Makna Kalimat dan Penjelasannya

Makna Kalimat dan Penjelasannya

Makna Kalimat dan Penjelasannya

Makna Kalimat dan Penjelasannya
Makna Kalimat dan Penjelasannya

Pembahasan terdahulu membicarakan tentang kalimat ditinjau dari segi bentuknya. Pembahasan selanjutnya akan membicarakan kalimat ditinjau dari segi maknanya (nilai komunikatifnya). Ditinjau dari segi maknanya, kalimat dibedakan menjadi :

Kalimat Berita

Kalimat berita atau deklaratif adalah kalimat yang memberitakan sesuatu kepada pembaca atau pendengar.

Perhatikan contoh berikut :

– Tadi malam terjadi kebakaran di Jalan Jenderal Sudirman.
– Memukau sekali penampilan kamu di panggung tadi malam.
– Tahun ini film gladiator mendapat predikat sebagai film terbaik.

Kalimat Perintah

Kalimat perintah atau imperatif adalah kalimat yang maknanya memberikan perintah untuk melakukan suatu tindakan. Dalam bentuk bahasa tulis kalimat perintah diakhiri dengan tanda seru (!), sedangkan dalam bentuk bahasa lisan, nadanya agak naik.

Perhatikan contoh berikut :

– Tolong ambilkan buku di kamar !
– Buka pintu itu lebar-lebar !

Kalimat Tanya

Kalimat tanya atau interogatif adalah kalimat yang isinya mengetahui sesuatu atau seseorang, atau kalimat yang ingin mengetahui jawaban terhadap suatu masalah atau keadaan.

Pembentukan kalimat tanya dapat diakukan dengan cara :

Menggunakan kata tanya, misalnya :

– Siapakah aktor terbaik di Piala Oscar kemarin ?
– Bagaimana penampilan dia tadi malam ?
– Mengapa kamu tidak datang di pesta kemarin ?
Mengubah intonasi kalimat (bahasa lisan), misalnya :

– Dia akan berangkat ?
– Ini tas yang kau cari ?

Menggunakan partikel tanya “kah”, misalnya :

– Inikah jawaban yang kau berikan ?
– Beginikah orang yang kau bangga-banggakan ?

Kalimat berita dapat diubah menjadi kalimat tanya dengan menggunakan intonasi tanya. Untuk memperluas kalimat tanya maka partikel “kah” dapat ditambahkan pada kata tanya.

Kalimat Emfatik

Kalimat emfatik adalah kalimat yang memberikan penegasan kepada subjek. Penegasan itu dilakukan dengan menambahkan partikel “lah” pada subjek, atau menambahkan kata sambung “yang” dibelakang subjek. Contoh :
– Ida penyebab kesalapahaman itu.
  Idalah yang menyebabkan kesalapahaman itu.
– Buruh pabrik memprotes kebijakan upah maksimun regional.
  Buruh pabriklah yang memprotes kebijakan upah maksimun regional.
Ada kalanya sebuah pertanyaan yang disampaikan itu tidak memerlukan jawaban. Pertanyaan semacam itu dikenal dengan nama pertanyaan retoris, yang erat kaitannya dengan gaya bahasa yang digunakan oleh seseorang dalam berpidato atau dalam percakapan sehari-hari, karena sipenanya beranggapan bahwa pendengar sudah mengetahui jawabannya. Misalnya :
” bukankah kebebasan yang kita inginkan selama ini sudah terpenuhi ? “
Terhadap pertanyaan semacam ini kita tidak perlu menjawabnya sebab pembicara mengajukan pertanyaan bukan untuk meminta jawaban melainkan untuk menegaskan saja.
Baca juga: