Flexmedia.co.id

Flexmedia.co.id situs website pendidikan yang menyajikan informasi-informasi yang bermanfaat bagi pelajar

Penyebab Krisis Moneter

Penyebab Krisis Moneter

     Proses integrasi perekonomian Indonesia ke dalam ekonomi global yang cepat tidak diikuti oleh infrastruktur perekonomian (sektor usaha, sektor keuangan/perbankan perngkat hukum dan pemerintahan) Indonesia. Perangkat kelembagaan bagi bekerjanya ekonomi pasar yang efisien ternyata tidak tertata, akibatnya ekonomi menjadi rentan terhadap gejolak eksternal sebgaimana terjadi pada pertengahan tahun 1997. Kelemahan informasi memperburuk kualiatas keputusan yang diambil oleh dunia usaha dan pemerintah. Terdapat lima faktor ynag mengakibatkan kondisi ekonomi mikro perbankan nasional menjadi rentan terhadap gejolak ekonomi :

  1. Adanya jaminan terselubung (implict guarantee) dari bank sentral atas kelangsungan hidup suatau bank utnuk mencegah kegagalan sistemik dalam industri perbankan tealh menimbulkan moral hazard dikalangan pengelola dan pemilik bank.
  2. Sistem pengawasan oleh bank sentral belum efektif karena belum sepenuhnya dapat mengimbangi pesat dan kompleksnya kegiatan perbankan.
  3. Besarnya pemberia kredit dan jaminan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada individu atau kelompok usaha yang terkait dengan bank telah mendprpng tingginya resiko kredit macet yang dihadapi bank.
  4. Lemahnya kemampuan menenjerial bank tealah mengakibatkan penurunan kualitas aset produktif dan peningkatan resiko yang dihadapi bank.
  5. Kurang transparannya informasi mengenai kondisi perbankan selain telah mengakibatkan kesulitan dalam melakukan analisis secara akurat tentang kondisi keuangan suatu bank juga tealah melemahkan upaya untuk melakukan kontrol sosial dan menciptakan disiplin pasar.

     Berbagai kelemahan ini mengakibatkan dunia usaha cenderung melakukan investasi berlebihan pada sektor ekonomi yang rentan terhadap perubahan nilai tukar dan suku bunga, seperti sektor properti.

Ada dua alasan yang mendorong kecenderungan investai yang berlebih, pertama dinamisme perekonomian Indonesia yang semakin meningkat tealh menimbulkan keyakinan yang berlebihan pada investorasing sehingga mengurangi kehati-hatian mereka memberikan pinjaman kepada dunia usaha di Indonesia. Kedua, dunia usaha dalam negeri memanfaatkan perbedaan suku bunga dalam dan luar negeri yang cukup besar sehingga arus modal masuk dari luar negeri. Terutama dalam bentuk pinjaman swasta. Ketersediaan pembiayan yang mudah membuat swasta menjadi tidak hati-hati dalam kegiatan usaha yang menimbulkan kerentanan sektor swasta terhadap gejolak nilai tukardan mendorong kepailitan pada banyak perusahaan swasta.

Selanjutnya kelemahan-kelemahan fundamental mikroekonomi mengakibatkan ketergantungan pada sektor luar negeri, khusunya utang luang negeri sektor swasta kepada sektor luar negeri terus meningat sejalan dengan pesatnya investasi 1996. Dengan kondisi perekonomian yang seperti ini menimbulkan gejolak nilai tukar yang terjadi sejak 1997 berubah menjadi krisis ekonomi dan keuangan yang dalam.

     Disektor perbankan, krisis nilai tukar yang terjadi telah menyebabkan tergnggunya fungsi intermediasi yang ditandai dengan banyaknya bank menjadi insolvent. Hal ini terjadi karena meningkatnya kerentanan terhadap posisi hutang dalam USD sehingga memberatkan sisi lialbility non performing loanakibat banyaknya debitur yang gagal bayar (default). Sementara itu upaya pengetatan likuiditas melalui kenaikan suku bunga yang dilakukan guna menstabilkan inflasi dan nilai tukar rupiah. Krisis yang berkelanjutan menyebabkan perbankan semakin rawan. Kepercayaan masyarakat menurun itu terlihat dari pemindahan dana oleh penabung ke instrumen atau bank yang lebih aman baik dalam atau luar negeri. Tingginya bantuan likuiditas yang diberikan oleh bank sentral untuk bank-bank tealh mendorong peningkatan uang beredar sehingga tingkat inflasi semakin tinggi akibat depresiasi rupiah besar.

     Kebijakan yang daimbil selama krisis terfokus pada kepada pengembalian kestabilan makroekonomi dan membangun kembali infrastuktur ekonomi, khususnya sektor perbankan dan dunia usaha.

Berikut adalah program ekonomi yang diterapkan anatara lain sebagai berikut :

  1. Dibidang moneter, untuk mengurangi laju inflasi dan penurunan atau depresiasi nilai mata uang secara berlebihan.
  2. Dibidang perbankan, memperbaiki sistem perbankan berupa program restruktrisasi untuk mencegah hal serupa lagi.
  3. Dibidang fiskal, terfokus pada upaya relokasi pengeluaran untuk mengurangi social cost yang disebabkan krisis ekonomi.

Program Pemulihan Sektor Perbankan

Terganggunya fungsi perbankan sebagai lembaga intermediasi dan alat transmisi kebijakan moneter  dan kurang efektif dalam mencapai sasaran nya. Berikut langkah yang diambil dalam uapaya pemberdayaan perbankan :

  1. Melaksanakan program rekapitalisasi bagi bank-bank yang masih dapat dipertahankan
  2. Melakukan restrukturisasi kredit
  3. Pengembangan infrastruktur perbankan
  4. Perbaikan dan penyempurnaan fungsi pengawasan bank

sumbe r:

https://thesrirachacookbook.com/seva-mobil-bekas/

Flexmedia

Kembali ke atas