Dorong GLN, Kemendikbud Imbau Tingkatkan Kualitas Bacaan Masyarakat

Dorong GLN, Kemendikbud Imbau Tingkatkan Kualitas Bacaan Masyarakat

Dorong GLN, Kemendikbud Imbau Tingkatkan Kualitas Bacaan Masyarakat

Dorong GLN, Kemendikbud Imbau Tingkatkan Kualitas Bacaan Masyarakat
Dorong GLN, Kemendikbud Imbau Tingkatkan Kualitas Bacaan Masyarakat

Kepala Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan

dan Kebudayaan (Kemendikbud), Dadang Suhenar mengajak semua pihak untuk terlibat dalam program Gerakan Literasi Nasional (GLN), terutama dalam membantu menyediakan dan mendistribusikan buku bacaan berkualitas.

Melalui momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ini, Dadang mengajak masyarakat agar gemar membaca buku-buku yang memiliki kompleksitas wacana yang lebih baik. “Karena, fondasi utama pendidikan adalah penguasaan literasi yang baik. Ketika pendidikannya bagus, kami yakin sebuah negara akan maju,” ujarnya saat membuka peringatan Hardiknas di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Selasa (30/4/2019) seperti diwartakan

Ia menuturkan, berdasarkan kajian World Economy Forum 2017, kualitas bahan bacaan sangat

menentukan kemajuan suatu bangsa. Dari kajian yang dirilis forum tersebut, masyarakat Indonesia ditengarai mampu membaca lebih lama dibandingkan warga Jepang dan Australia. Hal tersebut bisa menjadi modal untuk mengembangkan GLN ke arah yang lebih efektif dan masif.

“Tapi, kualitas bahan bacaannya masih belum baik. Kita harus akui, tingkat literasi di sebagian masyarakat belum tinggi, terutama di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T),” tambahnya.

Dadang menjelaskan, setidaknya ada 6 kategori yang harus dikuasai masyarakat maju di dunia literasi. Yakni, literasi membaca berpenalaran tinggi, literasi digital, literasi finansial, literasi numerik atau menghitung, literasi ilmu pengetahuan, dan literasi kewargaan. “Khusus literasi digital, masyarakat Indonesia menjadi yang paling masif dalam penggunaan internet dibandingkan negara lain,” katanya.

Ia pun mendorong seluruh masyarakat agar mulai meningkatkan kualitas bacaan

, ditopang kerja sama antara pemerintah pusat, daerah, dan lembaga swasta. “Bacaan kritis itu harus ditingkatkan, jangan terus-menerus membaca Si Kancil nyolong sayuran. Wacananya mesti lebih kompleks. Karena, semakin kompleks wacana sebuah buku, saya yakin tingkat kemahiran bernalar kita juga akan semakin baik,” tuturnya.***

 

Baca Juga :