Flexmedia.co.id

Flexmedia.co.id situs website pendidikan yang menyajikan informasi-informasi yang bermanfaat bagi pelajar

 Karsa ( will )

 Karsa ( will )

      Merupakan fungsi eksekutif dalam jiwa manusia. Will berfungsi mendorong timbulnya  pelaksanaan doktrin serta ajaran agama berdasarkan  fungsi kejiwaan.  Mungkin saja pengalaman agama seseorang bersifat intelek ataupun emosi, namun juka tanpa adanya peranan will maka agama tersebut belum tentu terwujud sesuai dengan kehendak reason  aatau emosi. Masih diperlukan suatu tenaga pendorong agar ajaran keagamaan itu menjadi suatu tindak keagamaan.[3]

      Jika hal yang demikian terjadi misalnya orang tersebut berbuat suatu yang bertentangan dengan kehendaknya, maka itu berarti fungsi willnya lemah . jika tingkah laku keagamaan itu terwujud dalam bentuk perwujudan yang sesuai dengan ajaran keagamaan dan selalu mengimbangi tingkah laku, perbuatan dan kehidupannya sesuai dengan kehendak tuhan. Maka berarti fungsi willnya kuat. Suatu kepercayaan yang dianut tidak akan berarti sama sekali apabila dalam keyakinan kepercayaan itu will berfungsi wajar.

      Sejalan dengan fungsi reason dan emosi , maka fungsi will pun tidak boleh berlebih-lebihan. Jika hal itu terjadi maka akan terlihat tindak keagamaannya yang berlebih-lebihan pula. Keadaan yang demikian itu akan menyebabkan penilaiaan masyarakat terhadap agama itu tidak akan mendapat tempat yang sewajarnya. Mungkin golongan yang demikian itu melaksanakan ajaran keagamaan dengan secara efisien  tetapi pada dasarnya mereka belum dapat menempatkan ajaran keagamaan pada proporsi yang sebenarnya.

      Ketiganya berfungsi sebagai:

  1. Cipta ( reason ), berperan untuk menentukan benar atau tidaknya ajaran ajaran suatu agama berdasarkan pertimbangan intelek seseorang.
  2. Rasa ( emotion ) menimbulkan sikap batin yang seimbang dan positif dalam menghayati kebenaran ajaran agama.
  3. Karsa ( will ) menimbulkan amalan-amalan atau doktrin  keagamaan yang benar dan logois.

            Beberapa pemuka teori fakulti

1)   G.M. Straton

      G .M. Straton mengemukakan teori “ konflik”. Ia mengatakan, bahwa yang menjadi  sumber kejiwaan agama adalah adanya konflik dalam kejiwaan manusia. Keadaan yang berlawanan seperti, baik-buruk,moral-immoral, kefasipan-keaktifa, rasa rendah diri dan rasa harga diri menimbulkan pertentangan ( konflik ) dalam diri manusia.

      Dikotomi ( serba dua ) termasuk menimbulkan rasa agama dalam diri manusia. Adanya dikotomi itu merupakan kenyataan dalam kehidupan jiwa manusia. Konflik selain dapat membawa kemuduran ( kerugian ) tetapi ada juga dalam kehidupan sehari-hari konflik mmbawa kea rah kemajuan, seperti konflik dalam ukuran moral dan ide-ide keagamaan dapat menimbulkan pandangan baru.[4]

      Jika konflik itu sudah demikian mecekam manusia dan mempengaruhi kehidupan kejiwaannya, maka manusia itu mecari pertolongan kepada suatu kekuasaan yang tertinggi ( Tuhan ). Seperti Sigmund Freud berpendapat bahwa dalam setiap organis terdapat dua konflik kejiwaan yang mendasar yaitu:

  1. Life-urge, ialah keinginan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dari keadaan yang terdahulu agar terus berlanjut.

sumber :

Flexmedia

Kembali ke atas