Penjelasan tentang Hadast Besar Lengkap

Penjelasan tentang Hadast Besar Lengkap

Penjelasan tentang Hadast Besar Lengkap

Penjelasan tentang Hadast Besar Lengkap
Penjelasan tentang Hadast Besar Lengkap

Pengertian hadas besar

Hadas besar mengikut istilah syara’ ertinya sesuatu yang maknawi (kotoran yang tidak dapat dilihat oleh mata kasar), yang berada pada seluruh badan seseorang, yang dengannya menegah mendirikan solat dan amal iadah seumpamanya, selama tidak diberi kelonggaran oleh syara’. Selama seseorang itu tidak menempuh atau melakukan salah satu perkara yang menyebabkanhadas besar, maka selama itu badannya suci dari hadas besar. Sebab dinamakan hadas besar ialah kerana kawasan yang didiami atau dikenai ole hadas besar ini terlalu luas iaitu meliputi seluruh badan dan rambut.

Perkara-perkara yang menyebabkan kedatangan hadas besar

Seseorang itu disebut berhadas besar menakala menempuh atau melakukan salah satu daripada 6 perkara yang berikut :
1. Keluarnya mani (air sperma) bagi laki-laki
2. Bertemunya 2 alat kelamin (kelamin laki-laki dan kelamin perempuan)
3. Haid/Menstruasi
4. Melahirkan
5. Nifas (keluarnya darah setelah melahirkan)
6. Meninggal dunia

Perkara-perkara yang diharamkan dengan sebab berhadas besar

1. Sholat
2. Tawaf
3. Menyentuh Al-Qur’an
4. Membaca Al-Qur’an.
5. I’tikaf
6. Berpuasa
7. Berjima’

PROBLEMATIKA

Menyentuh Quran Terjemahan Tanpa Wudhu

Dewasa ini mungkin telah menjadi suatu yang amat umum dikalangan masyarakat bahwa menyentuh Al-Qur’an/Al-Qur’an terjemah tanpa berwudlu sudah menjadi kebiasaan, bahkan telah menjadi budaya yang tak disadari hukumnya, maka disini kami akan membahas tentang bagaimana hukum menyentuh Al-Qur’an/Al-Qur’an terjemah bagi orang yang tidak dalam keadaan suci.
Para ulama berbeda pendapat dalam masalah keharusan berwudhu’ untuk menyentuh mushaf. Sebagian ulama mensyaratkan namun sebagian lainnya tidak mensyaratkannya.
1. Yang Mengharuskannya
Di antara ulama yang mengharuskan berwudhu’ sebelum menyentuh mushaf adalah Al-Imam Abu Hanifa, Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahumullah.
2. Yang Tidak Mengharuskannya
Sedangkan para ulama dari kalangan mahzab Zhahiri tidak mengharuskan berwudhu’ untuk menyentuh mushaf.

Penyebab Perbedaan

Sebenarnya kedua kelompok yang berbeda pendapat ini sama-sama menggunakan dalil ayat Quran yang satu juga, yaitu:

Tidaklah menyentuhnya kecuali mereka yang disucikan (QS. Al-Waqiah: 79)
Namun metode pendekatan masing-masing saling berbeda. Kelompok yang mengharuskan wudhu’ menafsirkan kataal-muthahharun (mereka yang disucikan) di dalam ayat di atas sebagai manusia. Dan lafadz laa yamassuhu bernilai larangan bukan sekedar kabar atau pemberitahuan belaka.
Jadi kesimpulan hukumnya menurut kelompok ini adalah manusia tidak boleh menyentuh mushaf Al-Quran kecuali bila telah disucikan. Dan makna disucikan adalah bahwa orang itu sudah berwudhu.
Kelompok yang tidak mewajibkan wudhu’ menafsirkan kata al-muthahharun di dalam ayat di atas sebagai malaikat. Sehingga tidak ada kewajiban bagi manusia untuk berwudhu’ ketika menyentuh mushaf Al-Quran.
Selain itu lafadz laa yammassuhu (tidak menyentuh Al-Quran) menurut mereka tidak bernilai larangan melainkan bernilai khabar (pemberitahuan) bahwa tidak ada yang menyentuh Al-Quran selain para malaikat. Maka tidak ada larangan apapun bagi seseorang untuk menyentuh mushaf meski tidak dalam keadaan suci.
Namun sumber perbedaan di antara keduanya memang bukan semata-mata perbedaan dalam memahami ayat di atas saja, tetapi memang ada dalil lainnya yang digunakan untuk menguatkan argumentasi masing-masing.
Misalnya, mereka yang mengharuskan wudhu menambahi hujjah mereka dengan hadits berikut ini:

Dari Amru bin Hazm bahwa Rasulullah SAW menuliskan: Tidaklah seseorang menyentuh Al-Quran kecuali dalam keadaan suci. (HR Malik 1/199, Abdurrazzaq 1/341, Al-Baihaqi 1/87 dan Ad-Daruquthuni 1/121)
Hadits ini dinilai sebagai hadits hasan li ghairihi oleh para ulama. Namun sebagian orang tidak menerima hadits ini lantaran diriwayatkan lewat tulisan (mushahhafah).

Ijtihad Tentang Quran Terjemah

Kemudian pertanyaan berikutnya adalah apakah mushaf yang ada terjemahannya itu terbilang sebagai mushaf juga atau bukan?
Ada sebagian dari ulama yang memandang bahwa ketika sebuah mushaf tidak hanya terdiri dari lafadz Al-Quran, tetapi juga dilengkapi dengan terjemahan atau penjelasan-penjelasan lainnya, maka dinilai sudah bukan termasuk mushaf secara hukum.
Namun umumnya ulama tetap tidak membedakan antara keduanya, meksi telah dilengkapi dengan terjemahan, tetap saja ada lafadz arabnya. Sehingga identitas ke-mushafan-nya tetap lekat tidak bisa dipisahkan.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-teks-khutbah-nikah-bahasa-arab-latin-dan-terjemahannya/

TANGGUNG JAWAB MANUSIA

TANGGUNG JAWAB MANUSIA

TANGGUNG JAWAB MANUSIA

TANGGUNG JAWAB MANUSIA
TANGGUNG JAWAB MANUSIA

Makna yang esensial dari kata ‘abdun ( hamba ) adalah ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan. Ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan manusia hanya layak diberikan kepada Allah, yang dicerminkan dalam ketaatan, kepatuhan, dan ketundukan pada kebenaran dan keadilan berdasarkan ketentuan Allah.

Seorang hamba

Dalam hubungan dengan Tuhan, manusia menempati posisi sebagai ciptaan, dan Tuhan sebagai pencipta. Posisi ini mempunyai konsekuensi adanya keharusan manusia menghambakan diri kepada Allah, dan dilarang menghamba pada dirinya dan hawa nafsunya. Kesediaan manusia untuk menghamba hanya kepada Allah dengan sepenuh hatinya, akan mencegah manusia pada penghambaan terhadap sesama manusia. Tanggung jawab ‘abdullah terhadap dirinya adalah memelihara iman yang dimiliki yang bersifat fluktuatif, yang dalam istilah Hadits Nabi Muhammad SAW adalah yaziidu wa nyanquushu (menguat dan melemah).

Tanggung jawab terhadap keluarga

Tanggung jawab terhadap keluarga merupakan lanjutan dari tanggung jawab terhadap diri sendiri, karena memelihara diri sendiri berkaitan dengan perintah memelihara iman keluarga. Oleh karena itu, dalam Al Qur’an dinyatakan dengan istilah quu anfusakum wa ahliikum naara ( jagalah dirimu dan keluargamu dari neraka ).

Allah dengan ajaran-Nya Al Qur’an menurut Sunnah Rasul , memerintahkan hamba-Nya ( Abdullah ) untuk berlaku adil dan ihsan. Oleh karena itu tanggung jawab hamba Allah adalah menegakkan keadilan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap keluarga. Dengan berpedoman pada ajaran Allah, seorang hamba berupaya mencegah kekejian moral dan kemungkaran yang mengancam diri sendiri dan keluarganya. Abdullah harus senantiasa melaksanakan shalat dalam rangka menghindarkan diri dari kekejian dan kemungkaran. Hamba Allah sebagai bagian dari ummat yang senantiasa berbuat kebajikan juga diperintahkan untuk mengajak yang lain untuk berbuat makruf dan mencegah yang munkar ( QS. 3 : Ali Imran : 103 ).

Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
Demikianlah tanggung jawab hamba Allah yang senantiasa tunduk dan patuh kepada Allah menurut Sunnah Rasulullah SAW.

Tanggung Jawab Manusia Sebagai Khalifah Allah

Manusia diserahi tugas kehidupan yang merupakan amanah Allah yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya. Tugas kehidupan yang dipikul manusia di muka bumi adalah tugas kekhalifahan, yaitu tugas kepemimpinan , wakil Allah di muka bumi untuk mengelola dan memelihara alam ciptaan Allah berdasarkan ketentuan Allah,

Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang kekuasaan . Manusia menjadi khalifah memegang mandat Tuhan untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan dirinya mengolah serta mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidupnya. Sebagai wakil Tuhan, Tuhan mengajarkan kepada manusia kebenaran dalam segala ciptaan-Nya dan melalui pemahaman serta penguasaan terhadap hukum-hukum kebenaran yang terkandung dalam ciptaan-Nya, manusia dapat menyusun konsep baru, serta melakukan rekayasa membentuk wujud baru dalam kebudayaan.

Sebagai khalifah

Sebagai khalifah, manusia diberi wewenang berupa kebebasan memilih dan menentukan, sehingga kebebasannya melahirkan kreativitas yang dinamis. Adanya kebebasan manusia di muka bumi adalah karena kedudukannya untuk memimpin, sehingga pemimpin tidak tunduk kepada siapapun, kecuali kepada Allah yang memberi kepemimpinan. Oleh karena itu, kebebasan manusia sebagai khalifah bertumpu pada landasan tauhidullah , sehingga kebebasan yang dimiliki tidak menjadikan manusia bertindak sewenang-wenang. Kebebasan manusia dengan kekhalifahannya merupakan implementasi dari ketundukan dan ketaatan. Ia tidak tunduk kepada siapapun kecuali kepada Allah, karena ia hamba Allah yang hanya tunduk dan taat kepada Allah.

Kekuasaan manusia sebagai wakil Tuhan dibatasi oleh aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh yang mewakilkannya, yaitu hukum-hukum Tuhan, baik yang tertulis dalam kitab suci Al Qur’an, maupun yang tersirat dalam kandungan alam semesta ( al-kaun ). Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakilinya adalah wakil yang mengkhianati kedudukan dan perannya, serta mengkhianati kepercayaan yang diwakilinya. Oleh karena itu, ia diminta pertanggung jawaban terhadap penggunaan kewenangannya di hadapan yang diwakilinya sebagaimana firman Allah dalam QS. 35 (Fathir) : 39.

Artinya : Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, Maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.
Dua peran yang dipegang manusia di muka bumi, sebagai khalifah dan ‘abdun , merupakan perpaduan tugas dan tanggung jawab yang melahirkan dinamika hidup, yang syarat dengan kreativitas dan amaliah yang selalu berpihak pada nilai-nilai kebenaran. Oleh karena itu hidup seorang muslim akan dipenuhi dengan amaliah, kerja keras yang tiada henti , sebab kerja bagi seorang muslim adalah membentuk amal shalih. Kedudukan manusia di muka bumi sebagai khalifah dan hamba Allah, bukanlah dua posisi yang bertentangan, melainkan satu kesatuan yang padu dan tak terpisahkan. Kekhalifahan adalah realisasi dari pengabdiannya kepada Allah yang menciptakannya. Dua sisi tugas dan tanggung jawab ini tertata dalam diri setiap muslim sedemikian rupa. Apabila terjadi ketidak seimbangan, maka akan lahir sifat-sifat tertentu, yang menyebabkan derajat manusia jatuh ke tingkat yang rendah, seperti firman Allah dalam QS. 95 (al-Tiin) :

Kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka) Dengan demikian, manusia sebagai khalifah Allah dan hamba Allah merupakan kesatuan yang saling menyempurnakan nilai kemanusiaan sebagai makhluk yang memiliki kebebasan berkreasi dan sekaligus menghadapkannya pada tuntutan kodrat yang menempatkan posisinya pada keterbatasan. Perwujudan kualitas kemanusiaan tidak terlepas dari konteks sosial budaya, atau dengan kata lain kekhalifahan manusia pada dasarnya diterapkan pada konteks individu dan sosial yang berporos pada Allah, seperti firman Allah dalam QS. 3 ( Ali Imran ) : 112. Artinya : Ketika dua golongan dari padamu[13] ingin (mundur) karena takut, Padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.

Baca juga:

MARTABAT MANUSIA

MARTABAT MANUSIA

MARTABAT MANUSIA

MARTABAT MANUSIA
MARTABAT MANUSIA

Manusia tidak berbeda dengan binatang dalam hal fungsi tubuh dan fisiologisnya. Fungsi kebinatangan ditentukan oleh naluri, pola-pola tingkah laku yang khas, yang ada gilirannya ditentukan oleh struktur syaraf bawaan. Semakin tinggi tingkat perkembangan binatang, semakin fleksibel pola tindakannya. Pada primate ( bangsa monyet ) yang lebih tinggi dapat ditemukan inteligensi, yaitu penggunaan fikiran guna mencapai tujuan yang diinginkan , sehingga memungkinkan binatang melampaui pola kelakuan yang telah digariskan secara naluri. Namun setinggi-tingginya perkembangan binatang, elemen-elemen dasar eksistensinya yang tertentu masih tetap sama. Manusia pada hakikatnya sama saja dengan makhluk hidup lainnya, yaitu memiliki hasrat dan tujuan. Ia berjuang untuk meraih tujuannya dengan didukung pengetahuan dan kesadaran . Perbedaan diantara keduanya terletak pada dimensi pengetahuan, kesadaran, dan tingkat tujuan. Di sinilah letak kelebihan dan keunggulan yang dimiliki manusia dibanding dengan makhluk lain.

Manusia sebagai salah satu makhluk yang hidup di muka bumi merupakan makhluk yang memiliki karakter paling unik. Manusia secara fisik tidak begitu berbeda dengan binatang. Sehingga para pemikir menyamakan dengan binatang. Letak perbedaan utama antara manusia dengan makhluk lainnya adalah dalam kemampuannya melahirkan kebudayaan. Kebudayaan hanya dimiliki oleh manusia, sedangkan binatang hanya memiliki kebiasaan-kebiasaan yang bersifat instingtif. Dibanding makhluk lainnya, manusia juga memiliki kelebihan dalam hal kemampuan bergerak dalam ruang apapun, baik di udara, darat, dan laut. Sedangkan binatang hanya mampu bergerak dalam ruang yang terbatas. Walaupun ada binatang yang mampu bergerak di darat dan di air (laut), namun tetap memiliki keterbatasan dan tidak dapat melampaui manusia. Mengenai kelebihan manusia atas makhluk lainnya dijelaskan dalam QS. 17 (al-Isra’) : 70.

Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan[4], Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

Di samping itu, manusia diberi akal fikiran dan qalb, sehingga dapat memahami ilmu yang diturunkan Allah, berupa Al Qur’an. Dengan ilmu manusia mampu berbudaya. Allah menciptakan manusia dalam keadaan yang sebaik-baiknya ( QS. 95: al-Tiin : 4 )

Artinya : Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .

Manusia bermartabat mulia, kalau mereka sebagai khalifah Allah tetap hidup berdasarkan ajaran Allah seperti disebutkan dalam QS. 6 (al-An’am) : 165.

Artinya : Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Oleh karena itu manusia akan selalu mulia dan dilebihkan dari makhluk lainnya sepanjang tetap memanfaatkan potensinya itu untuk mempertahankan kemuliaannya.
Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang sangat berbeda dengan makhluk lainnya di alam semesta ini. Ia memiliki karakter yang khas, bahkan dibandingkan dengan makhluk lain yang paling mirip sekalipun. Kekhasan inilah yang menurut Al Qur’an menyebabkan adanya konsekuensi kemanusiaan, diantaranya adalah kesadaran, tanggung jawab, dan pembalasan. Diantara karakteristik manusia adalah :

a. Aspek Kreasi

Apapun yang ada dalam tubuh manusia sudah dirakit dalam suatu tatanan yang terbaik dan sempurna. Hal ini bisa dibandingkan dengan makhluk lain dalam aspek penciptaannya. Mungkin banyak kesamaannya, tetapi tangan manusia lebih fungsional dari tangan simpanse, demikian pula organ-organ lainnya.

b. Aspek Ilmu

Hanya manusia yang punya kemampuan memahami lebih jauh hakikat alam semesta ini. Pengetahuan hewan hanya terbatas pada naluri dasar yang tidak bisa dikembangkan melalui pendidikan dan pengajaran. Manusia menciptakan kebudayaan dan peradaban yang terus berkembang.

c. Aspek Kehendak

Manusia memiliki kehendak yang menyebabkan bisa mengadakan pilihan dalam hidupnya. Makhluk lain hidup dalam satu pola yang telah baku dan tak akan pernah berubah . Para malaikat yang mulia tak akan pernah menjadi makhluk yang sombong atau maksiat.

d. Aspek Akhlak

Manusia adalah makhluk yang dapat dibentuk akhlaknya. Ada manusia yang sebelumnya baik, tetapi karena pengaruh lingkungan tertentu dapat menjadi penjahat, demikian pula sebaliknya. Oleh sebab itu lembaga pendidikan diperlukan untuk mengarahkan kehidupan generasi yang akan datang agar lebih baik.
Jika manusia hidup dengan ilmu selain Allah, maka manusia tidak dapat mempertahankan martabatnya yang mulia. Dalam keadaan demikian, manusia disamakan dengan binatang. Mereka itu seperti binatang ( ulaaika kal an’am ), bahkan lebih buruk lagi dari binatang ( bal hum adhad ). Dalam keadaan demikian, martabat manusia menjadi rendah seperti dijelaskan dalam QS. 95 (al-Tiin) : 4.

Sumber: https://www.catatanmoeslimah.com/2016/05/30-doa-doa-harian-terlengkap-beserta-artinya.html

HAKIKAT MANUSIA

HAKIKAT MANUSIA

HAKIKAT MANUSIA

HAKIKAT MANUSIA
HAKIKAT MANUSIA

Kehadiran manusia

Kehadiran manusia pertama tidak terlepas dari asal-usul kehidupan di alam semesta. Asal-usul manusia menurut ilmu pengetahuan tidak bias dipisahkan dari teori tentang spesis baru yang berasal dari sepsis lain yang telah ada sebelumnya melalui proses evolusi. Teori evolusi yang diperkenalkan Darwin pada abad XIX telah menimbulkan perdebatan , terutama di kalangan gereja dan ilmuwan yang berpaham teori kreasi khusus. Setelah teori itu diekstrapolasikan oleh para penganutnya sedemikian rupa, sehingga seolah-olah manusia berasal dari kera. Pada hal Darwin tidak pernah mengemukakan hal tersebut, walaupun taksonomi manusia dan kera besar berada pada super famili yang sama, yaitu hominoidae.

Darwin mengetengahkan banyak fakta yang tampaknya lebih berarti dari pada pendahulunya. Darwin mengemukakan teori mengenai asal-usul sepsis melalui sarana seleksi alam atau bertahannya ras-ras yang beruntung dalam memperjuangkan dan mempertahankan kehidupannya. Teori Darwin memuat dua aspek. Aspek pertama bersifat ilmiah, namun ketika diungkapkan dan dilaksanakan, ternyata aspek ilmiahnya sangat rapuh. Aspek kedua bersifat filosofis yang diberi penekanan oleh Darwin sangat kuat dan diungkapkan secara jelas. Teori evolusi tidaklah segalanya, bahkan Darwin sendiri menyadari seperti diungkapkannya:

“Tapi aku mempercayai seleksi alam, bukan karena aku dapat membuktikan, dalam setiap kasus, bahwa seleksi alam telah mengubah satu sepsis menjadi sepsis lainnya, tapi karena sepsis alam mengelompokkan dan menjelaskan dengan baik ( menurut pendapatku ) banyak fakta mengenai klasifikasi, embriologi, morfologi, organ-organ elementer, pergantian dan distribusi geologis”.
Evolusi manusia menurut ahli paleontologi dapat dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat evolusinya, yaitu:

a. Tingkat pra manusia yang fosilnya ditemukan di Johanesburg, Afrika Selatan pada tahun 1924 yang dinamakan fosil Australopithecus.
b. Tingkat manusia kera yang fosilnya ditemukan di Solo pada tahun 1891 yang disebut Pithecanthropus Erectus.
c. Tingkat manusia purba, yaitu tahap yang lebih dekat kepada manusia modern yang sudah digolongkan genus yang sama, yaitu homo walaupun spesiesnya dibedakan. Fosil jenis ini ditemukan di Neander, karena itu disebut homo Neanderthalensis dan kerabatnya ditemukan di Solo ( Homo Soloensis ).
d. Tingkat manusia modern atau homo sapiens yang telah pandai berfikir, menggunakan otak dan nalarnya.

makna manusia

Mencari makna manusia dilakukan melalui ilmu pengetahuan . Para ahli mendefinisikannya sesuai dengan bidang kajian ( obyek material )ilmu yang ditekuninya. Membicarakan tentang manusia dalam pandangan ilmu pengetahuan sangat tergantung pada metodologi yang dipergunakan dan terhadap filosofi yang mendasari. Para penganut teori Psikoanalisis menyebut manusia sebagai Homo Volens ( manusia berkeinginan ). Menurut aliran ini, manusia adalah makhluk yang memiliki perilaku interaksi antara komponen biologis ( Id ), psikologis (ego), dan social ( super ego ). Di dalam diri manusia terdapat unsure animal ( hewan ) , rasional ( akal ), dan moral ( nilai ).

penganut teori behaviorisme

Para penganut teori behaviorisme menyebut manusia sebagai homo mekanicus (manusia mesin). Behavior lahir sebagai reaksi terhadap Introspeksionisme ( aliran yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan subyektif ) dan psikoanalisis ( aliran yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak ). Behavior menganalisis perilaku yang tampak saja. Menurut aliran ini, segala tingkah laku manusia terbentuk sebagai hasil proses pembelajaran terhadap lingkungannya, tidak disebabkan aspek rasional dan emosionalnya.

penganut teori kognitif

Para penganut teori kognitif menyebut manusia sebagai homo sapiens ( manusia berfikir ). Menurut aliran ini, manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungan , tetapi sebagai makhluk yang selalu berusaha memahami lingkungannya, makhluk yang selalu berfikir. Penganut teori kognitif mengecam pendapat yang cenderung menganggap pikiran itu tidak nyata karena tampak tidak mempengaruhi peristiwa. Padahal berfikir, memutuskan, menyatakan, memahami dan sebagainya adalah fakta kehidupan manusia.

penganut teori Humanisme

Para penganut teori Humanisme menyebut manusia sebagai homo ludens ( manusia bermain ). Aliran ini mengecam aliran psikoanalisis dan behaviorisme, karena keduanya tidak menghormati manusia sebagai manusia. Keduanya tidak dapat menjelaskan aspek eksistensi manusia yang positif dan menentukan, seperti cinta, krealitivitas, nilai, makna, dan pertumbuhan pribadi . Menurut humanisme , manusia berperilaku untuk mempertahankan , meningkatkan, dan mengaktualisasikan dirinya. Perdebatan mengenai siapa manusia dikalangan para ilmuwan terus berlangsung dan tidak menemukan kesepakatan yang tuntas. Manusia tetap menjadi misteri yang besar dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan sampai sekarang .

Sumber: https://www.catatanmoeslimah.com/2018/09/kumpulan-bacaan-sholawat-nabi-muhammad-saw.html

Peran Wanita Dalam Melahirkan Pemimpin Ummat

Peran Wanita Dalam Melahirkan Pemimpin Ummat

Peran Wanita Dalam Melahirkan Pemimpin Ummat

Peran Wanita Dalam Melahirkan Pemimpin Ummat
Peran Wanita Dalam Melahirkan Pemimpin Ummat

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas, tentang peran wanita dalam melahirkan calon pemimpin umat masa depan. Mendefinisikan “Wanita” akan banyak memunculkan defenisi atau aturan-aturan tentang wanita itu sendiri tergantung dari sudut pandang mana kita berangkat dan akan mengarah kemana teori yang akan kita angkat, lebih jelasnya mari kita simak berikut ini.

Satu hal yang pasti bahwa wanita adalah salah satu bagian dari kita “al-ins” (insan/manusia). Sadar atau tidak, setiap insan adalah pemimpin, paling tidak memimpin diri sendiri. Kitalah yang akan mengarahkan seluruh potensi diri menuju kebaikan dan kebatilan. Kita pula yang akan menuntun seluruh anggota tubuh pada amalan surga atau neraka. Dan tentu saja semua itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Rabbul Izzati.

Kepemimpinan menjadi sebuah sunnatullah

Rasulullah SAW menegaskan: “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kepemimpinan akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari).

Keterpurukan umat saat ini merupakan bagian dari kepemimpinan yang tidak amanah. Kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan ketidakberdayaan menjadi satu paket dengan moral pemimpin yang menyia-nyiakan tugasnya. Dan demikianlah ketentuan Allah SWT ketika syariatnya mulai ditinggalkan.
Amanah besar tentu saja membutuhkan pengorbanan yang tidak kecil. Amanah kepemimpinan menjadi agenda utama bagi kaum muslimin saat ini paling tidak memimpin diri sendiri karena tidak mungkin memimpin yang besar jika diri sendiri terbengkalai.

Membangun suatu bagunan, setinggi dan sebesar apapun bangunan tersebut, lebih mudah ketimbang membangun manusia. Disamping jasmani, manusia memiliki akal, hati, tabiat, dan keinginan-keinginan yang berbeda-beda. Karena itu, sekali lagi, membangun manusia bukanlah pekerjaan yang mudah.

Membangun manusia agar berkualitas, cerdas akalnya dan ruhaniyahnya, membutuhkan ilmu, ketakwaan, kesabaran, pengalaman dan terutama keteladanan, bukan dengan sekedar retorika penyampaian pelajaran.

Karena itu, tugas para pendidik bukanlah sesuatu yang ringan. Memerlukan kelapangan dada, berbagai siasat, dan waktu yang agak lama sehingga tugas dan tanggung jawab ini membutuhkan ekstra kesabaran. Mereka itu mendapat amanah dari umat untuk membangun generasi yang diidamkan. Umat menyerahkan generasinya dalam wujud anak-anak agar mereka menjadikannya sebagai orang ; Menyerahkannya sebagai bejana kosong agar diisi dengan ilmu ; Menyerahkannya sebagai kata-kata kosong agar diisi dengan makna-makna; dan seterusnya.

Kemana mereka diserahkan?

Pengendalian dan pemeran utama terbentuknya generasi terbaik berada di puncak kaum wanita yang dalam kehidupan mereka memiliki tiga peranan, yaitu anak, ibu, dan istri.

Wanita yang peranannya sebagai seorang ibu memiliki kewajiban yang sangat suci dan mulia karena wanita adalah pendidik pertama. Dikatakan dalam sebuah syair, “Ibu adalah madrasah. Jika anda persiapkan, berarti anda mempersiapkan generasi yang harum namanya.” Ibu adalah guru yang penting pengaruhnya dan menjangkau seluruh dunia. Pada ibulah anak pertama kali mengenal dekapan kasih sayang, bersosialisasi, dan berinteraksi. Ibulah yang memberikan perhatian penuh kepada anak-anak dan mendidik mereka dengan baik, sehingga nantinya akan muncul tokoh-tokoh yang alim, mempunyai pemikiran yang murni, mau berbakti serta siap berjuang demi memela kepentingan umat.

Oleh karna itu seorang ibu harus memiliki kriteria sebagai berikut:

1. Tidak pernah melalaikan kewajiban-kewajiban syariat karna suatu sebab apapun meskipun hal itu untuk
mencari keridhaan suami sekalipun.
2. Berhukum dan beramal berdasarkan syariat, dalam setiap perbuatan maupun pembicaraannya.
3. Menjaga amanah, menanamkan ruh jihad dalam jiwa anak-anaknya.
4. Hatinya dipenuhi kecintaan kepada allah dan rasulnya, mengajari dan mengenalkan anak kepada
Rabb/pencipta mereka.
5. Berhati-hati agar perkataannya tidak menyelisihi perbuatannya.

Ibu adalah tiang utama yang diandalakan oleh seluruh umat islam dalam mendidik anak-anak. Dia haruslah seorang yang berakal, pintar, arif, bijaksana, terpelajar dan sempurna. Karena biar bagaimana mungkin mengharapkan kebaikan pada anak-anak kita kalau mereka besar dalam pangkuan wanita-wanita jahil. Mungkinkah diharapkan kesempurnaan mereka apabila mereka munyusu dari wanita yang kurang sempurna?

Kotornya air bermula dari kotornya tanah dan kotornya kaum bermula dari kotornya pernikahan. Barangsiapa yang dibesarkan dalam lubang ular, maka yang akan menonjol dalam dirinya adalah tabliat ular.

Akhlak itu ibaratkan tanaman. Apabila dia selalu disiramkan dengan air kemuliaan, maka dia akan menjadi akhlak yang mulia dan sebaliknya.

Ibu yang baik akan melahirkan keluarga yang baik, keturunan yang sholih dan berguna bagi umat ini, sehingga untuk mewujudkannya diperlukan perhatian dan majahadah yang besar seorang ibu (wanita) dalam membina dan mendidik anak-anaknya.

Tiga Faktor Utama
Ada tiga faktor utama yang harus diperhatikan dalam mendiddik anak-anak kita supaya nantinya bisa melahirkan generasi yang terbaik dan menjadi pemimpin bagi umat ini.

1. Pendidik jasmani

Melalui pendidikan jasmani, kita dapat memperhatikan gizi anak-anak, kesehatan dan kebersihan mereka, serta melatih mereka melakukan olahraga ringan yang dapat memperkuat otot-otot dan membangun anggota tubuh mereka. Olahraga diluar rumah juga sangat penting agar anak-anak dapat menghirup udara segar yang sangat berguna bagi kelancaran darah sehingga tubuh mereka tetap bugar.

mengingat kondisi tubuh sangat berpengaruh terhadap akal, kepentingan pendidikan jasmani menempati urutan pertama. Akan sangat membahayakan bagi individu dan umat, jika ibu tidak memperhatikan pendidikan jasmani anaknya dalam tahap perkembangan. Anak yang tumbuh dalam kondisi fisik yang lemah akan mudah sekali terserang penyakit dan wabah sehingga menghambatnya mencapai kesuksesan sehingga kehidupannya selalu bergantung pada keluarga dan umat ini.

2. Pendidikan Akal

Bayi yang lahir dibekali dengan naluri, kecendrungan dan berbagai macam kesiapan alamiah. Mengingat rumah adalah tempat pertama bagi pendidikan anak-anak, maka seorang ibu haruslah mendayagunakan naluri anak tersebut untuk kepentingan anak itu sendiri dan untuk kepentingan masyarakatnya, dengan memperkenalkan keindahan ciptaan Allah, menanamkan perasaan takut kepada Allah dan merasa selalu berada dalam pengawasan-NYA, sebab tidak ada yang tersembunyi dari pantauan Allah, apa saja yang ada dilangit dan dibumi. Semua akan diperhitungkan dihadapan Allah, meski berapapun kecilnya. InsyaAllah dengan pendidikan yang seperti ini, akan lahirlah generasi yang bisa memikul amanah apapun dengan penuh tanggung jawab.

3. Pendidikan Akhlak

Pendidikan akhlak dapat dilakukan dengan menanamkan prinsip-prinsip akhlak mulia dalam jiwa anak-anak, seperti takut kepada Allah dan berbuat untuk mencapai ridha-NYA, misalnya dengan mengajarkan ketaatan, kejujuran, amanah (dapat dipercaya), Penyantun terhadap orang yang lemah, menghormati orang yang lebih tua, pengasih kepada pembantu, sayang kepada binatang serta sifat-sifat terpuji lainnya.

Kaum ibu dianjurkan untuk sering-sering menceritakan sejarah kehidupan para Nabi agar tertanam dalam benak anak-anak bentuk kesempurnaan akhlak yang akan membuat mereka menjadi orang-orang yang ikhlas dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya serta jauh dari segala sesuatu yang merusak martabat mereka.
Namun, pendidikan ini tidak akan terlihat pengaruhnya atau tidak akan berbekas, kecuali sang ibu juga memiliki akhlak yang baik.
Seorang wanita yang agamanya, akhlaknya serta yang melahirkan generasi muslim seperti ini, ia tercipta untuk menjadi calon penghuni surga.

Ketahuilah para muslimah! sebagian besar penguni surga adalah kaum wanita. itu merupakan karunia Allah, meskipun banyak dari mereka yang berbuat maksiat dan dosa, namun Allah Maha Penerima Taubat. Karna itu, Wahai muslimah, bergegaslah kembali kejalan Allah, memperbaiki kualitas pribadi kita supaya bisa melahirkan generasi mudah yang bisa memimpin umat ini dan melanjutkan shaff perjuangan islam karna ditangan para pemudalah kebangkitan islam ini akan terwujud. InsyaAllah.

Sumber: https://www.catatanmoeslimah.com/

Pekerjaan yang Baik dan Mulia Menurut Rasulullah SAW

Pekerjaan yang Baik dan Mulia Menurut Rasulullah SAW

Pekerjaan yang Baik dan Mulia Menurut Rasulullah SAW

Pekerjaan yang Baik dan Mulia Menurut Rasulullah SAW
Pekerjaan yang Baik dan Mulia Menurut Rasulullah SAW

Hadis Pekerjaan Baik dan Mulia

Apa pekerjaan yang paling baik dan mulia? Melalui empat hadis shahih ini Rasulullah saw menerangkannya kepada kita dari Zaid bin Umair dari pamannya ia berkata,

Rasulullah saw ditanya pekerjaan apakah pekerjaan yang paling baik? Beliau menjawab pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan sebuah pekerjaan yang baik. (HR. Baihaqi dan Al Hakim)

Dalam riwayat lain

Rasulullah ditanya tentang pekerjaan yang paling utama, beliau menjawab, perniagaan yang baik dan pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri. (HR. Al Ahzar dan Thabrani)

Dalam riwayat Ibnu Umar, Rasulullah saw ditanya, pekerjaan apakah yang paling utama? Beliau menjawab, pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan sebuah perniagaan yang baik. (HR. Thabrani)

Rasulullah ditanya, Wahai Rasulullah pekerjaan apakah yang paling baik? Beliau menjawab pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap perniagaan yang baik. (HR. Ahmad dan Al Ahzar)

Keempat hadis ini meskipun kadang Rasulullah ditanya istilah pekerjaan yang paling baik dan kadang ditanya dengan istilah pekerjaan yang paling utama, ternyata jawaban beliau hampir sama yaitu pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri dan perniagaan yang paling baik.

Pekerjaan dengan tangannya sendiri maksudnya adalah pekerjaan yang dilakukan seseorang tanpa meminta-minta. Pekerjaan itu bisa berupa profesi seperti tukang batu, tukang kayu, tukang besi, petani, pedagang, pencari kayu bakar. Profesi dokter, arsitek dan sejenisnya pada zaman sekarang termasuk ke dalam hadis ini.
Sedangkan perniagaan yang paling baik maksudnya adalah perniagaan atau perdagangan yang bersih dari kecurangan. Baik kecurangan timbangan maupun kecurangan menyembunyikan cacat barang yang dijual.

Maka dalam islam pekerjaan apapun baik. Pekerjaan apapun bisa menjadi pekerjaan paling baik asalkan halal dan tidak meminta-minta. Baik menjadi karyawan konvensional, pebisnis maupun pengusaha semua punya peluang yang sama.

Bekerja Dengan Barang Najis dan Haram

Pada zaman ini kita sering dihadapkan pada pekerjaan-pekerjaan ekstemporer. Akibat dari perkembangan peradaban manusia dan kemajuan pengetahuan dan teknologi. Kegiatan perekonomian dan profesi yang menyertainya kadang-kadang menyerempet dengan barang-barang najis dan haram, seperti profesi salon hewan, tukang ojeg di lokalisasi pelacuran dll. Dalam hukum islam persoalan profesi ini termasuk persoalan dicela, karena menjual jasa yang berupa tenaga dan pikiran dengan imbalan tertentu, sehingga prinsip-prinsip umum dalam persoalan ijarah atau jasa mirip dengan prinsip-prinsip umum dalam perdagangan. Apa yang dilarang dalam jual beli juga dilarang dalam ijarah. Berdasarkan hadis Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya Allah mengharamkan menjual khamr, bangkai, babi dan patung. ”Rasulullah ditanya : “Wahai Rasulullah, bagaimana pandangan anda mengenai lemak bangkai, yang banyak digunakan oleh manusia untuk mengolesi perahu, meminyaki kulit dan menyalakan lampu?” Rasulullah menjawab : “Allah membinasakan oang yahudi karena ketika Allah mengharamkan lemak bangkai, mereka mencairkannya (menjadikannya minyak) kemudian menjual dan memakai hasil dari penjualannya.” (HR. Jama’ah).

Mengapa benda-benda itu haram dijual? Ada dua pendapat, pertama karena kenajisan benda itu sendiri dan kedua karena tidak bermanfaat. Tidak bermanfaat maksudnya benda-benda itu sendiri secara umum menyebabkan mudharat, baik karena mengganggu jiwa, kesehatan maupun kegiatan ibadah.

Hukum Menggunakan Benda Najis Untuk Keperluan Selain Di Makan atau Di Minum

Dari dua pendapat itu, pendapat kedua bisa lebih diterima karena, pertama Rasulullah saw pernah membolehkan untuk menggunakan benda najis untuk keperluan selain dimakan atau diminum. Sebagaimana hadis Nabi saw.

“Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menemukan bangkai kambing budaknya, Maimunah. Maka Rasulullah berkata: “Mengapa kalian tidak mengambil kulitnya dan kemudian menyamaknya sehingga mereka bisa memanfaatkannya?” mereka menjawab : “Wahai Rasulullah, itu adalah bangkai.” Nabi menjawab : “Sesungguhnya yang diharamkan hanyalah memakannya.” (HR. Muslim).

Ibnu Umar pernah ditanya tentang bangkai tikus yang jatuh kedalam minyak, maka Ibnu Umar menjawab, Gunakan minyak itu untuk lampu penerangan dan gunakan untuk meminyaki kulitmu. Alasan kedua Rasulullah juga membolehkan memanfaatkan anjing untuk membantu kemaslahatan manusia. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis yang artinya:

“Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam melarang makan uang hasil penjualan kucing dan anjing, kecuali anjing buruan.” (HR. Nasa’i)

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/