Guru Pendamping Khusus ABK Tetap Semangat di Tengah Minimnya SDM

Guru Pendamping Khusus ABK Tetap Semangat di Tengah Minimnya SDM

Guru Pendamping Khusus ABK Tetap Semangat di Tengah Minimnya SDM

Guru Pendamping Khusus ABK Tetap Semangat di Tengah Minimnya SDM
Guru Pendamping Khusus ABK Tetap Semangat di Tengah Minimnya SDM

Mananta Adi Wijaya, seorang guru di sekolah Kramat Jati 01 pagi, Jakarta Timur itu tetap semangat dalam mendidik siswa-siswanya. Siswa yang dididiknya bukan siswa biasa, tetapi siswa istimewa atau Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

“Jangan hanya berbicara soal autisme atau down sindrom atau lambat bahasa, tetapi jika anak terlalu cerdas juga hati-hati. Mereka cenderung meremehkan hal-hal kecil, cepat bosan, dan mengalami hambatan perilaku. Cara mengajarnya pun harus ditambah digitnya,” jelasnya.

Pria kelahiran 1984 ini hanya seorang diri untuk mengajar ABK di sekolah tersebut. Dia mengungkapkan masih banyak sekolah reguler tak mempunyai GPK di tengah semangat pendidikan inklusi. Di satu sisi sekolah tak boleh menolak ABK, namun di sisi lain tenaga pendidiknya langka.
Guru Pendamping Khusus ABK Tetap Semangat di Tengah Minimnya SDM
Mananta Adi Wijaya, Guru Pendamping Khusus di SDN Kramat Jati 01 (Rieska Virdhani/JawaPos.com)

“GPK ini sangat dibutuhkan per sekolah. Setiap sekolah pasti butuh GPK

karena semua reguler wajib menerima siswa ABK minimal dua di dalam satu kelas,” katanya kepada JawaPos.com.

Selain itu, GPK juga menuntut agar nasib mereka juga diperhatikan. Karena perannya yang penting dan membutuhkan keahlian khusus, tentu perannya juga tak bisa dipandang sebelah mata. Banyak GPK yang belum diangkat menjasi PNS.

“Kami berharap nasib kami diperhatikan, sudah lama mengajar tetapi tak diangkat menjadi PNS. Memang idealnya satu sekolah cukup satu GPK, namun kalau tak ada sama sekali repot juga. Tak mungkin guru wali kelas bisa mengakomodir semua murid termasuk ABK,” katanya.

Adi sudah menghadapi ABK lebih dari lima tahun. Menurutnya, masing-masing mempunya karakteristik yang unik. Bukan hanya keterbatasan fisik, namun keterbatasan tingkat kecerdasan dan emosional juga menjadi perhatian GPK. Tak hanya anak dengan IQ rendah, anak dengan IQ melebihi rata-rata atau sangat cerdas juga menjadi perhatian.

“Jangan hanya berbicara soal autisme atau down sindrom atau lambat bahasa, tetapi jika anak terlalu cerdas juga hati-hati. Mereka cenderung meremehkan hal-halkecil, cepat bosan, dan mengalami hambatan perilaku. Cara mengajarnya pun harus ditambah digitnya,” jelasnya,

Menurut Adi, siswa ABK dapat dilihat mengalami kemajuan dari kemampuan baca tulis hitungnya (calistung). Adi bahkan menemukan metode pembelajaran sendiri dengan rumus yang dia temukan sendiri.

“Saya cari-cari formula khusus untuk bagaimana membuat cara termudah agar ABK

mengerti. Dan cara itu berhasil,” katanya.

Adi juga berupaya untuk memberikan saran kepada para orang tua yang ingin memasukkan anaknya ke sekolah inklusi sementara sang anak memiliki keterbatasan kebutuhan khusus dengan tingkat kesulitan yang berat. Menurutnya, lebih baik anak tersebut dimasukkan ke Sekolah Luar Biasa (SLB) agar mendapatkan penanganan lebih khusus.

“Ketika menceramahi orang tua, kami identifikasi dulu kebutuhan khususnya. Orang tua ceritakan riwayatnya. Kemudian kami melihat laporan identifikasi guru kelas, assesment hingga surat dari psikolog rumah sakit agar orang tua paham,” jelasnya.

Dia berharap semangat pendidikan inklusi ini tak hanya berhenti di tingkat pendidikan d

asar saja, tetapi juga berkelanjutan hingga SMP dan SMA reguler. Sebab banyak ABK justru memiliki kemampuan akdemis dan bakat yang terpendam.

“Jika diberi kesempatan dan transformasi dari SD, SMP, SMA, terus berjalan, mereka banyak juga yang mempunyai bakat untuk meraih sukses,” tutup Adi.

 

Sumber :

https://demotix.com/how-to-prevent-air-and-soil-pollution/