Hukum Yang Berkaitan Dengan Istihadhah

Hukum Yang Berkaitan Dengan Istihadhah

Hukum Yang Berkaitan Dengan Istihadhah

Hukum Yang Berkaitan Dengan Istihadhah
Hukum Yang Berkaitan Dengan Istihadhah

 

Pengertian Istihadhah

Istihadhah ialah mengalirnya darah bukan pada waktu kebiasaannya secara banyak dari sebuah saluran tertentu. Wanita yang mengalami istiha¬dhah masalahnya cukup rumit, karena kemiripan darah haid dengan darah istihadhah.

Wanita yang darahnya keluar terus-menerus atau lebih sering (ia harus memilah), darah mana yang dianggapnya haid, dan darah mana yang dianggapnya istihadhah, yang karenanya ia tidak boleh meninggalkan puasa dan shalat. Karena, wanita yang sedang istihadhah dianggap sama, menurut hukum fiqih, dengan wanita suci.

Atas dasar ini, wanita yang mengalami istihadhah itu ada tiga kriteria:

Pertama

Wanita itu mengenali kebiasaannya sebelum terkena istihadhah. Umpamanya, sebelum terkena istihadhah, masa haidnya lima atau delapan hari pada awal atau pertengahan bulan. Dia kenali betul jumlah hari dan waktu datangnya haid. Wanita seperti ini meninggalkan shalat dan puasa sejak dan sejumlah hari kebiasaannya sebelum terkena istihadhah. Dan, selama hari-hari kebiasaannya itu ia dianggap haid dan berkonsekwensi hukum seperti halnya wanita haid. Setelah habis masa kebiasaannya itu, ia wajib mandi dan melakukan shalat, dan menganggap darah yang tersisa sebagai darah istihadhah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw. kepada Ummu Habibah:

“Berdiamlah diri sejumlah hari haidmu (yang telah kamu kenali itu). Setelah itu mandilah dan lakukanlah shalat”

Dan sabda beliau kepada Fathimah binti Abu Hubaisy:

“(Darah istihadhah itu) sesungguhnya hanyalah darah yang memancar dari salah satu saluran darah, bukan darah haid. Maka, jika datang hari haidmu (yang telah kamu kenali itu), tinggalkanlah shalat”

Kedua

Wanita yang tidak mengenali kebiasaan kapan dan berapa jumlah hari haidnya, akan tetapi darahnya yang keluar dapat dibedakan. Kadangkala memiliki kriteria darah haid, seperti kehitam-hitaman, kental dan berbau menyengat. Sementara di waktu lain tidak memiliki kriteria darah haid, seperti merah segar tak berbau dan tidak pula kental. Dalam kondisi ini, masa keluarnya darah yang berkriteria darah haid, harus ia anggap sebagai masa haid. Di masa itu ia berdiam diri dan tidak shalat maupun puasa. Saat jenis darah yang keluar itu berobah lain, haruslah ia anggap itu darah istihadhah. Setelah akhir keluarnya darah berkriteria haid itu, ia wajib mandi, berikutnya shalat dan puasa, dan ia harus mantap dirinya telah suci. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw. kepada Fathimah binti Abu Hubaisy:

“Jika yang keluar itu darah haid, yaitu kehitam- hitaman seperti yang dikenali,, maka janganlah kamu shalat Namun, jika yang keluar itu adalah yang lain, maka berwudhu’lah dan shalatlah. “

Di dalam hadits ini terdapat pelajaran. Yaitu, bahwa wanita yang sedang istihadhah hendaknya yang dijadikan penentu adalah jenis dan warna darah. Dengan demikian ia dapat membedakan antara darah haid dan darah lainnya.

Ketiga

Wanita yang tidak mempunyai kebiasaan hari haid yang dikenalinya dan sulit baginya mengenali jenis darah yang dapat membedakan antara darah haid atau bukan. Wanita semacam ini hendaknya berdiam diri pada hari-hari umumnya masa haid, yaitu enam atau tujuh hari di setiap bulan. Karena, itulah masa kebanyakan wanita haid. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw. kepada Hamnah binti Jahsy:

“Sesungguhnya istihadhah itu tak lain adalah gangguan syetan. Maka, berlakulah sebagaimana orang haid selama enam atau tujuh hari, kemudian mandilah. Jika kamu telah suci, lakukanlah shalat selama dua puluh empat atau dua puluh tiga hari, dan puasalah serta shalatlah (baik fardhu maupun sunnah). Hal itu sah dan cukup bagimu. Demikianlah lakukan (setiap bulan) sebagaimana halnya wanita haid.”

Kesimpulannya

bahwa wanita yang mengenali kebiasaan masa haidnya, harus merujuk kepada kebiasaannya. Wanita yang dapat membedakan jenis darah haid atau bukan, harus mengikuti pengalamannya itu. Sedang wanita yang tidak mengenali kebiasaan masa haidnya dan tidak pula dapat membedakan jenis darahnya yang keluar, ia harus menentukan sendiri untuk masa haidnya enam atau tujuh hari. Ini merupakan pemaduan antar ketiga ajaran Sunnah Rasulullah Saw. tentang wanita yang mengalami istihadhah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Tanda-tanda haid yang disebutkan dan dipedomani oleh para ulama ada tiga:

Pertama: Kebiasaan

Kebiasaan inilah tanda yang terkuat. Karena, pokok masalah yang harus dititikberatkan adalah haid itu sendiri, bukan lainnya.

Kedua: Pembedaan jenis darah

Karena, darah kehitam-hitaman dan kental lagi berbau tak sedap adalah lebih layak disebut darah haid ketimbang darah merah segar.

Ketiga: Mengikuti kebiasaan umumnya wanita

Karena, kaidah yang menjadi pedoman adalah, menge¬lompokkan sesuatu yang sendirian kepada yang lebih umum dan lebih banyak. Ketiga tanda ini memiliki dasar as-Sunnah dan akal”. Selanjutnya Ibn Taimiyah menyebutkan tanda-tanda lainnya yang disebut oleh para ulama fiqih.

Adapun yang harus dilakukan oleh seorang wanita yang mengalami istihadhah, manakala dihukumi suci adalah sebagai berikut: Ia wajib mandi pada akhir masa haid yang diperkirakannya itu, seperti yang telah dijelaskan di atas.
Ia harus membasuh farji (vagina)-nya untuk menghilangkan cairan yang keluar. Hal itu harus dilakukan setiap menjelang akan shalat. Hendaknya ia meletakkan kapas atau semacamnya di vagina itu yang dapat menahan cairan yang keluar dan membalutkan pembalut yang dapat menahannya agar tidak lepas. Kemudian berwudhu saat masuk waktu shalat. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Saw. tentang wanita yang sedang istihadhah:

“Ia (wanita yang sedang istihadhah itu) meninggalkan shalat pada hari-hari haidnya, kemudian mandi dan berwudhu pada setiap akan shalat.
(Hadits riwayat Abu Dawud, Ibn Majah dan at-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata Hadits ini adalah hadits hasan .

Rasulullah Saw. bersabda:

“Aku jelaskan kepadamu kapas semacam ini urtuk kamu gunakan sebagai penyumbat tempat (vagina) itu.”

Dapat juga menggunakan bahan-bahan pembalut khusus yang ada di zaman sekarang.

Demikian uraian tentang Hukum Yang Berkaitan Dengan Istihadhah , semoga barokah. Amiin.

Baca Juga: 

Hukum Aborsi Dalam Islam

Hukum Aborsi Dalam Islam

Hukum Aborsi Dalam Islam

Hukum Aborsi Dalam Islam
Hukum Aborsi Dalam Islam

Wahai saudariku wanita muslimah, berdasarkan tuntunan syari’at, Anda mengemban amanah terhadap kehamilan yang Allah ciptakan dalam rahim Anda. Maka janganlah Anda menyembunyikan itu. Allah berfirman:

“Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahim mereka, jika mereka benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhi¬rat. ” (QS. Al-Baqarah: 228).

Janganlah sampai merekayasa untuk menggugurkan kandungan dan terbebas darinya dengan cara apapun. Sesungguhnya Allah memberi rukhshah (keringanan) bagi manusia untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan, jika puasa memberatkan para wanita saat hamil, atau puasa itu membahayakan kehamilannya.

Praktik-praktik aborsi

yang terjadi secara hampir merata di zaman ini adalah praktik yang diharamkan. Jika kehamilan itu sudah masuk masa ditiupkannya ruh pada janin dan mati oleh sebab aborsi, maka hal itu dianggap pembunuhan nyawa yang diharamkan oleh Allah untuk dibunuh secara tidak haq. Dengan demikian ia terkena sanksi pidana berupa kewajiban membayar diyat (denda atas tindak pembunuhan atau melukai) yang nilainya telah ditentukan. Atau berupa kewajiban membayar tebusan, menurut sebahagian ulama, dengan memerdekakan seorang hamba sahaya mukmin. Jika tidak mendapatkan itu, ia harus berpuasa dua bulan berturut-turut. Sebagian ulama menyebut praktik semacam ini sebagai mau ‘udah sughra jenis ringan dari mengubur bayi hidup-hidup).

Syekh Muhammad bin Ibrahim

berkata dalam Majmu’ Fatawa-nya, Juz:11 hal.151 : “Upaya menggugurkan kandungan adalah tidak boleh, selama belum jelas kematiannya. Jika nyata kematiannya, hal itu boleh”.

Majlis Hai’at Kibar al-‘Ulama’ (Riyadh, Saudi Arabia) mengeluarkan Surat Keputusan Fatwanya no: 140, Tanggal 20/6/1407 H. sebagai berikut:

Tidak boleh menggugurkan kandungan, sejak fase pertama hingga berikutnya, kecuali ada alasan yang dibenarkan oleh syari’at, dan itupun hanya boleh dalam batas lingkup yang sangat sempit. Jika kandungan itu dalam fase empat puluh hari pertama, sedang alasan penggugurannya adalah lantaran khawatir menghadapi kesulitan memelihara anak, atau lantaran takut tidak mampu memikul biaya kehidupan keseharian dan pendidikan mereka, atau demi masa depan mereka, atau merasa cukup dengan anak yang ada dari dua mempelai itu, maka ini tidak boleh.

Tidak boleh menggugurkan kandungan jika telah menjadi ‘alaqah (cairan rekat) atau mudhghah (segumpal daging) sebelum tim medis yang terper- caya memutuskan bahwa kehamilan itu, jika berlanjut, akan membahayakan keselamatan ibunya, yaitu dikhawatirkannya berdampak kematiannya jika berlanjut, maka boleh menggugurkannya setelah berbagai sarana dan upaya medis untuk menepis bahaya itu. Setelah fase ketiga (empat puluh hari yang ketiga), yaitu setelah sempurna empat bulan kandungan, tidak boleh menggugurkannya, sebelum tim medis spesialis terpercaya memutuskan bahwa tetapnya keberadaan janin di perut ibu akan berdampak kematiannya. Hal itu pun setelah berbagai sarana dan upaya medis untuk menyelamatkan nyawanya. Rukhshah (keringanan hukum) dibolehkannya mengambil tindakan medis untuk pengguguran ini hanyalah dengan syarat-syarat tadi. Hal ini untuk tujuan daf’an li a ‘zham ad-dhararain wa jalban li ‘uzhma al-maslahatain (mencegah bahaya yang terbesar dari dua macam bahaya dan mengambil kemaslahatan yang terbesar dari dua macam kemaslahatan).

Majlis Hai’at Kibar al-‘Ulama

seiring mengeluarkan Keputusan Fatwanya ini, mewasiatkan untuk ber-taqwa kepada Allah dan berlaku cermat penuh kehati-hatian dalam mengambil tindakan untuk masalah ini. Allah adalah maha penolong. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad Saw., sanak keluarga dan para shahabat beliau.

Dalam kitab Risalah fi ad-Dima’ at-Thabi ‘iyyah lin- Nisa’ oleh Syekh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin, beliau menyebutkan: Apabila tujuan pengguguran itu adalah memusnahkannya, jika hal itu setelah ditiupkannya ruh padanya, maka, tanpa diragukan lagi, adalah haram hukumnya. Karena, hal itu adalah menghilangkan nyawa secara tidak sah. Sedangkan menghilangkan nyawa yang diharamkan untuk dibunuh adalah haram berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah serta ijma’.

Imam Ibn al-Jawzi

dalam kitabnya Ahkam an-Nisa’ hal. 108 dan 109, mengatakan: Nikah disayri’atkan untuk memperoleh anak, dan tidaklah setiap sperma dapat menjadi anak. Karena itu, jika telah berbentuk, berarti telah tercapai tujuan itu. Maka, kesengajaan menggugurkan adalah menyalahi hukum. Namun, jika hal itu dilakukan pada permulaan fase kehamilan, maka berarti sebelum ditiupkannya ruh padanya, itu pun mengandung dosa besar. Karena, embrio itu terus tumbuh berkembang menuju kesempurnaan. Hanya saja, pengguguran di fase itu lebih ringan dosanya ketimbang di fase setelah ditiupkannya ruh. Jika wanita itu sengaja menggugurkan janin setelah memiliki ruh, maka hal itu sama dengan membunuh seorang mu’min. Allah berfirman:

“Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup- hidup itu ditanya, atas dosa apakah ia dibunuh”.(QS. At-Takwir: 8-9).

Semoga Allah senantisa menjaga wanita-wanita muslimah, dan selalu bertaqwa kepada Allah. Jangan sampai berani melakukan perilaku dosa semacam ini karena tujuan apapun. Dan, jangan sampai tertipu oleh propaganda-propaganda yang menyesatkan dan tradisi bathil yang tidak bersandar pada akal sehat maupun Agama.

Demikian uraian kami tentang Hukum Aborsi , semoga bermafaat dan barokah. Amiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/

Pengertian dan Usia Haid

Pengertian dan Usia Haid

Pengertian dan Usia Haid

Pengertian dan Usia Haid
Pengertian dan Usia Haid

 

Haid Menurut Bahasa

Pengertian dan usai haid secara lughah (bahasa) bertarti : as-sayalan (mengalir).

Haid Menurut Istilah

Sedangkan menurut definisi syara’ adalah: darah yang keluar dari kedalaman rahim wanita dalam waktu-waktu tertentu, bukan karena penyakit atau karena benturan kecelakaan. Haid merupakan sesuatu yang di kodratakan oleh Allah Swt. bagi kaum wanita. Diciptakan-Nya ia di dalam rahim untuk memenuhi kebutuhan makan janin yang berada di rahim pada saat masa kehamilan, kemudian ia berubah menjadi air susu seusai kelahiran. Maka, jika wanita tidak hamil dan tidak menyusui, darah itu tidak tersalurkan kegunaanya tadi. Dengan demikian darah itu keluar pada waktu-waktu tertentu, yang dikenali melalui kebiasaan atau putaran bulanan yang di sebut dengan darah haidh.

Kebanyakan usia termuda wanita mulai haid adalah umur sembilan tahun , berlanjut sampai umur lima puluh tahun.

Dalil-Dalil

Allah Swt. berfirman: “Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. At-Thalaq: 4)

Maksud dari “perempuan-perempuan yang tidak haid lagi” (monopause) adalah: wanita-wanita yang telah berusia lima puluh tahun atau lebih, yang sudah tidak haid lagi. Sedangkan maksud dari “perempuan-perempuan yang tidak haid” adalah remaja putri yang belum mencapai usia sembilan tahun.

Penjelasan

Akan tetapi tidak menutup kemungkingan ada remaja putri yang belum berusia sembilah tahun tetapisudah mengeluarkan darah haid, jika kasusnya seperti ini, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah di periksa secara medis, jika memang keluarnya darah itu normal, dalam artian tidak karena kecelakaan, maka ini dihukumi sebagai haid, dan seperti ini merupakan pengecualian, dan sangat sediki dijumpai.

Dan bukan mungkin, ada juga yang berusia lebih dari lima puluh tahun masih memiliki rahim yang subur, ini juga pengecualian, dan jarang sekali kita temui, dalam riwayat dikisahkan bahwa Sayyidatina Hajar isteri Nabi Ibrahim a.s. hamil di usia delapan puluh tahun dan melahirkan di usia sembilan puluh sembilan tahun. Subhanallah.

Kiranya demikian yang dapat saya utarakan tentang Pengertian dan Usia Haid , semoga barokah. Amiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/

Suami Yang Layak Ditaati Isteri

Suami Yang Layak Ditaati Isteri

Suami Yang Layak Ditaati Isteri

Suami Yang Layak Ditaati Isteri
Suami Yang Layak Ditaati Isteri

Suami Layak Ditaati Isteri

Ada orang bertanya, mengapa Rasulullah tidak menyatakan secara jelas ciri-ciri lelaki yang seharusnya dipilih oleh bakal isteri. Hadis secara jelas hanya menyebut ciri-ciri wanita yang lazimnya dicari oleh lelaki iaitu yang beragama selain tiga lagi jika perlu.

Kalau lelaki diberi panduan untuk memilih wanita yang baik, mengapa tidak ada panduan untuk wanita bagi mencari suami. Kata mereka, kalau ada panduan sudah pasti isteri tidak tersalah memilih suami pada masa hadapan.

Memang secara jelasnya Rasulullah tidak sebut kerana lazimnya lelaki sahaja yang mencari wanita. Tetapi sebenar kalau wanita benar-benar hendak mencari bakal suami, mereka boleh ikut sepertimana Khadijah memilih suaminya, Rasulullah.

Khodijah Memilih Calon Suami

Pada peringkat awalnya Khadijah menghantar perisik untuk melihat peribadinya secara lebih dekat. Perisik yang adil sudah pasti akan membuat laporan yang betul mengenai apa yang dirisikkan itu. Hasilnya dia berjaya berkahwin Muhammad dan ternyata pilihan itu terbaik.

Antara ciri-ciri yang dapat dikesan pada diri Muhammad pada waktu itu ialah:

  1. Jujur lalu tidak mengambil kesempatan
  2. Amanah dengan tugas
  3. Pemalu dengan wanita
  4. Beragama lalu takut kepada Allah
  5. Boleh menjadi pemimpin.

Percayalah jika suami mempunyai ciri-ciri ini, pasti disenangi oleh isteri, malah saling hormat menghormati sampai bila-bila masa sekalipun pada usia tua. Suami dalam keadaan itu tidak akan melakukan dosa baik sesama manusia apatah lagi dengan Allah SWT.

Walau bagaimanapun, suami yang mempunyai ciri di atas perlu juga mencari wanita yang beragama bagi membentuk rumah tangga yang damai bahagia. Gabungan inilah yang dikatakan serasi ataupun kufu.

Adaka Lelaki Yang Memiliki Ciri-Ciri Di Atas

Persoalan sekarang, wujudkah lelaki yang memiliki ciri-ciri di atas pada zaman ini? Bolehkah ditemui lelaki sebegini di tepi jalan, di kebun bunga, di pasar dan seumpamanya? Hanya wanita yang agamanya kurang akan bertemu jodoh di tempat-tempat berkenaan dan yang pastinya lelaki itu juga tidak menepati ciri-ciri di atas.

Inilah realiti yang berlaku pada hari ini, pasangan yang berkahwin dalam keadaan itu, bahagianya pada awalnya sahaja tetapi bermasalah pada pertengahan jalan. Malah beberapa kes yang ditemui, pasangan itu tidak pandai atau tidak mahu melakukan solat.

Jelas di sini, selain lelaki yang perlu mencari isteri yang beragama dan beriman selain kecantikan, berharta dan berketurunan baik, wanita juga perlu pandai memilih bakal suami berdasarkan ciri-ciri di atas. Untuk itu, pihak wanita juga perlu ada kumpulan perisik seperti yang dilakukan oleh Khadijah.

Apabila suami isteri sudah mengikut ciri-ciri di atas mereka perlu mengekalkan kedudukan itu sehingga ke akhir hayat. Selain itu suami isteri boleh mengekalkan kebahagiaan yang dicapai dengan berpandukan hadis berikut:

Ahmad, an-Nasaie dan al-Hakim meriwayatkan

Ahmad, an-Nasaie dan al-Hakim meriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda yang maksudnya: “Sebaik-baik wanita ialah yang menyenangkan seorang lelaki apabila ia melihatnya, yang taat kepadanya apabila dia menyuruhnya dan ia tidak menyalahi suaminya dengan sesuatu yang tidak menyukakannya pada dirinya dan hartanya” (Hadis Riwayat Muslim).

Isteri yang baik menurut hadis di atas ialah dia mesti bersedia mempamerkan persembahan yang terbaik untuk suaminya sewaktu di dalam rumah. Maksudnya, apabila suami pulang rumah disambut oleh isteri dengan senyum mesra. Dia menyediakan air minuman kerana kemungkinan suami dahaga. Suami dalam keadaan itu akan senang hati walaupun mungkin terdapat masalah yang dihadapi sebelumnya. Masalah berat yang ditanggungnya dapat hilang apabila dilayan sedemikian rupa.

Selain itu isteri terus memberi ketaatan kepada suami dalam semua keadaan terutama apabila diminta oleh suami. Isteri itu juga tidak akan membantah kehendak suami selagi perkara yang disuruh itu tidak melanggar syariat.

Sungguhpun begitu, perkara yang penting dalam hal ini ialah isteri tidak membuatkan sesuatu yang tidak disukai oleh suami. Jadi, semua yang hendak dilakukan isteri, dia akan meminta restu dan pandangan suaminya terlebih dahulu.

Tiga perkara asas ini perlu dijaga oleh isteri dalam berhadapan dengan suami sama ada suami yang memenuhi ciri-ciri di atas atau tidak. Mungkin tidak timbul masalah bila berhadapan dengan suami yang baik, tetapi menjadi cabaran besar bila berhadapan dengan suami sebaliknya. Namun jika isteri dapat mendisiplinkan suaminya, itulah kejayaan yang besar buatnya.

Sebagai contoh, suami melarang isterinya solat atau menutup aurat, dia boleh membantah dengan cara baik. Dia tetap solat dan tetap menutup aurat dengan alasan perintah Allah. Lambat laun suami itu akan faham dan dia juga akan turut melakukan solat secara istiqamah selepas itu.

Jadi, bagi mereka yang baru berkahwin dicadangkan supaya mereka saling menyenaraikan apa yang disukai oleh suami dan isteri, juga apa yang tidak disukai kedua-duanya. Dengan cara ini mereka akan berhati-hati supaya tidak melakukan perkara yang tidak disukai pasangannya.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/tata-cara-sholat-tahajud-niat-doa-dan-keutamaan-lengkap/

Kisah Seorang Isteri Mandikan Jenazah Suami

Kisah Seorang Isteri Mandikan Jenazah Suami

Kisah Seorang Isteri Mandikan Jenazah Suami

Kisah Seorang Isteri Mandikan Jenazah Suami
Kisah Seorang Isteri Mandikan Jenazah Suami

Kisah Ini Saya Tidak Pasti

Kisah ini saya tidak pasti realiti atau pun tidak tapi saya rasa mesejnya cukup jelas menerangkan ikatan kasih sayang antara suami & isteri.Saya perolehi kisah ini dari paparan fb & menarik untuk dikongsikan bersama.Mudah-mudahan ia menjadi pengajaran & pedoman untuk kita semua,

Seorang isteri menangis2 nak mandikan jenazah suami dia.. bapak mertua dgn polis forensik x bagi.. sambil menangis isteri berkata ini janji kami suami isteri.. jika abang mati dulu kamu (isteri) mandikanlah jenazah abang, Andai kamu (isteri) mati dulu dari abang, abang akan mandikan jenazah kamu..

Dari luar bilik mayat hospital seorang ustaz masuk tanye ape hal then ustaz tu kate x pe kalau isteri nak mandikan jenazah suami.. ustaz tadi bersama beberapa org lagi temankan si isteri mandikan jenazah suaminya..

Isteri Membasuh Muka Suaminya

dengan tenang isteri membasuh muka suaminya sambil berdoa,

“Inilah wajah suami yang ku sayang tetapi Allah lebih sayangkan abang.. Moga Allah ampunkan dosa abang dan satukan kite di akhirat nanti..”

membasuh tangan jenazah suami sambil berkata

“Tangan inilah yang mencari rezeki yang halal untuk kami, masuk ke mulut kami. moga Allah beri pahala untuk mu suami ku..”

membasuh tubuh jenazah suami smbil berkata

“tubuh inilah yg memberi pelukan kasih syg pd ku dan ank2,moga Allah beri pahala berganda untukmu wahai suamiku”

membasuh kaki jenazah suami smbil berkata

“dgn kaki ini abang kluar mencari rezki utk kami, berjalan dan berdiri sepanjang hari semata2 untuk mencari sesuap nasi,terima kasih abang…moga Allah beri kau kenikmatan hidup d akhirat dan pahala yg berlipat kali gandanya”

Ucapan Isteri Kepada Suaminya

selesai memandikan jenazah suaminya, si isteri mengucup sayu suaminya dan berkata

 “trima ksih abang krana aku bahagia sepanjang mnjadi isterimu dan terlalu bahagia dan trima kasih krna meninggalkan aku bersama permata hatimu yg persis dirimu dan aku sbg seorang istri redha akn pemergianmu krna ksih syg Allah pd mu.”

Betapa sucinya hati seorang isteri pada suaminya..Mudah-mudahan kita ambil iktibar dari kisah ini..

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-tawasul-ringkas-dan-lengkap-hadhorot/

Tokoh Filsafat Islam AL-FARABI (257 – 337 H 870 – 950 M)

Tokoh Filsafat Islam AL-FARABI (257 – 337 H / 870 – 950 M)

Tokoh Filsafat Islam AL-FARABI (257 – 337 H  870 – 950 M)

Tokoh Filsafat Islam AL-FARABI (257 – 337 H / 870 – 950 M)
Tokoh Filsafat Islam AL-FARABI (257 – 337 H / 870 – 950 M)

Hidup dan Karya-Karyanya

Nama aslinya Abu Nasr Muhammad Bin Muhammad Bin Tharkhan, sebutan Al Faribi diambil dari nama kota Arab. Ia dilahirkan pada tahun 257 H (870). Ayahnya adalah seorang Iran dan menikah dengan seorang wanita Turkestan kemudian ia menjadi perwira tentara Turkestan. Oleh karena itu, al Farabi dikatakan berasal dari Turkestan dan kadang-kadang juga dikatakan dari keturunan Iran.

Menurut Massiqnon, orientaslis Perancis, al Farabi adalah seorang filsafat islam pertama dengan penuh arti kata, sebelum beliau memang al Kindi telah membuka pintu filsafat Yunani bagi dunia islam. Akan tetapi ia tidak menciptakan sistem (madzhab) filsafat tertentu, sebaliknya al Farabi telah menciptakan suatu sistem filsafat yang lengkap dan memainkan peran penting dalam dunia islam, seperti peranan yang dimiliki plotinus bagi dunia barat, begitu juga al Farabi menjadi guru bagi Ibnu Sina, Ibnu dan filsafat-filsafat islam lain yang datang sesudahnya. Oleh karena itu ia mendapat gelar “Guru Kedua” (Al Mu’allim Ats Tsani) sebagai kelanjutan dari aristoteles yang mendapat gelar “Guru Pertama” (Al Mu’allim Al Awwal).
Di antara karangan-karangannya adalah :

a. aghradhu ma ba’da ath-thabi’ah
b. Al-Jam’u baina Ra’yai Al Hakimain (mempertemukan pendapat kedua filsafatm maksudnya Plato dan Aristoteles)
c. Tahsil as sa’adah (mencari kebahagiaan)
d. ‘Uyun ul-Masail (pokok-pokok persoalan)
e. Arau ahl-il madinah al fadhillah (pikiran-pikiran penduduk kota utama negeri utama)
f. Il sha’u al ulum (statistik ilmu)
Dalam buku terakhir ini al Farabi membicarakan macam-macam ilmu (bagian-bagiannya, yaitu ilmu bahasa, ilmu mantik, ilmu matekatika, fisika, ketuhanan, fiqih, perkotaan dan ilmu kalam)

Al-Farabi dan Kesatuan Filsafat

Filsafat al Farabi sebenarnya merupakan campuran antara filsafat aristoteles dan neoplatoisme dengan pikiran keislaman yang jelas dan corak aliran syiah imamiah. Misalnya dalam soal etika dan politik, ia mengikuti plato dan dalam soal metafisika, ia mengikuti plotinus, selain itu al Farabi adalah seorang filsafat sinkretisme (pamanduan) yang percaya akan kesatuan (ketunggalan) filsafat.
Pemanduan yang menonjol tampak jelas pada usahanya untuk mempertemukan hasil-hasil pemikiran plato dengan pemikiran aristoteles di satu pihak dan mempertemukan hasil-hasil pemikiran filsafat dengan wahyu di lain pihak, dengan bersenjatakan takwil (interpetensi bathin) (Al Hanafi, 1991 : 83)

Logika

Tampaknya dalam lapangan logika al Farabi banyak mengikuti Aristoteles. Adalah :
a. Definisi logika ialah ilmu tentang pedoman (peraturan) yang dapat menegakkan pikiran dan menunjukkan pada kebenaran dalam lapangan yang tidak bisa dijamin kebenarannya.
b. Guna logika, maksudnya logika ialah agar kita dapat membetulkan pikiran orang lain, atau agar orang lain dapat membenarkan pemikiran kita, atau kita dapat membetulkan pemikiran diri kita sendiri
c. Lapangan lgika, lapangannya ialah segala macam pemikiran yang bisa diutarakan dengan kata-kata dalam kedudukannya sebagai alat menyatakan pemikiran.
d. Bagian-bagian logika, yaitu kategori (al-ma’qulat al ‘asyr); kata-kata (al ibaroh, termas); analogi pertama (al qiyas); analogi kedua (al burhan); jadal (debat; sofistika; retorika dan poetika (syair), pembagian qiyas ada lima yaitu
1) kias meyakinkan (qiyas – burhani), yaitu kias memberi keyakinan
2) qiyas jadali, yaitu kiyas yang terdiri dari hal yang sudah dikenal dan bisa diterima (al-masyhurat wal musallamat)
3) kias sofistika ialah kias yang menimbulkan sangkaan bahwa sesuatu yang tidak benar kelihatan benar dan sebalinya.
4) Qiyas-khatabi, yaitu kias yang menimbulkan dugaan yang tidak begitu kuat
5) Qiyas syi’I, yaitu kias yang memakai perasaan dan khayalan untuk dapat menarik orang lain
(A. Hanafi, 1991 : 89)

Filsafat Metafisika

Hal-hal yang dibicarakannya adalah :

a. Tuhan

Al faribi terlebih dahulu membagi wujud yang ada pada hakikat Tuhan dan sifat-sifat-Nya
1) wujud yang mumkin atau wujud yang nyata karena lainnya (wajib ligharbi) seperti wujud cahaya yang tidak akan ada, kalau tidak ada matahari.
2) Wujud yang nyata dengan sendirinya (wajib al wujud lidzatih). Wujud adalah wujud yang tabiatnya itu sendiri menghendaki wujud-Nya)

b. Hakekat Tuhan

Allah adalah wujud yang sempurna dan ada tanpa suatu sebab, karena kalau ada sebab bagi-Nya berarti ia tidak sempurna, sebab bergantung kepadanya, ia adalah wujud yang paling mulia dan yang paling dahulu adanya. Oleh karena itu, tuhan adalah zat yang azali (tanpa permulaan) yang selalu ada zat-Nya itu sendiri sudah cukup menjadi sebab bagi keabadian wujud-Nya. Wujud-Nya tidak berarti terdiri dari Hule (matter, benda dan shurroh). Yaitu dua bagian yang terdapat pada makhluk, kalau itu terjadi dari kedua perkara tersebut, tentunya akan terdapat susunan (bagian-bagian pada zat-Nya)

Baca Juga: 

Tokoh Filsafat Islam Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd

Tokoh Filsafat Islam Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd

Tokoh Filsafat Islam Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd

Tokoh Filsafat Islam Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd
Tokoh Filsafat Islam Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd

IBNU SINA

Hidup dan karyanya

Ibnu Sina dilahirkan dalam masa kekacauan, ketika kalifah abbasyiyah mengalami kemunduran dan negeri-negeri yang mula-mula berada di bawah kekuasaan khalifat tersebut mulai melepaskan diri satu per satu untuk berdiri sendiri. Ibnu Sina dilahirkan di Afsyana, daerah Bukhara pada tahun 340 H (980 M) di Bukhoro, ia menghafal Al-Qur’an dan belajar ilmu-ilmu agama serta ilmu-ilmu astronomi katika usianya baru 10 tahun, kemudian mempelajari ilmu kedokteran pada Isa bin Yahya seorang Masehi. Hidup beliau sepenuhi dengan kesibukan, seperti bekerja di pemerintahan, mengarang, menulis, dll.

Karya-karyanya yang terkenal

a. Asy-syifa terdiri dari logika fisika, matematika dan metafisika (ketuhanan)
b. An najat
c. Al-isyarat wat-tanbihat
d. Al-hikmah al-masyriqiyyah mengenai tasawuf tetapi menurut carlos nallino, berisi filsafat timur sebagai imbangan filsafat barat
e. Al-qonun

Dasar-dasar fisika

Ibnu Sina seperti halnya al Farabi, mengambil teori tersebut dari Aristoteles, dengan mengatakan bahwa benda alam terdiri darinya (maddah) sebagai tempat dan dari shurat sebagai perkara yang bertempat padanya. Pertalian benda shurah sama dengan pertalian perunggu dengan patuh, jadi benda alam mempunyai tambahan (perkara yang mengikutinya) yaitu aradh (sifat-sifat) seperti gerak, diam dan lain-lain.

Perbedaan shurah dengan aradh ialah kalau aradh terdapat sesudah ada benda, sedangkan shurah terdapat sebelum benda,
Gerak dan diam menurut Ibnu Sina “tiap-tiap gerak terdapat perkara yang bisa bertambah atau berkurang. Sedangkan Jauhar (benda kecil/atom) tidak demikian keadaannya (tidak mengenal gerak). Dengan demikian perpindahan dari satu tempat ke tempat lain adalah gerak, begitu pula perpindahan dari putih ke hitam (dalam bahasa arab disebut istihalah) dan bertambah atau berkurangnya sesuatu bentik dikarakan juga gerak (a. hanafi, 1991 : 118)

IBNU RUSYD (520 – 595 H / 1126 – 1198 M)

Hidup dan karyanya

Ia adalah abdul walid Muhammad bin ahmad ibn Rusyd, kelahiran Cordova pada tahun 520 H, berasal dari kalangan keluarga besar yang terkenal di Andalusia (Spanyol), ayahnya seorang hakim, dan neneknya terkenal dengan sebutan “Ibn Rusyd nenek” (aljadd) kepala hakim Cordova.
Karangannya meliputi berbagai macam ilmu seperti fiqih usul, bahasa, kedokterean, astronomi, politik, filsafat, dan buku-bukunya :
a. Bidyatul mujtahidin (ilmu fiqih) yaitu berisi perbandingan madzhab
b. Fashlul-maqalfi ma baina al hikmati was-syariat min al-ittisal (ilmu kalam)
c. Manahij al-adillah fi aqaid ahl-al millah (ilmu kalam)
d. Tashafur at-thohatut (filsafat dan ilmu kalam

Dalil wujud Tuhan

Ibnu Rusyd menerangkan dalil-dalil wujud tuhan menurut syara yang meyakinkan yaitu dalil ‘inayah (pemelihara) dan dalil ihtira’ (penciptaan), yang kedia-duanya terdapat dalam al-Qur’an, menurut beliau Al-Qur’an bisa dibagi menjadi 3 golongan, Pertama, ayat berisi peringatan terhadap dalil ‘inayah. Kedua, ayat-ayat yang berisi peringatan terhadap dalil ikhtira’. Ketiga, ayat-ayat yang berisi peringatan kedua dalil tersebut bersama.
Dalil inayah apabila ala mini kita perhatikan kita akan mengetahui apa yang ada di dalamnya sesuai dengan kehidupan dan makhluk-makhluk lainnya. Persesuaian ini bukan terjadi secara kebetulan. Tetapi menunjukkan adanya penciptaan yang rapi dan teratur, yang didasarkan atas ilmu dan kebijakan, sebagaimana yang ditunjukan oleh ilmu pengetahuan modern.
Dalil iktira’, seperti halnya dengan dalil ‘inayah mendorong kita untuk mengikuti keilmuan sejauh mungkin. Dalil tersebut lebih berguna pada dalil atom / dalil wajib-mumkin dan lain-lain. Kelebihan dalil ikhtira’, ialah karena ia dipakai oleh syara’ dan menguatkan adanya kebijakan Tuhan. Banyak ayat yang berisi dalil ikhtira’ tersebut. Diantaranya ayat 5-6, surat At Thariq.

Dalil gerak yang diambil dari Arsitoteles bahwa alam semesta ini bergerak dengan sesuatu gerakan yang abadi dan gerakan ini mengandung adanya penggerak pertama yang tidak bergerak dan tidak berbenda yaitu Tuhan, tetapi juga Ibnu Rusyd mengatakan bahwa benda-benda langit beserta gerakannya dijadikan oleh tuhan dari tiada dan bukan dalam zaman, karena zaman tidak mungkin mendahului wujud cara yang bergerak, selama zaman itu kita anggap sebagai ukuran geraknya. Jadi, gerakan menghendaki adanya penggerak pertama / sesuatu sebab yang mengeluarkan dari tiada menjadi wujud (A. Hanafi; 1991 : 172)

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/

Mengupas Tentang Tokoh Filsafat Islam AL-GHAZALI

Mengupas Tentang Tokoh Filsafat Islam AL-GHAZALI

Mengupas Tentang Tokoh Filsafat Islam AL-GHAZALI

Mengupas Tentang Tokoh Filsafat Islam AL-GHAZALI
Mengupas Tentang Tokoh Filsafat Islam AL-GHAZALI

 

Biografi Al-Ghazali

Nama lengkapnya abu hamid Muhammad ibn Muhammad al-ghazali, ath thusi, merupakan orang Persia asli yang dilahirkan pada tahun 450 H/1058 M di Thus (dekat Mashed) dan wafatnya di nisbur pada tahun 505 H/1111 M dalam usia 54 tahun (Moh fauzan, 2002 : 30)

Karya-karya al-ghazali

Sulaiman dunya menyatakan dan mencatat bahwa karya tulis imam al-ghozali mencapai kurang lebih 300 buah, meliau mengarang dari umur 25 tahun yang di antaranya

a. Ilmu Kalam Dan Filsafat

1) Maqashid Al Falasifah
2) Tahafut Al Falasifah
3) Al Iqtishad Fi Al I’tiqad
4) Al Muqid Min Adh Dhalal
5) Maqashid Asma Fi Al Ma’ani, Asma Al Husna
6) Faial Al Mustaqim, dll

b. Kelompok fiqih dan ushul fiqih

1) Al Basith
2) Al Wasith
3) Al Wajiz
4) Al Khulashah Al Mukhtashar
5) Al Mustashfa
6) Al Mankul
7) Syifakh Al Alifi Qiyas Wa Ta’lil
8) Adz Dzari’ah Ila Makarim Al Syari’ah

c. Kelompok tafsir meliputi

1) Yaqul At Ta’wil Fi Tafsir At Tanzil
2) Tawahir Al-Qur’an

d. Kelompok ilmu tasawuf dan akhlak secara integral bahasannya ilmu kalam, fiqih dan tasawuf antara lain:
1) Ihya’ ‘Ulum Ad-Din
2) Mizan Al Amanah
3) Kimya As Sa’adah
4) Misykat Al Anwar
5) Muh As Syafat Al-Qulub
6) Minhaj Al Abiding
7) Ad Dar Fiqhiratfi Kasyf’ulum
8) Al Aini Fi Al Wahdat
9) Al Qurbat Illa Alah Azza Wajalla
10) Akhlak Al Abrarwa Najat Min Al Asrar, dll

Pandangan Al-Ghazali tentang Taukhid dan Kalam

Ilmu ini membahas tentang dzat Allah, siat-sifatnya yang eternal (al qadimah), yang aktif kreatif (al’fi’liyyah) yang esensial, dengan nama-nama yang sudah dikenal, juga membahas, keadaan para Nabi, para pemimpin umat sesudahnya dan para shabat. Beliau begitu pula membahas tentang keadaan mati dan hidup. Keadaan di bangkitkan dari kubut (al ba’ats), berkumpul di mahsyar, perhitungan amal dan melihat tuhan.
Al ghazali dalam kitabnya ihya’ ‘ulum ad0din menyesalkan adanya pergeseran istilah “tauhid” pada “kalam” tauhid yang berarti mengesakan Allah merupakan isti akidah islam yang dibawa nabi Muhammad SAW, sedangkan kalam yang beratti perkataan, hanya merupakan cara yang digunakan dalam membahas masalah-masalah aqidah.
Menurut al ghazali pengertian tauhid pada masa salaf yang terfokus pada kalimat. “La Ilaha Illa Allah” (tidak ada Tuhan selain Allah), ditanggapi dan dihayati bervariasi oleh umat waktu itu. Ada orang munafik yang bertauhid itu dihatinya dan mengucapkannya dengan sadar.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/kumpulan-kultum-ramadhan/

SHALAT DALAM BERBAGAI KEADAAN (DARURAT)

SHALAT DALAM BERBAGAI KEADAAN (DARURAT)

SHALAT DALAM BERBAGAI KEADAAN (DARURAT)

 

SHALAT DALAM BERBAGAI KEADAAN (DARURAT)
SHALAT DALAM BERBAGAI KEADAAN (DARURAT)

Macam shalat dalam keadaan darurat

Shalat dalam berbagai keadaan (darurat) di sini dibatasi kepada:
•Shalat dalam keadaan sakit
•Shalat dalam perjalanan (safaris)
•Shalat di atas kendaraan?

A. Shalat dalam keadaan sakit

Shalat fardu lima waktu wajib dikerjakan dalam keadaan apapun apabila memenuhi persyaratan, termasuk orang yang sedang menderita sakit.
Adapun kaifiyat shalat dalam keadaan sakit antara lain seperti sabda Rasulullah SAW :

يُصَلِّى الْمَرِيْضُ قَا ئِـمًا اِنِ اسْتَطَاعَ فَاِنْ لمَ ْيَسْتَطِعْ صَلَّى قَا عِـدًا, فَاِ نْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَ نْ يَسْجُدَ أَوْ مَأَ بِرَ أْسِـِه وَجَعَلَ سُـجُوْدَهُ أَخْـفَضَ مِنْ رُ كُـوْ ِعهِ, فَاِنْ لمَ ْيَسْتَطِعْ أَنْ ُيصَلَّى قَا عِدًا صَلَّى عَلَى جَنْبِهِ اْلاَ ْيمَنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ, فَاِنْ لمَ ْيَسْتَطِعْ أَنْ يُصَلَّى عَلَى جَنْبِهِ اْلاَ يْمَنِ صَلَّى مُسْتَلْقِيًا رِجْلاَهُ مِمَّا يَلِى الْقِبْـلَةَ.( رواه الدارقطنى )
“ Orang sakit itu jika dapat hendaklah bershalat dengan berdiri, jika tak dapat, maka sambil duduk! Kalau tak dapat sujud hendaklah ia member isyarat dengan kepala, dan sujudnya itu hendaklah lebih rendah dari rukunya! Dan kalau tak dapat bershalat dengan duduk, hendaklah ia bershalat dengan berbaring di atas lambung kanan sambil menghadap kiblat; dan kalau masih tak kuasa dengan baring itu, hendaklah ia bershalat dengan terlentang, sedang kaki dijuruskan ke arah kiblat”! ( H.R. Daruquthni)

Berdasarkan kepada ayat al Quran dan Hadits di atas timbul istilah Shalat Jama’ dan shalat Qashar

1.Shalat Jama

artinya melaksanakan dua shalat dalam satu waktu; seperti shalat Dzuhur dan shalat Asar dikerjakan pada waktu Dzuhur, (jama’ taqdim) atau diwaktu shalat Ashar ( jama’ takhir) antara shalat Dzuhur dan Ashar diselingi dengan iqomat.

Contoh

Rombongan mahasiswa AKBID “Aisyiyah Banten hendak studi tour ke Jogyakarta, berangkat dari Serang jam 13.00, Maka sebelum berangkat shalat Dzuhur terlebih dahulu, selesai shalat Dzuhur kemudian melaksanakan shalat Ashar (Jama’ Taqdim)

Demikianlah penjelasan mengenai SHALAT DALAM BERBAGAI KEADAAN (DARURAT). Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan dan dapat dijadikan sebagai refrensiyang bermanfaat bagi kalian semua. Terimakasih

Baca Juga: 

Pengertian tharah, hadats, kotoran, najis dan hukum asalnya

Pengertian tharah, hadats dan hukum asalnya

Pengertian tharah, hadats, kotoran, najis dan hukum asalnya

Pengertian tharah, hadats dan hukum asalnya
Pengertian tharah, hadats dan hukum asalnya

Pengertian Thaharah

Secara bahasa, thaharah artinya membersihkan kotoran, baik kotoran yang berwujud maupun kotoran yang tidak berwujud.
Adapun secara istilah, thaharah artinya menghilangkan hadats, najis, dan kotoran dengan air atau tanah yang bersih. Dengan demikian, thaharah adalah menghilangkan kotoran yang masih melekat di badan yang membuat tidak sahnya shalat dan ibadah lain. [Lihat Ibnu Qudamah, Al_Mughni(I/12) dan kitab Taudhih Al_Ahkam karya Abdullah Al_Bassam (I/87)]

Pengertian Hadats

Hadats secara etimologi (bahasa), artinya tidak suci atau keadaan badan tidak suci – jadi tidak boleh shalat. Adapun menurut terminologi (istilah) Islam, hadats adalah keadaan badan yang tidak suci atau kotor dan dapat dihilangkan dengan cara berwudhu, mandi wajib, dan tayamum. Dengan demikian, dalam kondisi seperti ini dilarang (tidak sah) untuk mengerjakan ibadah yang menuntut keadaan badan bersih dari hadats dan najis, seperti shalat, thawaf, ’itikaf.

Pengertian Kotoran dan Najis

Kotoran berasal dari kata kotor, artinya tidak bersih, seperti pakaian yang kena keringat. Adapun najis adalah sesuatu yang keluar dari dalam tubuh manusia atau hewan seperti air kencing, kotoran manusia atau kotoran hewan. Dengan demikian, kesimpulan sementara adalah kotor belum tentu najis, sedangkan barang yang terkena najis pasti kotor. [Lihat Nor Hadi, Ayo Memahami Fiqih untuk MTs/SMP Islam Kelas VII, (Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama, 2008), hal. 5]
Dengan demikian, jelaslah bahwa pakaian yang kotor karena terkena keringat dapat dipakai untuk shalat dan sah shalatnya. Akan tetapi, baju yang bersih walaupun belum dipakai namun telah terkena najis, lalu dipakai shalat, maka shalatnya tidak sah.

Najis adalah sesuatu yang dianggap kotor oleh orang yang memiliki tabi’at yang selamat (baik) dan selalu menjaga diri darinya. Apabila pakaian terkena najis –seperti kotoran manusia dan kencing- maka harus dibersihkan.

Perlu dibedakan antara najis dan hadats. Najis kadang kita temukan pada badan, pakaian dan tempat. Sedangkan hadats terkhusus kita temukan pada badan. Najis bentuknya konkrit, sedangkan hadats itu abstrak dan menunjukkan keadaan seseorang. Ketika seseorang selesai berhubungan badan dengan istri (baca: jima’), ia dalam keadaan hadats besar. Ketika ia kentut, ia dalam keadaan hadats kecil. Sedangkan apabila pakaiannya terkena air kencing, maka ia berarti terkena najis. Hadats kecil dihilangkan dengan berwudhu dan hadats besar dengan mandi. Sedangkan najis, asalkan najis tersebut hilang, maka sudah membuat benda tersebut suci. Mudah-mudahan kita bisa membedakan antara hadats dan najis ini.

Hukum Asal Segala Sesuatu adalah Suci

Terdapat suatu kaedah penting yang harus diperhatikan yaitu segala sesuatu hukum asalnya adalah mubah dan suci. Barangsiapa mengklaim bahwa sesuatu itu najis maka dia harus mendatangkan dalil. Namun, apabila dia tidak mampu mendatangkan dalil atau mendatangkan dalil namun kurang tepat, maka wajib bagi kita berpegang dengan hukum asal yaitu segala sesuatu itu pada asalnya suci. Menyatakan sesuatu itu najis berarti menjadi beban taklif, sehingga hal ini membutuhkan butuh dalil.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/5-rukun-nikah-dalam-islam-yang-harus-diketahui/