Organisasi sistem Sosial

Organisasi sistem Sosial

Organisasi sistem Sosial

Sistem sosial adalah Sejumlah kegiatan hubungan timbal balik yang kurang lebih bersifat konsisten. Sistem sosial diciptakan manusia untuk mempengaruhi prilaku manusia. Dalam sistem sosial hubungan timbal balik terjadi antara masyarakat, organisasi dan kelompok sosial. Dalam masyarakat terjadi interaksi dan juga terdapat fakta sosial yang bersifat umum. Selain fakta umum juga terdapat fakta eksternal yang bersifat memaksa seperti norma hukum.

Pada organisasi yaitu kelompok yang mempunyai tujuan tertentu, akan terjadi suatu interaksi yang langgeng, memiliki identitas yang jelas, keanggotaan, program dan prosedur. Sedangkan pada kelompok sosial interaksi tidak terlalu interen. Dalam sistem sosial selalu mempertahankan batas untuk membedakan dearah lingkungan. Menurut Robert K. Merton terdapat dua fungsi dari interaksi yaitu fungsi manifest dan laten. Fungsi manifest bersifat jelas, terang dan diketahui atau dengan kata lain fungsi yang diketahui oleh orang yang bertindak ( aktor ). Contohnya adalah peran atau status sebagai dosen. Sedangkan fungsi laten memiliki sifat tersembunyi atau yang tidak diketahui atau dengan kata lain kebalikan dari fungsi manifest, yaitu fungsi yang tidak diketahui oleh orang yang bertindak ( aktor ).

Kelompok adalah suatu sistem sosial yg terdiri dari sejumlah orangyg berinteraksi satu sama lain dan terlibat dalam suatu kegiatan bersamadan memilki sikap lebih solidaritas serta bersifat kolektivitas .Jika organisasi lebih memiliki peraturan dan bersifat role expectation yaitu memiliki harapan kelompok.

Adapun perbedaan antara organisasi dan masyarakat adalah jika masyarakat merupakan sistem sosial yg memiliki identitas kolektif yang tegas, daftar anggota yangg terperinci, program kegiatan yang jelas & prosedur pengganti anggota serta interaksinya lebih solid dan makin terintegrasi. Sedangkan pada masyarakat cakupannya lebih luas dan merupakan system interaksi, atau keseluruhan komplek hubungan manusia yang luas sifatnya. Perbedaan antara organisasi dan individu antara lain jika organisasi  merupakan kenyataan objektif / eksternal sedangkan individu merupakan subjek yang mempunyai perasaan, pikiran memberi arti pada sesuatu yang mampu menilai tindakan sendiri atau dengan kata lain merupakan kenyataan subjektif / internal.

Status merupakan hal yang dibuat oleh manusia dan bersifatsubyektif. Selain itu pengertian dari status adalah tatanan ( order ) hak dan kewajiban secara hierarkis dalam struktur formal suatu organisasi. Menurut Talcott Parsons status seseorang timbul karena kelahiran contoh anak raja, karena mutu pribadi, karena prestasi, karena  kepemilikan, dan karena otoritas/kekuasaan. Adapun manfaat dari mengetahui tentang organisasi sosial adalah untuk dapat diajak bekerja sama dalam kegiatan kesehatan. Status subjektif ada yang bersifat konsisten dan non konsisten. Dalam organisasi terdapat peran yang memiliki arti pola perilaku yang diharapkan dari seseorang yang memiliki status atau posisi tertentu dalam organisasi. Maka dari itu sangat diperlukan sumber daya manusia yang baik untuk melaksanakan perannya dalam mensejahterakan masyarakat.

Sumber : https://www.thebaynet.com/community/science/13-factors-that-cause-ocean-damage-and-its-explanations.html

Pendekatan dalam Teori Pendidikan

Pendekatan dalam Teori Pendidikan

Pendekatan dalam Teori Pendidikan

Pendidikan dapat dilihat dalam dua sisi yaitu: (1) pendidikan sebagai praktik dan (2) pendidikan sebagai teori. Pendidikan sebagai praktik yakni seperangkat kegiatan atau aktivitas yang dapat diamati dan disadari dengan tujuan untuk membantu pihak lain (baca: peserta didik) agar memperoleh perubahan perilaku. Sementara pendidikan sebagai teori yaitu seperangkat pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis yang berfungsi untuk menjelaskan, menggambarkan, meramalkan dan mengontrol berbagai gejala dan peristiwa pendidikan, baik yang bersumber dari pengalaman-pengalaman pendidikan (empiris) maupun hasil perenungan-perenungan yang mendalam untuk melihat makna pendidikan dalam konteks yang lebih luas.

Diantara keduanya memiliki keterkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Praktik pendidikan seyogyanya berlandaskan pada teori pendidikan. Demikian pula, teori-teori pendidikanseyogyanya bercermin dari praktik pendidikan. Perubahan yang terjadi dalam praktik pendidikan dapat mengimbas pada teori pendidikan. Sebaliknya, perubahan dalam teori pendidikan pun dapat berdampak terhadap praktik pendidikan

Terkait dengan upaya mempelajari pendidikan sebagai teori dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, diantaranya: (1) pendekatan sains; (2) pendekatan filosofi; dan (3) pendekatan religi. (Uyoh Sadulloh, 1994).

1. Pendekatan Sains

Pendekatan sains yaitu suatu pengkajian pendidikan untuk menelaah dan dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan disiplin ilmu tertentu sebagai dasarnya. Cara kerja pendekatan sains dalam pendidikan yaitu dengan menggunakan prinsip-prinsip dan metode kerja ilmiah yang ketat, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif sehingga ilmu pendidikan dapat diiris-iris menjadi bagian-bagian yang lebih detail dan mendalam.

Melalui pendekatan sains ini kemudian dihasilkan sains pendidikan atau ilmu, dengan berbagai cabangnya, seperti: (1) sosiologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari sosiologi dalam pendidikan untuk mengkaji faktor-faktor sosial dalam pendidikan; (2) psikologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari psikologi untuk mengkaji perilaku dan perkembangan individu dalam belajar; (3) administrasi atau manajemen pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari ilmu manajemen untuk mengkaji tentang upaya memanfaatkan berbagai sumber daya agar tujuan-tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien; (4) teknologi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari sains dan teknologi untuk mengkaji aspek metodologi dan teknik belajar yang efektif dan efisien; (5) evaluasi pendidikan; suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari psikologi pendidikan dan statistika untuk menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa; (6) bimbingan dan konseling, suatu cabang ilmu pendidikan sebagai aplikasi dari beberapa disiplin ilmu, seperti: sosiologi, teknologi dan terutama psikologi.

Tentunya masih banyak cabang-cabang ilmu pendidikan lainnya yang terus semakin berkembang yang dihasilkan melalui berbagai kajian ilmiah.

Pendidikan dari Jaman ke Jaman

Pendidikan dari Jaman ke Jaman

Pendidikan dari Jaman ke Jaman

Pendidikan dari Jaman ke Jaman

Dari jaman ke jamanpendidikan muncul dalam berbagai bentuk dan paham. Pendidikan banyak dipahami sebagai sebagai wahana untuk menyalurkan ilmu pengetahuan, alat pembentukan watak, alat pelatihan keterampilan, alat mengasah otak, serta media untuk meningkatkan keterampilan kerja. Sementara bagi paham lain, pendidikan lebih diyakini sebagai suatu media atau wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan ajaran keagamaan, alat pembentukan kesadaran bangsa, alat meningkatkan taraf ekonomi, alat mengurangi kemiskinan, alat mengangkat status sosial, alat menguasai teknologi, serta media untuk menguak alam raya. Tidak sedikit pula, praktisi maupun pemikir pendidikan justru sebagai wahana untuk memanusiakan manusia, serta wahana untuk pembebasan manusia.

Berbagai kebudayaaan dan keyakinan umat manusia, sesungguhnya terus menerus berusaha untuk menjaga dan mempertahankan penyelenggaraan pendidikan secara turun temurun. Penyelenggaraan pendidikan selanjutnya menjadi kewajiban kemanusiaan maupun sebagai strategi budaya dalam rangka mempertahankan kehidupannya. Melihat begitu pentingnya pendidikan bagi umat manusia, banyak peradaban manusia yang “mewajibkan” masyarakatnya untuk tetap menjaga keberlangsungan pendidikan. Misalnya saja, bagi kalangan muslim ada tradisi keyakinan beragama yang berbunyi “ menuntut ilmu itu merupakan kewajiban bagi kaum muslim lelaki maupun perempuan”, “ tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”, serta banyak anjuran lainnya tentang pentingnya pendidikan, baik yang bersumber dari Al-Qur’an maupun Al-Hadist.

Banyak tradisi dan keyakinan manusia menekankan akan pentingnya pendidikan dan mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu. Semua anjuran tersebut semata didasarkan karena keyakinan umat manusia akan terancam jika pendidikan diabaikan.

Dalam perjalanan peradaban manusia selanjutnya, mereka senantiasa manjaga dan melanjutkan tradisi pendidikan melalui berbagai bentuk dan institusi pendidikan. Masing-masing model dan bentuk pendidikan saling berlomba untuk mendidik manusia.

Berbagai usaha yang dilakukan manusia untuk melakukan pendidikan tersebut lambat laun memunculkan berbagai model dan institusi pendidikan yang tercatat dalam sejarah pendidikan, sebagian besar bentuk dan institusi tersebut telah punah, namun beberapa masih tetap bertahan. Institusi pendidikan itu misalnya saja Academia di Yunani, Padepokan dan Pesantren di Jawa, Monastery di kalangan gereja, Madrasah di kangan masyarakat Muslim atau pun Santiniketan di India, dan masih banyak lagi. Salah satu institusi pendidikan yang sekarang menjadi model yang dominan adalah dikenal dengan isitilah “Sekolah” atau pun “Universitas”.

Dari uraian di atas kita dapat menangkap bahwa dari jaman ke jaman manusia telah berupaya mengkonsepsikan dan mengimplementasikan pendidikan secara variatif. Kendati demikian, secara esensi dan misinya menunjukkan pada garis yang sama yakni bahwa pendidikan pada dasarnya merupakan upaya untuk mempersiapkan manusia guna mengahadapi berbagai tantangan perubahan yang terjadi sesuai dengan tuntutan jaman, sekaligus merupakan upaya untuk menjamin kelangsungan eksistensi kehidupan manusia itu sendiri. Dengan melalui pendidikanlah hingga saat ini manusia telah mampu mempertahankan eksistensinya dan terus menerus menuju peradaban yang semakin maju dan kompleks.

SMKN 3 KOTA BOGOR WAJIBKAN SISWA SALAT DUHA

SMKN 3 KOTA BOGOR WAJIBKAN SISWA SALAT DUHA

SMKN 3 KOTA BOGOR WAJIBKAN SISWA SALAT DUHA

Dalam upaya meningkatkan keimanan siswa, maka pihak Sekolah Menengah

Kejuruan (SMK) Negeri 3 Kota Bogor, terus menggembleng anak didiknya dengan kegiatan keagamaan rohani islam (Rohis). Hal itu dikatakan Wakil Kepala ( Waka ) Bidang Kesiswaan SMKN 3 Kota Bogor, Ade diruang kerjanya, kemarin. Menurutnya, kegiatan rohis sebagai upaya pihaknya untuk mengantisipasi para siswa agar terhindar dari prilaku negatif, seperti tawuran, narkoba, dan seks bebas.

“Bekal ilmu yang kami berikan kepada mereka adalah dengan melaksanakan

salat dhuha bersama sebelum kegiatan belajar mengajar, dan salat dzhuru sambil diberikan tausiah oleh guru agama,” ujar Ade.

Menurutnya, sebagai tenaga pengajar, tentunya mengharapkan semua siswa

lulusan SMKN 3 Kota Bogor tidak hanya menguasai Ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK), tetapi juga mempunyai mempunya ilmu agama yang bagus .

“Kami ingin melahirkan generasi penerus bangsa yang berkualitas, mandiri, cerdas, aktif, kreatif dan berprestasi baik serta berakhlak mulia,” tegasnya.

 

Baca Juga :

SDN Pamoyanan 3 Bangga Wakili Bogor Selatan

SDN Pamoyanan 3 Bangga Wakili Bogor Selatan

SDN Pamoyanan 3 Bangga Wakili Bogor Selatan

Kepala Se­kolah Dasar Negeri (SDN) Pamoy­anan 3 Any Suryani merasa bang­ga

karena sekolahnya menjadi wakil Kecamatan Bogor Selatan pada Lomba Tatacara Upacara Bendera (LTUB) Tingkat Kota Bogor.

Kebanggaan ini, lanjut Any, tentunya tidak terlepas dari pem­binaan dan

bimbingan dari se­mua guru yang berada di ling­kungan SDN Pamoyanan 3 yang tanpa mengenal lelah selalu memberikan arahan dan bim­bingan kepada anak didiknya. Sehingga mereka dapat mewu­judkan keinginannya menjadi wakil Kecamatan Bogor Selatan pada LTUB tingkat Kota Bogor. ”Tanpa disiplin yang baik mus­tahil dapat mewujudkan ke­inginannya menjadi yang terbaik di tingkat Kecamatan Bogor Selatan.” ujarnya.

Terbukti pada LTUB dilaksana­kan, kata Any, para petugas upacara bendera

dan peserta upacara dapat melaksanakan LTUB dengan baik dan benar sesuai aturan lomba. “Mereka dapat mengikuti LTUB sampai akhir penilaian yang dilakukan tim dari Dinas Pendidikan Kota Bogor.

 

Sumber :

https://www.artstation.com/ahmadali88/blog/ZnZl/history-of-heroes-day-10-november-1945

Lisa Tingkatkan Kedisiplinan Pelajar SDN Bantarkemang 3

Lisa Tingkatkan Kedisiplinan Pelajar SDN Bantarkemang 3

Lisa Tingkatkan Kedisiplinan Pelajar SDN Bantarkemang 3

Kepala SDN Bantarkemang 3 Kota Bogor Edih mengajak para peserta didiknya

meningkatkan kedisiplinan. Hal itu disampaikan Edih saat menjadi inspektur upacara saat penilaian Lomba Tata Upacara Bendera (LTUB) tingkat Kota Bogor di halaman sekolahnya, belum lama ini.

Menurut Edih, sangat penting kedisiplinan ini ditingkatkan peserta didik.

Sebab mereka masih memiliki tugas besar, terutama dalam mengisi kemerdekaan ini. Salah satu caranya dengan belajar sungguh-sungguh sehinngga nantinya dapat meraih apa yang dicita-citakan. “Kalian adalah generasi penerus bangsa untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan ini. Jadi teladanilah sikap kepahlawanan para pejuang bangsa, seperti berani bertanggung jawab, peduli dan bersikap jujur,” kata Edih.

Salah satu tanggung jawab dimaksud, tambahnya, adalah peduli terhadap

sampah dengan cara menekankan program Lihat Sampah Ambil (Lisa). Diharapkan melalui kerja peduli sampah, khususnya di lingkungan SDN Bantar Kemang 3 ini dapat menjadikan Kota Bogor sebagai kota yang indah, sejuk dan nyaman. “Mari kita laksanakan Lisa tersebut secara menyeluruh, mulai dari siswa, guru, komite serta lingkungan masyarakat,” ajaknya.

 

Sumber :

https://www.artstation.com/ahmadali88/blog/dNlz/history-of-the-origin-of-the-stone-black-stone

Council of Europe Convention on Cyber crime

Council of Europe Convention on Cyber crime

Council of Europe Convention on Cyber crime

Dalam kesempatan kali ini saya ingin membandingkan masalah akses yang tidak sah terhadap isi dari computer yang bukan miliknya.

Dalam computer crime act Malaysia, dijelaskan pada Bagian II poin ke-3 yaitu :

akses tidak sah ke komputer materi

(1) Seseorang akan bersalah jika – (a) ia menyebabkan komputer untuk melakukan fungsi apa pun dengan maksud untuk mengamankan akses ke program atau data yang diselenggarakan di komputer manapun;

(bakses yang ia bermaksud untuk mengamankan adalah tidak sah, dan (c) dia tahu pada saat ia menyebabkan komputer untuk melakukan fungsi yang terjadi.

(2) Tujuannya seseorang harus memiliki untuk melakukan kejahatan di bawah bagian ini tidak perlu diarahkan pada –

(a) program tertentu atau data;

(b) program atau data dari setiap jenis tertentu, atau

(c) program atau data yang diselenggarakan di setiap komputer tertentu. (3) Seseorang bersalah pada bagian ini akan pada keyakinan dikenakan denda paling banyak lima puluh ribu ringgit atau penjara untuk jangka waktu tidak melebihi lima tahun atau untuk keduanya. Computer Crimes 9

Sedangkan pada Council of Europe Convention on Cyber crime masalah yang sama dijelaskan dalam bagian section 1 Substantive criminal law

Article 2 – Illegal access

Each Party shall adopt such legislative and other measures as may be necessary to establish as criminal offences under its domestic law, when committed intentionally, the access to the whole or any part of a computer system without right. A Party may require that the offence be committed by infringing security measures, with the intent of obtaining computer data or other dishonest intent, or in relation to a computer system that is connected to another computer system.

Article 13 – Sanctions and measures

1    Each Party shall adopt such legislative and other measures as may be necessary to ensure that the criminal offences established in accordance with Articles 2 through 11 are punishable by effective, proportionate and dissuasive sanctions, which include deprivation of liberty.

2    Each Party shall ensure that legal persons held liable in accordance with Article 12 shall be subject to effective, proportionate and dissuasive criminal or non-criminal sanctions or measures, including monetary sanctions.

Kesimpulan dari potongan peraturan diatas adalah bahwa seseorang dinyatakan telah melakukan cyber crime apabila mengakses computer yang bukan miliknya secara tidak sah demi kepentingan pribadi. Perbedaan yang mencolok dari kedua peraturan tersebut adalah dalam computer crime act Malaysia, hukuman yang dijatuhkan terhadap pihak yang bersalah disebutkan dengan jelas yaitu maksimal penjara lima tahun serta denda sebesar lima puluh ribu ringgit. Sedangkan dalam Council of Europe Convention on Cyber crime, hukuman berapa lama pihak bersalah dipenjara ataupun membayar denda tidak disebutkan secara jelas.

Baca :

Hak Cipta Terhadap Produk IT

Hak Cipta Terhadap Produk IT

Hak Cipta Terhadap Produk IT

Di dalam perjanjian universal copyright, setiap negara anggota memberikan perlindungan yang sama untuk bekerja (baik dipublikasikan atau tidak) dari warga negara lain, untuk setiap karya yang dibuat, untuk setiap anggota negara lain seperti hibah kepada warga negara untuk hak karya yang diterbitkan di wilayahnya atau karya yang belum dibuat di dalam wilayahnya. Hal ini disebut  “national treatment.” Dengan demikian, perangkat lunak yang dibuat oleh penulis AS atau pertama kali diterbitkan di Amerika Serikat dilindungi di negara anggota konvensi yang menerapkan undang-undang hak cipta ini.

Universal Copyright menyatakan bahwa negara anggota manapun yang memerlukan, sebagai syarat untuk perlindungan hak cipta, sesuai dengan formalitas (seperti pendaftaran, deposito atau pemberitahuan) harus memberlakukan formalitas sepert untuk semua salinan penerbitan karya harus menggunajan simbol “©,” dengan diikuti nama pemilik hak cipta dan tahun publikasi pertama.

Ketentuan ini berlaku, tetapi, hanya untuk karya-karya yang (i) pertama kali diumumkan di luar negeri yang membutuhkan ketaatan dari formalitas, dan (ii) tidak ditulis oleh salah satu warga negara itu. Berbeda dengan Berne, formalitas seperti pendaftaran diizinkan di bawah UCC untuk membawa setelan pelanggaran.

Baca :

Keterbatasan UU No. 36 telekomunikasi (Tugas 6)

Keterbatasan UU No. 36 telekomunikasi (Tugas 6)

Keterbatasan UU No. 36 telekomunikasi (Tugas 6)

Berkembangnya teknologi di dalam bidang telekomunikasi memberikan dampak yang cukup signifikan di dalam tatanan kenegaraan. Berdasarkan isi dari Undang-Undang No. 36  mengenai Telekomunikasi pasal 1 ayat 1, menyatakan bahwa “Telekomunikasi adalah setiap pemancaran, pengiriman, dan atau penerimaan dari setiap informasi dalam bentuk tanda2, isyarat, tulisan, gambar, suara, dan bunyi melalui sistem kawat, optik, radio, atau sistem elektromagnetik lainnya”.

Dari pernyataan tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa media internet pun termasuk ke dalam alat komunikasi yang dimaksud. Segala macam bentuk penyalahgunaan dalam penggunaan alat  telekomunikasi yang disebut dalam undang-undang telah diatur dalam beragam pasal sesuai dengan jenis penyalahgunaannya masing-masing. Pihak yang melakukan penyalahgunaan akan dijerat dengan hukum pindana dengan hukuman terberat 15 tahun penjara dan dengan sebesar 600 juta rupiah.

Oleh sebab itu, pendapat saya mengengenai UU tersebut, dengan ketentuan pidana yang begitu berat, penggunaan teknologi dapat dibatasi agar tidak merugikan pihak lain. Kesimpulannya adalah tidak terdapat keterbatasan dalam Undang-Undang No 36 tentang telekomunikasi selama pihak yang menggunakan Undang-Undang  mengerti  dan memahami secara penuh isi dari UU tersebut. Sehingga tujuan awal dari UU untuk melindungi hak orang lain tidak berbalik merugikan.