan perkembangan individu dalam belajar; (3) administrasi atau manajemen pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari ilmu manajemen untuk mengkaji tentang upaya memanfaatkan berbagai sumber daya agar tujuan-tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien; (4) teknologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari sains dan teknologi untuk mengkaji aspek metodologi dan teknik belajar yang efektif dan efisien; (5) evaluasi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari psikologi pendidikan dan statistika untuk menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa; (6) bimbingan dan konseling, suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari beberapa disiplin ilmu, seperti: sosiologi, teknologi dan terutama psikologi.

Tentunya masih banyak cabang-cabang ilmu pendidikan lainnya yang terus semakin berkembang yang dihasilkan melalui berbagai kajian ilmiah.

Pendidikan dari Jaman ke Jaman

Pendidikan dari Jaman ke Jaman

Pendidikan dari Jaman ke Jaman

Pendidikan dari Jaman ke Jaman

Dari jaman ke jamanpendidikan muncul dalam berbagai bentuk dan paham. Pendidikan banyak dipahami sebagai sebagai wahana untuk menyalurkan ilmu pengetahuan, alat pembentukan watak, alat pelatihan keterampilan, alat mengasah otak, serta media untuk meningkatkan keterampilan kerja. Sementara bagi paham lain, pendidikan lebih diyakini sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan, alat pembentukan kesadaran bangsa, alat meningkatkan taraf ekonomi, alat mengurangi kemiskinan, alat mengangkat status sosial, alat menguasai teknologi, serta media untuk menguak alam raya. Tidak sedikit pula, praktisi maupun pemikir pendidikan justru sebagai wahana untuk memanusiakan manusia, serta wahana untuk pembebasan manusia.

Berbagai kebudayaaan dan keyakinan umat manusia, sesungguhnya terus menerus berusaha untuk menjaga dan mempertahankan penyelenggaraan pendidikan secara turun temurun. Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya menjadi kewajiban kemanusiaan maupun sebagai strategi budaya dalam rangka mempertahankan kehidupannya. Melihat begitu pentingnya pendidikan bagi umat manusia, banyak peradaban manusia yang “mewajibkan” masyarakatnya untuk tetap menjaga keberlangsungan pendidikan. Misalnya saja, bagi kalangan muslim ada tradisi keyakinan beragama yang berbunyi “ menuntut ilmu itu merupakan kewajiban bagi kaum muslim lelaki maupun perempuan”, “ tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”, serta banyak anjuran lainnya tentang pentingnya pendidikan, baik yang bersumber dari Al-Qur’an maupun Al-Hadist.

Banyak tradisi dan keyakinan manusia menekankan akan pentingnya pendidikan dan mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu. Semua anjuran tersebut semata didasarkan karena keyakinan umat manusia akan terancam jika pendidikan diabaikan.

Dalam perjalanan peradaban manusia selanjutnya, mereka senantiasa manjaga dan melanjutkan tradisi pendidikan melalui berbagai bentuk dan institusi pendidikan. Masing-masing model dan bentuk pendidikan saling berlomba untuk mendidik manusia.

Berbagai usaha yang dilakukan manusia untuk melakukan pendidikan tersebut lambat laun memunculkan berbagai model dan institusi pendidikan yang tercatat dalam sejarah pendidikan, sebagian besar bentuk dan institusi tersebut telah punah, namun beberapa masih tetap bertahan. Institusi pendidikan itu misalnya saja Academia di Yunani, Padepokan dan Pesantren di Jawa, Monastery di kalangan gereja, Madrasah di kangan masyarakat Muslim atau pun Santiniketan di India, dan masih banyak lagi. Salah satu institusi pendidikan yang sekarang menjadi model yang dominan adalah dikenal dengan isitilah “Sekolah” atau pun “Universitas”.

Dari uraian di atas kita dapat menangkap bahwa dari jaman ke jaman manusia telah berupaya mengkonsepsikan dan mengimplementasikan pendidikan secara variatif. Kendati demikian, secara esensi dan misinya menunjukkan pada garis yang sama yakni bahwa pendidikan pada dasarnya merupakan upaya untuk mempersiapkan manusia guna mengahadapi berbagai tantangan perubahan yang terjadi sesuai dengan tuntutan jaman, sekaligus merupakan upaya untuk menjamin kelangsungan eksistensi kehidupan manusia itu sendiri. Dengan melalui pendidikanlah hingga saat ini manusia telah mampu mempertahankan eksistensinya dan terus menerus menuju peradaban yang semakin maju dan kompleks.

SMKN 3 KOTA BOGOR WAJIBKAN SISWA SALAT DUHA

SMKN 3 KOTA BOGOR WAJIBKAN SISWA SALAT DUHA

SMKN 3 KOTA BOGOR WAJIBKAN SISWA SALAT DUHA

Dalam upaya meningkatkan keimanan siswa, maka pihak Sekolah Menengah

Kejuruan (SMK) Negeri 3 Kota Bogor, terus menggembleng anak didiknya dengan kegiatan keagamaan rohani islam (Rohis). Hal itu dikatakan Wakil Kepala ( Waka ) Bidang Kesiswaan SMKN 3 Kota Bogor, Ade diruang kerjanya, kemarin. Menurutnya, kegiatan rohis sebagai upaya pihaknya untuk mengantisipasi para siswa agar terhindar dari prilaku negatif, seperti tawuran, narkoba, dan seks bebas.

“Bekal ilmu yang kami berikan kepada mereka adalah dengan melaksanakan

salat dhuha bersama sebelum kegiatan belajar mengajar, dan salat dzhuru sambil diberikan tausiah oleh guru agama,” ujar Ade.

Menurutnya, sebagai tenaga pengajar, tentunya mengharapkan semua siswa

lulusan SMKN 3 Kota Bogor tidak hanya menguasai Ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK), tetapi juga mempunyai mempunya ilmu agama yang bagus .

“Kami ingin melahirkan generasi penerus bangsa yang berkualitas, mandiri, cerdas, aktif, kreatif dan berprestasi baik serta berakhlak mulia,” tegasnya.

 

Baca Juga :