Flexmedia.co.id

Flexmedia.co.id situs website pendidikan yang menyajikan informasi-informasi yang bermanfaat bagi pelajar

Bisyr bin al-Mu’tamir (wafat 226 H/840 M)

TOKOH ALIRAN MU’TAZILAH

Tokoh aliran Mu’tazilah banyak jumlahnya dan masing-masing mempunyai pikiran dan ajaran-ajaran sendiri yang berbeda dengan tokoh-tokoh sebelumnya atau tokoh pada masanya. Dari segi geogrsfis, aliran Mu’tazilah dibagi menjadi dua, yaitu Mu’tazilah Baghdad dan Basrah.[5] Menurut Ahmad Amin, pengaruh filsafat Yunani pada aliran Mu’tazilah Baghdad lebih nampak, karena adanya kegiatan penerjemahan buku-buku filsafat di Baghdad. Sedangkan Mu’tazilah Basrah lebih menekan segi teori dan keilmuan.
Tokoh aliran Basrah antara lain Wasil bin Atha’, Abdul Huzail al-Allaf, dan al-Jubbai. Sedangkan tokoh aliran Baghdad adalah Bisyr bin al-Mu’tamir dan al-Chayyat.

a) Wasil bin Atha’ (80-131 H/699-748 M)

Ialah seorang yang pertama kali meletakkan kerangka dasar ajaran Mu’tazilah. Ada tiga ajaran pokok yang dicetuskannya, yaitu paham al-Manzilah bain al-Manzilatain, paham Qadariyah, dan paham peniadaan sifat-sifat Tuhan. Dua dari tiga ajaran tesebut kemudian menjadi doktrin Mu’tazilah.
b) Abdul Huzail al-Allaf (135-226 H/752-840 M)
Puncak kebesarannya dicapainya pada masa al-Ma’mun, karena khalifah ini pernah menjadi muridnya dalam perdebatan mengenai soal agama dan aliran-aliran pada masanya. Hidupnya penuh dengan perdebatan dengan orang yang zindiq (orang yang pura-pura masuk Islam), skeptis, Majusi, Zoroaster, dan menurut riwayat ada 3000 orang yang masuk Islam di tangannya. Ia banyak membaca buku dan banyak haalan tentang syair bahasa Arab. Ia banyak berhubungan dengan filosof dan buku filsafat. Boleh jadi pertalian antara filsafatlah yang menyebabkan ia sanggup mngatur dan menysun ajaran Mu’tazilah.
c) Al-Jubabai (wafat 303 H/915 M)
Merupakan guru Abu Hasan al-Asyari. Pendapatnya yang masyhur mengenai kalam Allah, Sifat Allah, kewajiban manusia, dan daya akal. Mengenai sifat Allah ia menerangkan bahwa Allah tidak mempunyai sifat; kalau dikatakan Tuhan berkuasa, berkehendak, dan mengetahui berati hal tersebut melalui esensi-Nya bukan dengan sifat-Nya. Tentang kewajiban manusia ia membaginya menjadi dua, yaitu: kewajiban yang diketahui manusia melalui akal (wajibah aqliah) dan kewajiban melalui ajaran yang dibawa para nabi dan rasul (wajibah syariah).
d) Bisyr bin al-Mu’tamir (wafat 226 H/840 M)
Ia pendiri aliran Mu’tazilah di Baghdad. Pandangannya mengenai kesusasteraan, sebagaimana ynag banyak dikutip oleh al-Jahiz dalam bukunya al-Bayan wat-Tabyin, menimbulkan dugaan bahwa dia adalah orang yang pertama mengadakan ilmu Balaghah. Beberapa penapatnya mengenai Mu’tazilahan ialah soal tawallud yang dimaksudkan untuk menmcari batas-batas pertanggungjawaban manusia atas perbuatannya.
e) Al-Chayyat (wafat 300 H/ 912 M)
Merupakan pengarang buku al-Intisar yang dimaksudkan untuk membela aliran Mu’tazilah dari serangan Ibnu ar-Rawandi. Berpendapat bahwa kehendak bukanlah suatu sifat yang melekat pada zat Tuhan dan Tuhan berkehendak dengan zat-Nya.

POS-POS TERBARU

Flexmedia

Kembali ke atas