Korban Bullying Berpeluang Bunuh Diri

Korban Bullying Berpeluang Bunuh Diri

Korban Bullying Berpeluang Bunuh Diri

Korban Bullying Berpeluang Bunuh Diri
Korban Bullying Berpeluang Bunuh Diri

Maraknya aksi perundungan atau bullying semakin mengkhawatirkan. Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati mengganti istilah bullying dengan agresi sosial. Di sejumlah daerah, agresi sosial di sekolah menyebabkan korban tidak tahan lagi dan memilih bunuh diri.

Devie menjelaskan masalah agresi sosial memang erat kaitannya dengan kesehatan global

karena berujung ke dampak psikis korban atau pelaku. Namun, kata dia, sebagian besar korban agresi ini tidak berujung pada aksi bunuh diri.

“Walau dampak dari agresi ini dapat berkontribusi pada peluang bunuh diri,” katanya kepada JawaPos.com, Rabu (19/7).

Lalu siapa saja yang berpotensi menjadi target dari perilaku agresi ini?

1. Adalah mereka yang dianggap berbeda dari rekan sebayanya. Misalnya memiliki keunikan fisik seperti berat badan yang berbeda, menggunakan atribut tertentu seperti kacamata atau pakaian yang dinilai unik, anak baru atau yang dianggap tidak memiliki ciri ciri yang ‘keren’ bagi teman sebayanya.

2. Individu yang dinilai lemah atau dinilai tidak memiliki kemampuan untuk membela dirinya sendiri.

3. Individu yang depresi, cemas atau memiliki rasa percaya diri yang rendah
Individu yang tidak popular atau tidak memiliki banyak teman.

4. Individu yang tidak mampu membangun hubungan sosial yang produktif bahkan cenderung dinilai kehadiran individu tersebut menjadi gangguan bagi orang lain.

 

Lantas bagaimana profil individu yang berpeluang menjadi pelaku agresi?

1. Individu yang memiliki hubungan sosial yang luas, memiliki kekuasaan sosial yang tinggi, sangat peduli dengan citra dan popularitas dan senang mendominasi atau mengontrol orang lain.

2. Individu yang teriolasi, depresi, mudah ditekan oleh rekan sebayanya

 

3. Individu yang agresif atau mudah frustasi

 

4. Memiliki masalah di rumah dengan orang tua

5.Berpikir negatif tentang orang lain. Sulit menaati aturan. Melihat kekerasan dalam kaca mata yang positif.

6. Memiliki teman yang melakukan agresi terhadap orang lain

7. Sebagian besar pelaku bukanlah orang yang memiliki tubuh yang lebih besar ataupun lebih kuat. Namun peluang tersebut tercipta karena ketidakseimbangan kekuasaan yang datang dari sumber daya yang timpang seperti , popilaritas, kekuatan, kemampuan kognitif di mana pelaku biasanya memiliki lebih dari satu karakteristik.

 

Sumber :

https://activerain.com/profile/danuaji