Forum Rektor Tolak Secara Halus Usulan Presiden soal Pendidikan

Forum Rektor Tolak Secara Halus Usulan Presiden soal Pendidikan

Forum Rektor Tolak Secara Halus Usulan Presiden soal Pendidikan

Forum Rektor Tolak Secara Halus Usulan Presiden soal Pendidikan
Forum Rektor Tolak Secara Halus Usulan Presiden soal Pendidikan

Belakangan ini kopi tidak hanya sekadar menjadi sajian minuman bagi masyarakat. Bahkan sudah menjadi gaya hidup yang kekinian bagi semua kalangan. Terutama untuk anak muda. Atas dinamika itu Presiden Jokowi mengusulkan para rektor untuk membuka fakultas kopi di perguruan tinggi yang dipimpin. Akan tetapi tawaran itu ditolak secara halus dari Forum Rektor Indonesia (FRI).

Usulan ini dikemukakan Jokowi melakukan kunjungan kerja ke Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Menurut Jokowi, gaya hidup baru yang menjangkiti masyarakat Indonesia khususnya kalangan anak muda mengakibatkan lahirnya warung kopi kekinian di sejumlah kawasan.

“Kalau pulang dari sini mungkin bapak-bapak dan ibu-ibu rektor-rektor di sini boleh coba untuk buat khusus fakultas sendiri untuk kopi. Setiap Universitas kalau ada fakultas kopinya kan lumayan bagus itu,” kata Jokowi disambut gelegar tawa para rektor dalam Konferensi 2018, Forum Rektor Indonesia (FRI), Konvensi Kampus XIV dan Temu Tahunan XX FRI di Kampus Unhas, Makassar, Kamis (15/2).
Forum Rektor Tolak Secara Halus Usulan Presiden soal Pendidikan
Ilustrasi kopi (Pixabay.com)

Menurut Jokowi budaya itu adalah sesuatu yang positif untuk merespons perkembangan zaman. Salah satu bukti begitu modernnya globalisasi saat ini bermunculannya berbagai budaya baru di kalangan masyarakat.

Tantangan membuat fakultas kopi ini sejalan dengan sumber daya alam (SDA)

Indonesia yang memiliki hasil kopi begitu melimpah ruah. “Jadi kalau Universitas-universitas yang ada buka fakultas kopi ini, maka banyak lagi jurusan-jurusannya. Terbagi lagi. Ada yang khusus teliti kopi espresso, kopi latte dan yang lainnya yang berhubungan dengan kopi,” ucap Jokowi lagi.

Selain kopi, orang nomor 1 di Indonesia itu juga mengusulkan perguruan tinggi juga membuka fakultas khusus sepak bola. Menurutnya, agar sepak bola Indonesia bisa berkembang mesti ada fakultas dalam suatu pendidikan tinggi yang khusus membidangi persoalan sepak bola.

“Biar kita tidak kalah terus dengan negara lain. Kalau bisa yah, lebih bagus lagi.

Ada yang konsen di fakultas kopi, ada juga di fakultas sepak bola khusus,” terangnya.

Di luar itu mantan Gubernur DKI Jakarta itu menekankan pentingnya memberikan ruang dan peluang bagi setiap sumber daya manusia (SDM) yang ada di setiap perguruan tinggi. Dengan upaya itu Indonesia bisa bersaing dengan negara-negara lain dalam berbagai sektor, khususnya merespons peradaban yang semakin modern.

Di tempat yang sama, Ketua FRI Prof Suyatno tidak merespons secara langsung tawaran sang presiden.

Disebutkannya, dalam pertemuan tahunan ini FRI akan membahas tentang hasil

dari kajian-kajian akademik yang selama ini dilakukan. Di antaranya membentuk penguatan tentang ekonomi maritim dan perencanaan pembangunan nasional yang sejalan dengan rencana pemerintah.

“Hasilnya nanti akan kami sampaikan kembali ke bapak Presiden untuk bagaimana mempertimbangkan tawaran gagasan-gagasan dari hasil kajian-kajian itu dari FRI. Untuk sama-sama mengawal dan bersinergi dengan pemerintah demi terbentukanya sumber daya manusia yang kompetitif dalam memajukan bangsa,” tutupnya.

 

Sumber :

https://dcc.ac.id/blog/puisi-lama/