Flexmedia.co.id

Flexmedia.co.id situs website pendidikan yang menyajikan informasi-informasi yang bermanfaat bagi pelajar

Gambaran Ringkas Tentang Sejarah Teori-Teori Sosiologi

Gambaran Ringkas Tentang Sejarah Teori-Teori Sosiologi

Pengertian Teori

Suatu  teori pada hakikatnya merupakan antara dua fakta atau lebih atau pengaturan fakta menurut cara-cara tertentu. Fakta tersebut merupakan sesuatu yang dapat diamati dan pada umumnya dapat diuji secara empiris. Oleh sebab itu, dalam bentuknya yang paling sederhana, suatu teori merupakan hubungan antara dua variable atau lebih, yang telah diuji kebenarannya. Suatu variable merupakan karakteristik dari orang-orang, benda-benda atau keadaan yang mempunyai nilai-nilai yang berbeda, seperti misalnya, usia, jenis kelamin, dan lain sebagainya. Teori-teori tersebut mempunyai beberapa kegunaan, antara lain :

  1. Suatu teori atau beberapa teori merupakan ikhtisar daripada hal-hal yang telah diketahui serta diuji kebenarannya yang menyangkut objek yang dipelajari sosiologi.
  2. Teori memberikan petunjuk-petunjuk terhadap kekurangan-kekurangan pada seseorang yang memperdalam pengetahuannya dibidang sosiologi.
  3. Teori berguna untuk lebih mempertajam atau lebih mengkhususkan fakta yang dipelajari oleh sosiologi.
  4. Suatu teori akan sangat berguna dalam memgembangkan sistem klasifikasi fakta, membina struktur konsep-konsep serta memperkembangkan definisi-definisi yang penting untuk penelitian.
  5. Pengetahuan teoritis memberikan kemungkinan-kemungkinan untuk mengadakan proyeksi sosial, yaitu usaha untuk dapat mengetahui kearah mana masyarakat akan berkembang, atas dasar fakta yang diketahui pada masa yang lampau dan pada dewasa ini.
  6. Perhatian terhadap Masyarakat Sebelum Comte

Sosiologi dapatlah dikatakan merupakan suatu ilmu pengertian yang relative muda usianya, karena baru mengalami perkembangan sejak masanya Comte tersebut.

Seorang filosof barat yang untuk pertama kalinya menelaah masyarakat secara sistematis adalah Plato (429-347 S.M), Seorang filosof romawi. Sebetulnya plato bermaksud untuk merumuskan suatu teori tentang bentuk Negara yang bercita-citakan, yang organisasinya didasarkan pada pengamatan yang kritis terhadap sistem-sistem sosial yang ada pada zamannya. Plato menyatakan, bahwa masyarakat sebenarnya merupakan refleksi dari manusia perorangan. Intelegensia merupakan unsur pengendali,sehingga suatu Negara juga merupakan refleksi dari ketiga unsur yang berimbang atau serasi tadi.

Pengertian politik dipergunakannya dalam arti luas, yakni mencangkup juga masalah-masalah ekonomi dan sosial sebagaimana halnya dengan plato, maka perhatiannya terhadap biologi menyebabkan dia mengadakan suatu analogi antara masyarakat dengan organism biologis dari manusia. Disamping itu aristoteles menggaris bawahi kenyataan, bahwa basis masyarakat adalah moral (etika dalam arti yang sempit).

Pada akhir abad pertengahan muncullah ahli filsafat arab Ibn. Khaldun (1332-1406), yang mengemukakan beberapa prinsip, prinsip yang kokoh, untuk menafsirkan kejadian-kejadian sosial dan peristiwa-peristiwa dalam sejarah. Prinsip-prinsip yang sama akan dapat dijumpai, bila ingin mengadakan analisa terhadap timbul dan tenggelamnya Negara-negara. Faktor yang menyebabkan bersatunya manusia didalam suku-suku, clean, Negara, dan sebagainya, adalah rasa solidaritas. Faktor itulah yang menyebabkan adanya ikatan dan usaha-usaha atau kegiatan-kegiatan bersama antara manusia, pada zaman renainsance (1200-1600), tercatat nama-nama seperti Thomas More dengan Utopia-nya dan Campanella yang menulis City of the Sun. mereka masih sangat terpengaruh, oleh gagasan-gagasan terhadap adanya masyarakat-masyarakat yang ideal.

Untuk pertama kalinya politik dipisahkan dari moral, sehingga terjadi suatu pendekatan yang mekanis terhadap masyarakat. Abad ke-17 ditandai dengan munculnya tulisan Hobbes (1588-1679) yang berjudul The Leviathan, yang ditandai dengan inspirasi-inspirasi dari hukum alam, fisika dan matematika, dia beranggapan, bahwa dalam keadaan alamiah, kehidupan manusia didasarkan pada keinginan yang mekanis, sehingga manusia selalu saling berkelahi.

Dapatlah dikatakan, bahwa alam pikiran ke abad 17 tadi ditandai oleh anggapan-anggapan, bahwa lembaga-lembaga permasyarakatan terikat pada hubungan-hubungan yang tetap. Pada abad ke-18 muncullah antara lain ajaran john locke (1632-1704) dan J.J. Rousseau (1712-1778) yang masih berpegang pada konsep kontrak sosial dari Hobbes. Menurut Locke, manusia pada dasarnya mempunyai hak asasi yang berupa hak untuk hidup, kebebasan dan hak atas harta benda. Rousseau antara lain berpendapat, bahwa kontak antara pemerintah dengan yang diperintah, menyebabkan tumbuhnya suatu kolektivitas yang mempunyai keinginan-keinginan sendiri, yaitu keinginan umum. Keinginan umum tadi adalah berbeda dengan keinginan masing-masing individu.

Pada awal abad ke-19 antara lain muncul ajaran-ajaran dari sains simon (1760-1825) yang terutama menyatakan, bahwa manusia hendaknya dipelajari dalam kehidupan berkelompok. Ilmu politik merupakan suatu ilmu yang positif. Artinya, maslah-masalah dalam ilmu politik hendaknya dianalisa dengan metode-metode yang lazim dipakai terhadap gejala-gejala lain.

POS-POS TERBARU

Flexmedia

Kembali ke atas