Cerpen

Cerpen

Cerpen

Sudah hampir dua tahun, aku menjadi mahasiswa di Gunadarma. Kebetulan Chandra-Pacarku kuliah di kampus ini. Dia duduk di kelas 2EB13. Aku senang sekali, karena selain bisa selalu bersama Chandra, aku memiliki sobat yang dapat menerimaku apa adanya,,,Lasma namanya…
Hooooorrreee…
Teriakan teman-teman sekelas yang bergembira karena jam mata kuliah telah selesai, kelas yang tadinya hening menjadi ramai dipenuhi oleh canda tawa mahasiswa.
Tiba-tiba saja sahabatku mulai memprotes penampilanku. “apa kamu sadar?? Penampilanmu beda dari anak-anak lainnya..” Ucapnya yang mulai mengeluarkan pendapatnya tentang diriku.
Katanya aku sangat mungil, dengan badanku yang 145cm, raut wajahku terlihat unik seperti hamster, rambutku seperti landak yang mungkin terlihat sangat tipis.
dia juga berkata kalau aku bagaikan peri. Katanya hatiku seperti cahaya yang bersinar terang namun tidak menyilaukan. Aku tambah tidak mengerti apa maksudnya berkata seperti itu, saat ia menatapku dengan tatapan yang beda dari biasanya dia langsung melanjutkan perkataannya,” Sebenarnya aku mencintai Chandra, kekasihmu..”
“apa…??” Aku langsung teriak histeris saat ia mengucapkan kata terakhirnya tadi. sejak saat itu aku berfikir, sebenarnya ada apa sibalik semua ini?? Padahal selama ini kami bagai pinang dibelah dua. Suka duka kami hadapi bersama. Ia selalu ada saat aku merasa kesepian dan ia selalu membuatku nyaman. Namun sekarang sungguh semua ini berada diluar dugaanku. Mengapa ia mencintai orang yang jelas-jelas setiap waktu aku selalu curhat tentang isi hatiku pada Lasma tentang kekasihku.
Aku tahu hidup memang penuh arti dan aku sadar tak ada yang tak mungkin.
“aku masih dililit Tanya tentang cintamu sampai datang keraguanku yang membuyarkan kesetiaanmu padaku. Mengapa kau mau jadi kekasihku?? Padahal kau tahu, aku berbeda dengan mereka, aku aneh, orang-orang sering mengejekku” Tanyaku pada Chandra.
“apa kau mau tahu tentang perasaanku padamu? Sentuhlah dadamu dan rasakan dalam-dalam..getar rinduku tak pernah berpaling dari sisimu sampai detik ini. Tak pernah ku ingkari, aku selalu menemukan arti kebahagiaan saatku berada disisimu. Aku tak pernah menyesal memilihmu sebagai kekasihku. Tak ada kata yang harus aku sembunyikan kalau pada kenyataanya aku sangat mencintaimu. Lagipula kau sangat berbakat, kau bisa berorganisasi, kau bisa membuat puisi yang sangat menyentuh hati, suaramu juga enak didengar. Selain itu, kau benar-benar peduli dengan apa yang ada di sekitarmu. Apa kau sadar? Kau sangat istimewa. Tapi tunggu, mengapa tiba-tiba kau bertanya seperti ini?” Balasnya sambil memandangku penuh keheranan.
“ Entah mengapa aku takut kehilangan dirimu” Ujarku. “Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu, percayalah” Jawabnya dengan nada kepastian.
Setelah beberapa hari, ku lihat Lasma tampak murung, tidak biasanya ia sering melamun sendirian. Aku mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa berfikir panjang aku bergegas mengikutinya dari belakang.
“Plaaakkk…”
“hai..Apa kabar?? Sedang apa kamu disini?” Terdengar olehku suara yang tidak asing ditelinga. Ternyata dia Linduben, ketua kelas saat semester 1 dan 2. Dia sedang bersama dengan Isti, Dewi, Dame dan Atdoben saudara kembarnya.
“Sssstttt…”
“kabar baik. Udah ya, aku lagi buru-buru nih. Maaf yah.”Ujarku sambil terus berjalan mengikuti ke arah Lasma pergi. Terlihat olehku Lasma memasuki Cafe tempat dimana aku selalu pergi ke cafe ini bersamanya. Lalu aku berjalan memasuki Cafe “Dexi_Child Gaol”. Tampak olehku Lasma mendekati seorang pria dan ternyata pria itu Chandra, kekasihku.
Padahal aku sangat percaya dengan omongannya saat itu. Langsung saja aku mensdekati mereka dan akupun berkata pada mereka bahwa aku muak dengan tingkah mereka. Lalu, aku bergegas pergi meninggalkan Cafe itu walaupun sempat pada awalnya mereka so’ ingin memberi penjelasan padaku namun aku tidak menghiraukan mereka.
Menurutku mereka sama seperti yang lainnya. Tak ada yang mengwerti perasaanku. Aku seperti terbangun dari mimpi yang panjang, tertampar warasku oleh cinta yang memaksaku untuk membenci sahabatku. Beberapa kali Lasma mencoba menghubungiku lewat HP, namun aku sengaja tidak mau mengangkatnya karena aku tidak sanggup menerima kenyataan ini.
“Uniq…tunggu…” Teriak Lasma sambil berusaha mengejarku. “ Ada apa? Sudah puas kamu merampas semua kebahagiaanku, atau justru malah kurang? Jadi ini yang namanya sahabat? Ga’ nyangka yah, orang yang selama ini aku percaya ternyata ga beda dari seorang pecundang” Ucapku sambil berlogat sinis.” Awalnya ku lihat adalah cahaya terang merona diwajahmu. Kini, hanya gelap yang menggantung di kepala”Sambungku. Aku langsung pergi meninggalkannya. Namun ia terus saja berusaha memberi penjelasan. Akhirnya aku mau mendengarkannya. “Niq.. kamu salah. Aku nggak seperti yang kamu fakir. OK. Sekarang aku jujur. Sebentar lagi kita gak akan bisa bersama-sama seperti dulu lagi” Jelasnya dengan air mata yang mulai mengalir melewati pipi indahnya bagai embun yang jatuh di kegelapan malam.
Awalnya aku tak percaya apa yang ia katakan, lalu ia melanjutkan perkataannya. “ Orang tuaku bilang, kami sekeluarga harus pindah ke Paris karena ayahku dipindahtugaskan ke sana. Kamu masih ingat Niq? Saat aku bilang aku menyukai Chandra? Sebenarnya bukan itu maksudku. Maksud aku berbicara seperti itu, supaya kamu gak sedih saat aku pergi nanti. Supaya ada yang bisa menggantikan posisiku dihatimu. Saat itu aku menemui Chandra hanya sekedar menitip pesan agar ia benar-benar tulus mencintaimu dan mau menemanimu saat kamu merasa kesepian karena aku nggak akan penah bisa kayak gitu lagi Niq.. dan aku benar-benar minta maaf atas semua perilaku ku padamu yang mungkin membuatmu menjadi kesal kepadaku”.
Saat kata-kata itu terlontar dari bibirnya, aku takjub mendengarnya. Kini suka telah menjelma nestapa, berkubung nelangsa diayun luka. Tak terasa air mata ini mulai mengalir. Tangis ini karena rasa penyesalanku yang begitu mendalam. Tak seharusnya aku berburuk sangka kepada sahabatku yang selama ini selalu membuat aku bahagia. Aku memang sangat bodoh. Namun, apa boleh buat?? Nasi sudah menjadi bubur.
Saat ini aku benar-benar merasa kehilangan. Yang awalnya ku fakir kehilangan Chandra, namun ternyata aku kehilangan sahabat terbaikku yang tak akan pernah tergantikan oleh siapapun yaitu Lasma si wanita berhati emas..

Baca Juga :