Pengertian Kalimat dan Pola Dasar Kalimat

Pengertian Kalimat dan Pola Dasar Kalimat

Pengertian Kalimat dan Pola Dasar Kalimat
Pengertian Kalimat dan Pola Dasar Kalimat

Pengertian Kalimat

Kalimat oleh beberapa pakar didefinisikan atas berbagai pengertian, antara lain :

  • Sutan Takdir Alisyahbana menjelaskan bahwa kalimat adalah kumpulan kata-kata yang terkecil yang mengandung pikiran lengkap
  • Gorrys Keeraf, mengemukakan bahwa kalimat adalah bagian ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan. Sedangkan intonasinya menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap.
  • Fachruddin A.E mendefinisikan bahwa kalimat adalah kelompok kata yang mempunyai arti tertentu, terdiri atas subjek dan predikat dan tidak tergantung pada suatu konstruksi gramatikal yang lebih besar.
Berdasarkan ketiga pengertian di atas, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa kalimat adalah kumpulan
kata yang memiliki pengertian lengkap dan dibangun oleh konstruksi fungsional dan tidak bergantung pada konstruksi gramatikal yang lebih besar.
Misalnya :
  1. Dua bangun runtuh rumah
  2. Kue penuh kucing telah
  3. Jumpa tidak
  4. Nenek jatuh sakit
  5. Warga madura mengungsi kemarin
  6. Gusdur berangkat lagi ke Australia

Ketiga contoh di atas ( 1-3) hanyalah merupakan kumpulan kata (bukan kalimat), karena tidak mengandung makna, sedangkan ( 4-6 ) adalah kalimat.

Pola dasar Kalimat

Kalimat yang paling sederhana dalam bahasa Indonesia hanya mengandung dua unsur, yaitu S dan P. Subjek (S) dalam kalimat merupakan topik pembicaraan, sedangkan Predikat (P) merupakan bagian yang menjelaskan menerangkan, dan menyebutkan tentang subjek. Namun, kalimat kadang-kadang disertai dengan pelengkap yang disebut juga dengan objek (O).

Perhatikan contoh berikut ini :

– Nurul tertidur
– Nurul menulis surat

Kalimat pertama hanya berpola S/P saja, yaitu Nurul yang menjadi pokok pembicaraan (S), dan tertidur yang menjelaskan pokok pembicaraan tadi (P). Sedangkan pada kalimta kedua berpola S/P/O, yaitu yang menjadi pokok pembicaraan adalah Nurul (S), menulis berfungsi sebagai predikat (P), dan surat menjadi pelengkap kalimat tersebut atau objek (O).

Kalimat Tunggal

Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa bebas tanpa klausa bebas tanpa klausa terikat (Cook, 1971:38). Hal ini berarti bahwa konstituen untuk tiap kalimat hanyalah merupakan satu kesatuan. Dalam kalimat tunggal tentu terdapat semua unsur inti yang diperlukan, namun tidak tertutup kemungkinan munculnya unsur yang bukan inti seperti keterangan tempat, waktu, alat dan sebagainya. Dengan demikian, maka kalimat tunggal tidak selamanya dalam wujudnya yang pendek, tetapi dapat berwujud panjang.

Perhatikan contoh kalimat berikut ini :

– Suki tersenyum
– Tentor Bahasa Indonesia kami akan di sekolahkan ke luar negeri.

Wujud predikat kalimat tunggal dapat berupa frase nomina seperti pada contoh kalimat berikut ini :

– Dia dosen kami
– Kakak adalah pelaut

Kedua contoh kalimat diatas mempunyai predikat frase nomina. Kalimat yang predikatnya nomina disebut kalimat ekuatif. Pada umumnya, jenis kalimat ini urutannya adalah frase nomina yang pertama adalah subjek, sedangkan frase yang kedua adalah predikat.

Selain itu, wujud predikat kalimat tunggal dapat pula berupa adjektiva, seperti pada contoh kalimat berikut ini :

– Adiknya ulang tahun
– Penjelasan dari dosen itu sangat menarik.

Kedua contoh kalimat diatas masing-masing mempunyai subyek yaitu adiknya dan penjelasan dari dosen itu. Sedangkan predikatnya adalah ulang tahun dan sangat menarik. Kalimat yang adjektiva disebut kalimat statif.

Apabila kalimat statif kita dibandingkan dengan kalimat ekuatif, maka akan terlihat bahwa keduanya hanya memiliki 2 unsur fungsi inti. Akan tetapi ada perbedaan antara keduanya yaitu dalam bentuk ingkarnya. Kalimat ekuatif diigkarkan dengan kata bukan, sedangkan  kalimat statif diingkarkan dengan kata tidak.

Perhatikan contoh kalimat berikut :

– Andi bukan adik saya (ekuatif)
– Neneknya tidak meninggal (statif)

Adapula kalimat tunggal yang mempunyai predikat verbal. Pada bagian ini dapat dibedakan antara verba transitif dengan intrasitif. Apabila verba yang mengikuti subyek tidak membutuhkan pelengkap, maka kalimat tersebut dinamakan kalimat intransitif.

Perhatikan contoh berikut ini :

– Mobil itu tabrakan
– Ayu menyanyi

Seperti halnya dengan kalimat tunggal yang lain, kalimat tunggal intransitif dapat diiringi oleh unsur bukan inti seperti keterangan waktu, tempat, cara, dan keterangan alat. Sedangkan verba yang mengikuti subyek memerlukan pelengkap, maka kalimat tersebut dinamakan kalimat TRANSITIF.

Perhatikan contoh berikut :

– Polisi itu menangkap pencuri
– Iwan menangis atas kematian Ibunya.

Kalimat Majemuk

Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas beberapa klausa bebas (Tarigan, 1983 ; 7). Dalam mengadakan klasifikasi kalimat majemuk, dasar yang digunakan adalah melihat hubungan antara pola-pola kalimat yang membentuknya. Apabila kalimat majemuk itu terjadi perluasan salah satu bagiannya, maka sudah jelas pola yang satu lebih rendah kedudukannya dengan pola yang sudah ada. Dan sebaliknya, jika kalimat majemuk terjadi dari penggabungan 2 kalimat atau lebih maka sifat hubungannya akan setara. Dengan demikian dapatlah dibedakan kalimat majemuk itu menjadi :

Kalimat Majemuk Setara

Kalimat majemuk setara adalah kalimat yang terjadi dari kalimat-kalimat tunggal yang digabungkan dan masing-masing kalimat itu masih dapat berdiri sendiri sehingga pola-pola kalimatnya tetap sederajat. Adapun kata-kata yang dapat digunakan untuk membentuk kalimat majemuk setara ini dapat dibagi menjadi :

  • Setara menggabungkan

– Fajar pergi ke kampus dan Riri pergi ke sekolah
– Fitri bangun pagi, sesudah itu dia berolah raga.

  • Setara memilih

– Ari atau Adi yang akan menjemput Ibu di pelabuhan ?.
– Saya pergi sendiri atau kau mau menjemputku ?.

  •  Setara mempertentangkan

– Bapaknya seorang hakim, sedangkan anaknya adalah tersangka.
– Ayu bukan adik saya, melainkan teman saya.

Kalimat Majemuk Bertingkat

Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang pola-polanya tidak sederajat. Salah satu polanya menduduki fungsi yang lebih tinggi dari pada pola yang yamg lain.  Bagian yang lebih tinggi kedudukannya itu disebut induk kalimat, sedangkan bagian yang lebih rendah kedudukannya disebut anak kalimat.

Perhatikan contoh berikut ini :

– Hal itu sudah kau katakan kepadaku.
– Katanya memang begitu.

Kedua contoh kalimat di atas dapat diperluas sehingga terbentuklah kalimat majemuk bertingkat, baik perluasan subjek maupun perluasan predikat.

Perhatikan contoh perluasan di bawah ini :

– bahwa engkau menolak cintanya, membuat dia kecewa
(anak kalimat pengganti subjek)
– katanya memang dia tidak berminat menghadiri pesta itu tadi malam
(anak kalimat pengganti predikat)

Selain perluasan kedua gatra di atas (subjek dan predikat) sering pula dijumpai perluasan gatra tambahan, seperti :

– Fitri menulis surat. Diperluas menjadi ;
– Fitri menulis surat untuk temannya di Jakarta.

Sumber: https://www.pendidik.co.id/