Leadership Challenge

Leadership Challenge

Leadership Challenge

Inilah foto saya (sisi kiri jaket merah) bersama teman sekelas dan dosen-dosen dalam mata kuliah leadership challenge.

Ya, ini adalah kelas paling masif yang pernah saya ikuti selama berkuliah di Aberdeen. Kelas ini berisi orang-orang dari 35 negara yang berbeda, dan “challenge” di judul mata kuliah ini bermakna tantangan dalam menghadapi manusia yang luar biasa bermacam ragam.

Dari jumlah negara saja sudah berarti ada berbagai macam ras, budaya, dan bahasa. Belum perbedaan agama dan kepercayaan. Kemudian perbedaan kepribadian (ekstrovert-introvert). Kemudian perbedaan cara mempersepsikan informasi (logis-perasaan), cara menciptakan dan mengolah informasi (terstruktur-acak/kreatif). Belum lagi sifat bawaan, dan banyak hal lainnya.

Manusia itu memang diciptakan sangat luar biasa beragam, dan yang harus dilakukan bukan menyeragamkan manusia namun memahami keberagaman.

Kuliah ini sangat menantang karena saya harus melakukan kerja kelompok, dan hasil kerja kelompok memiliki bobot nilai 30% dari total nilai.

Berkumpul untuk menyelesaikan masalah dengan adanya kepentingan di dalamnya bukanlah suatu hal yang mudah. Jelas, semua anggota kelompok ingin mendapatkan nilai A. Masalahnya, semua anggota memiliki persepsi bahwa caranya masing2 yang bisa membawa kelompok untuk mendapat nilai A. Tidak ada yang percaya bahwa anggota kelompok yang lain juga memiliki kemampuan. Di sinilah muncul kompleksitas.

Setiap orang ingin memimpin dan merasa harus memimpin. Sehingga terjadi konflik di dalam kelompok. Konflik kognitif (tentang ide, penyelesaian masalah) bisa berakhir menjadi konflik afektif (perasaan, emosional).

Tanpa hierarki dan struktur, manajerial tidak dapat berjalan. Menciptakan hierarki dan struktur dalam tim yang relatif baru, apalagi orang-orangnya berbakat dan memiliki latar belakang yang cukup kuat, menjadi sangat sulit.

Memerintah atau maju ke depan dan menjadi “alpha” person, berarti menciptakan konflik. Karena tidak ada yang mau merendah, semua berbakat, semua punya ego. Di sinilah kepemimpinan alami diuji dan definisi pemimpin menjadi nyata.

Sebagai ENTP, cara saya menyelesaikan masalah ini adalah dengan berkolaborasi dan supportif terhadap anggota kelompok. Saya menciptakan suasana cair tapi penuh semangat. Dengan cairnya suasana, saya dapat mempengaruhi orang-orang dominan tersebut untuk melakukan apa yang saya inginkan, tanpa membuat mereka merasa diperintah atau dipimpin.

Berdasar teori, saya menemukan bahwa ini merupakan salah satu definisi pemimpin, yaitu dapat mempengaruhi orang lain. Pengaruh di sini tidak harus dalam bentuk kekuasaan atau hierarki.

Saya ingat sebuah video mengenai seorang anak kecil yang berusaha mengangkat pohon tumbang di tengah hujan dengan ketekunan dan kegigihan, kemudian banyak orang dewasa yang melihat jadi tergerak untuk ikut mengangkat pohon, dan pohon tersebut akhirnya berhasil dipindahkan. Anak kecil itu, tanpa kekuatan, tanpa hierarki, tanpa perintah, berhasil menggerakkan orang2 dewasa untuk memindahkan pohon tumbang.

Banyak teori dan penelitian akademik di luar sana yang membahas mengenai kepemimpinan yang kolaboratif, bahkan ada yang menyebut Jazz Leadership. Sebuah kepemimpinan yang berbeda dengan konduktor orkestra, tidak berdiri di depan dan memberi aba2, namun ikut bermain musik bersama tim tanpa memberi perintah. Jazz Leadership mendengarkan timnya, beradaptasi dengan permainan timnya, dan saling mempengaruhi dalam menciptakan melodi yang harmonis.

Sayangnya, sebagai ENTP saya lebih menyukai berpikir dan mencari tahu daripada menyelesaikan masalah. Saya lebih tertantang secara kognitif, sehingga banyak ide yang saya hasilkan dan saya dalami, namun malah membuat tim kebingungan, apalagi saya tidak menciptakan struktur penyelesaian masalah.

Dari pengalaman itu saya belajar. Ada saatnya menikmati berpikir, ada saatnya harus menjadi pragmatis untuk menyelesaikan masalah. Namun, pelajaran utama yang saya dapat adalah; improvisasi dalam ide namun ciptakan struktur dalam menyelesaikan masalah.

Berikut ini hasil feedback dari teman2 yang saya gunakan sebagai bahan refleksi (karena no pic hoax), dan refleksi tersebut sangat bermanfaat untuk pengembangan diri saya sendiri:

Sumber : https://penzu.com/public/0f583643