Flexmedia.co.id

Flexmedia.co.id situs website pendidikan yang menyajikan informasi-informasi yang bermanfaat bagi pelajar

Hukum Qurban yang di Gabungkan Dengan Niat Aqiqah

Hukum Qurban yang di Gabungkan Dengan Niat Aqiqah

Hukum Qurban yang di Gabungkan Dengan Niat Aqiqah

Pendapat pertama, TIDAK BOLE

Pendapat ini adalah pendapat ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad.

Misalnya, Pendapat Al Haitami, beliau salah seorang ulama Syafi’iyah mengatakan, “Seandainya seseorang berniat satu kambing untuk qurban dan aqiqah sekaligus maka keduanya sama-sama tidak teranggap. Inilah yang lebih tepat karena maksud dari qurban dan aqiqah itu berbeda.”
(Tuhfatul Muhtaj Syarh Al Minhaj , 41/172, Mawqi’ Al Islam)

ALASAN TIDAK MEMBOLEHKAN

Karena aqiqah dan qurban memiliki sebab dan maksud tersendiri yang tidak bisa menggantikan satu dan lainnya. Aqiqah dilaksanakan dalam rangka mensyukuri nikmat kelahiran seorang anak, sedangkan qurban mensyukuri nikmat hidup dan dilaksanakan pada hari An Nahr (Idul Adha).
(Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/1526, Multaqo Ahlul Hadits)

Pendapat kedua, BOLEH

Inilah pendapat salah satu dari Imam Ahmad, pendapat ulama Hanafiyah, pendapat Al Hasan Al Bashri.

Misalnya, Pendapat Hasan Al Bashri mengatakan, “Jika seorang anak ingin disyukuri dengan qurban, maka qurban tersebut bisa jadi satu dengan aqiqah.” Hisyam dan Ibnu Sirin mengatakan, “Tetap dianggap sah jika qurban digabungkan dengan aqiqah.”
(Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah , 5/116, Maktabah Ar Rusyd, cetakan pertama, tahun 1409 H)

JAlAN KELUARNYA

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin pernah ditanya mengenai hukum menggabungkan niat udh-hiyah (qurban) dan aqiqah, jika Idul Adha bertepatan dengan hari ketujuh kelahiran anak?

Syaikh rahimahullah menjawab, “Sebagian ulama berpendapat, jika hari Idul Adha bertepatan dengan hari ketujuh kelahiran anak, kemudian dilaksanakan qurban, maka tidak perlu lagi melaksanakan aqiqah (artinya qurban sudah jadi satu dengan aqiqah). Sebagaimana pula jika seseorang masuk masjid dan langsung melaksanakan shalat fardhu, maka tidak perlu lagi ia melaksanakan shalat tahiyatul masjid. Alasannya, karena dua ibadah tersebut adalah ibadah sejenis dan keduanya bertemu dalam waktu yang sama. Maka satu ibadah sudah mencakup ibadah lainnya. Akan tetapi, saya sendiri berpandangan bahwa jika Allah memberi kecukupan rizki, (ketika Idul Adha bertepatan dengan hari aqiqah), maka hendaklah ia berqurban dengan satu kambing, ditambah beraqiqah dengan satu kambing (jika anaknya perempuan) atau beraqiqah dengan dua kambing (jika anaknya laki-laki).”

Sumber: www.wfdesigngroup.com

Flexmedia

Kembali ke atas