Masa Depan Energi Terbarukan

Masa Depan Energi Terbarukan

Masa Depan Energi Terbarukan

Bagi kebanyakan orang, bisnis di bidang energi terbarukan kelihatan sangat menjanjikan. Bukan hanya karena produknya yang menghasilkan emisi karbon yang rendah dan ramah lingkungan, tapi karena seakan-akan energi terbarukan adalah terobosan baru sebagai alternatif migas.

Padahal, energi terbarukan sudah ada hampir lebih dari 4 dekade yang lalu. Seperti misalnya industri wind turbine yang berdiri sejak tahun 1979 di Denmark. Bahkan di Inggris, mobil listrik sudah diproduksi pada tahun 1953 oleh Morrisons-Electricar, dan digunakan untuk pengantaran susu.

Hanya saja, baru akhir-akhir ini para pemimpin dunia sepakat untuk lebih banyak lagi menggunakan energi terbarukan, alasannya demi masa depan bumi yang lebih baik. Jika kita refleksikan, revolusi industri yang digerakkan oleh migas memang telah menyebabkan kerusakan iklim dan ekosistem bagi bumi.

Selain itu, menariknya energi terbarukan juga disumbang oleh keberhasilan Tesla dalam menciptakan kesan publik dan membuat trajectory industri otomotif, dengan hasil terobosannya di teknologi baterai dan kendaraan berenergi listrik. Walaupun, Tesla sendiri hingga sekarang masih mengalami free cash flow to firm negatif yang bisa menyebabkan kebangkrutan di masa mendatang.

Jika kita dalami laporan keuangan dan rantai pasokan bisnis energi terbarukan, posisi industri energi terbarukan saat ini tidak jauh berbeda dengan migas. Sebagian besar perusahaan di industri tersebut mengalami kesulitan dalam pengelolaan dana operasional dan manajemen investasi. Sebagai contoh, baru-baru ini Solar World AG sebagai salah satu pionir panel surya terbesar dunia dari Jerman harus gulung tikar. Contoh lainnya, perusahaan wind turbine Nordex dan panel surya Sunpower mengurangi puluhan ribu karyawannya.

Penyebabnya antara lain:

  • Perang dagang China. Selama ini pemerintah China menerapkan politik dumping untuk menguasai pasar dunia dan mematikan pesaingnya. Caranya adalah dengan mensubsidi 30% seluruh perusahaan energi terbarukan milik China. Sehingga, harga jual produk2 China sangat jauh di bawah harga pasar. Dengan strategi perangnya, China dapat menguasai 60% dari pasar panel surya. Bahkan hampir 80% perusahaan instalasi panel surya di Amerika mendapatkan produknya dari perusahaan China.
  • China menguasai pasar energi terbarukan dengan cara membangun pembangkit secara gratis, namun syaratnya tenaga kerja dan perawatan harus dari China. Pembangunan ini terutama dilakukan di wilayah Afrika. Seperti misalnya membangun wind turbine gratis di Nigeria.
  • Industri energi terbarukan sangat sensitif terhadap inovasi dan LCOE (levelized cost of electricity), sehingga produk yang dapat memberikan yield lebih tinggi secara cepat, akan menjadi lebih menarik.
  • Biaya investasi dan R&D yang sangat besar. Juga global value chain yang dapat menurunkan biaya operasional namun meningkatkan risiko geopolitik.
  • Dari sisi konsumen, Payback period untuk berinvestasi di panel surya bagi konsumen saat ini masih sekitar lebih dari 15 tahun. Sedangkan untuk wind turbine masih di kisaran 20 tahun.
  • Dari sisi konsumen, energi terbarukan memerlukan lahan yang jarang tersedia. Misalnya microhydro memerlukan aliran air yang stabil, onshore wind turbine memerlukan lahan luas dengan aliran angin stabil & tidak terganggu, offshore wind turbine memerlukan infrastruktur untuk mendirikan pembangkit dan mengalirkan listriknya.

Penyebab lainnya, industri energi terbarukan tidak sehijau yang selama ini dibayangkan orang.

Pembuatan polysilicon sebagai bahan baku panel surya dan penambangan magnet neodymium sebagai bahan baku wind turbine atau generator microhydro, menghasilkan limbah dan kerusakan lingkungan yang cukup besar. China sebagai pemasok terbesar bahan baku logam dan magnet untuk generator listrik sudah mengalami kerusakan alam karena penambangan tersebut. Saat ini pemerintah China mulai menutup pabrik-pabrik bahan baku karena kerusakan lingkungan, dan hal ini akan mengakibatkan penurunan pasokan bahan baku di masa mendatang.

Biomass di Asia Timur mengalami penolakan masyarakat untuk mendirikan pabrik karena menghasilkan emisi dan bau yang mengganggu. Pembangunan pembangkit Geothermal juga mau tidak mau harus merusak alam dan ekosistem disekitarnya. Belum lagi wind turbine aktif yang sudah menyebabkan kematian burung-burung karena menabrak baling-balingnya.

Berdasarkan data dari BP, saat ini energi terbarukan baru menyumbang sekitar 1% konsumsi energi dunia. Jika dikaitkan dengan data ini, maka untuk dapat mencapai 30% konsumsi energi dunia, energi terbarukan akan membutuhkan penambangan bahan baku dan instalasi pembangkit yang lebih masif lagi. Artinya, jika tidak ada inovasi dalam teknologi konversi atau pembangkit listrik, angka 30% dan kata “ramah lingkungan” masih jauh dari masuk akal.

Jadi, mimpi energi terbarukan untuk masa depan bumi yang lebih baik harus diimbangi dengan inovasi teknologi dan manajemen bisnis yang lebih baik. Tanpa hal tersebut, kendaraan listrik tetap akan berjalan di masa depan, namun dengan listrik yang bersumber dari generator migas…

Baca Juga :