Peran Wanita Dalam Melahirkan Pemimpin Ummat

Peran Wanita Dalam Melahirkan Pemimpin Ummat

Peran Wanita Dalam Melahirkan Pemimpin Ummat
Peran Wanita Dalam Melahirkan Pemimpin Ummat

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas, tentang peran wanita dalam melahirkan calon pemimpin umat masa depan. Mendefinisikan “Wanita” akan banyak memunculkan defenisi atau aturan-aturan tentang wanita itu sendiri tergantung dari sudut pandang mana kita berangkat dan akan mengarah kemana teori yang akan kita angkat, lebih jelasnya mari kita simak berikut ini.

Satu hal yang pasti bahwa wanita adalah salah satu bagian dari kita “al-ins” (insan/manusia). Sadar atau tidak, setiap insan adalah pemimpin, paling tidak memimpin diri sendiri. Kitalah yang akan mengarahkan seluruh potensi diri menuju kebaikan dan kebatilan. Kita pula yang akan menuntun seluruh anggota tubuh pada amalan surga atau neraka. Dan tentu saja semua itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Rabbul Izzati.

Kepemimpinan menjadi sebuah sunnatullah

Rasulullah SAW menegaskan: “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kepemimpinan akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari).

Keterpurukan umat saat ini merupakan bagian dari kepemimpinan yang tidak amanah. Kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan ketidakberdayaan menjadi satu paket dengan moral pemimpin yang menyia-nyiakan tugasnya. Dan demikianlah ketentuan Allah SWT ketika syariatnya mulai ditinggalkan.
Amanah besar tentu saja membutuhkan pengorbanan yang tidak kecil. Amanah kepemimpinan menjadi agenda utama bagi kaum muslimin saat ini paling tidak memimpin diri sendiri karena tidak mungkin memimpin yang besar jika diri sendiri terbengkalai.

Membangun suatu bagunan, setinggi dan sebesar apapun bangunan tersebut, lebih mudah ketimbang membangun manusia. Disamping jasmani, manusia memiliki akal, hati, tabiat, dan keinginan-keinginan yang berbeda-beda. Karena itu, sekali lagi, membangun manusia bukanlah pekerjaan yang mudah.

Membangun manusia agar berkualitas, cerdas akalnya dan ruhaniyahnya, membutuhkan ilmu, ketakwaan, kesabaran, pengalaman dan terutama keteladanan, bukan dengan sekedar retorika penyampaian pelajaran.

Karena itu, tugas para pendidik bukanlah sesuatu yang ringan. Memerlukan kelapangan dada, berbagai siasat, dan waktu yang agak lama sehingga tugas dan tanggung jawab ini membutuhkan ekstra kesabaran. Mereka itu mendapat amanah dari umat untuk membangun generasi yang diidamkan. Umat menyerahkan generasinya dalam wujud anak-anak agar mereka menjadikannya sebagai orang ; Menyerahkannya sebagai bejana kosong agar diisi dengan ilmu ; Menyerahkannya sebagai kata-kata kosong agar diisi dengan makna-makna; dan seterusnya.

Kemana mereka diserahkan?

Pengendalian dan pemeran utama terbentuknya generasi terbaik berada di puncak kaum wanita yang dalam kehidupan mereka memiliki tiga peranan, yaitu anak, ibu, dan istri.

Wanita yang peranannya sebagai seorang ibu memiliki kewajiban yang sangat suci dan mulia karena wanita adalah pendidik pertama. Dikatakan dalam sebuah syair, “Ibu adalah madrasah. Jika anda persiapkan, berarti anda mempersiapkan generasi yang harum namanya.” Ibu adalah guru yang penting pengaruhnya dan menjangkau seluruh dunia. Pada ibulah anak pertama kali mengenal dekapan kasih sayang, bersosialisasi, dan berinteraksi. Ibulah yang memberikan perhatian penuh kepada anak-anak dan mendidik mereka dengan baik, sehingga nantinya akan muncul tokoh-tokoh yang alim, mempunyai pemikiran yang murni, mau berbakti serta siap berjuang demi memela kepentingan umat.

Oleh karna itu seorang ibu harus memiliki kriteria sebagai berikut:

1. Tidak pernah melalaikan kewajiban-kewajiban syariat karna suatu sebab apapun meskipun hal itu untuk
mencari keridhaan suami sekalipun.
2. Berhukum dan beramal berdasarkan syariat, dalam setiap perbuatan maupun pembicaraannya.
3. Menjaga amanah, menanamkan ruh jihad dalam jiwa anak-anaknya.
4. Hatinya dipenuhi kecintaan kepada allah dan rasulnya, mengajari dan mengenalkan anak kepada
Rabb/pencipta mereka.
5. Berhati-hati agar perkataannya tidak menyelisihi perbuatannya.

Ibu adalah tiang utama yang diandalakan oleh seluruh umat islam dalam mendidik anak-anak. Dia haruslah seorang yang berakal, pintar, arif, bijaksana, terpelajar dan sempurna. Karena biar bagaimana mungkin mengharapkan kebaikan pada anak-anak kita kalau mereka besar dalam pangkuan wanita-wanita jahil. Mungkinkah diharapkan kesempurnaan mereka apabila mereka munyusu dari wanita yang kurang sempurna?

Kotornya air bermula dari kotornya tanah dan kotornya kaum bermula dari kotornya pernikahan. Barangsiapa yang dibesarkan dalam lubang ular, maka yang akan menonjol dalam dirinya adalah tabliat ular.

Akhlak itu ibaratkan tanaman. Apabila dia selalu disiramkan dengan air kemuliaan, maka dia akan menjadi akhlak yang mulia dan sebaliknya.

Ibu yang baik akan melahirkan keluarga yang baik, keturunan yang sholih dan berguna bagi umat ini, sehingga untuk mewujudkannya diperlukan perhatian dan majahadah yang besar seorang ibu (wanita) dalam membina dan mendidik anak-anaknya.

Tiga Faktor Utama
Ada tiga faktor utama yang harus diperhatikan dalam mendiddik anak-anak kita supaya nantinya bisa melahirkan generasi yang terbaik dan menjadi pemimpin bagi umat ini.

1. Pendidik jasmani

Melalui pendidikan jasmani, kita dapat memperhatikan gizi anak-anak, kesehatan dan kebersihan mereka, serta melatih mereka melakukan olahraga ringan yang dapat memperkuat otot-otot dan membangun anggota tubuh mereka. Olahraga diluar rumah juga sangat penting agar anak-anak dapat menghirup udara segar yang sangat berguna bagi kelancaran darah sehingga tubuh mereka tetap bugar.

mengingat kondisi tubuh sangat berpengaruh terhadap akal, kepentingan pendidikan jasmani menempati urutan pertama. Akan sangat membahayakan bagi individu dan umat, jika ibu tidak memperhatikan pendidikan jasmani anaknya dalam tahap perkembangan. Anak yang tumbuh dalam kondisi fisik yang lemah akan mudah sekali terserang penyakit dan wabah sehingga menghambatnya mencapai kesuksesan sehingga kehidupannya selalu bergantung pada keluarga dan umat ini.

2. Pendidikan Akal

Bayi yang lahir dibekali dengan naluri, kecendrungan dan berbagai macam kesiapan alamiah. Mengingat rumah adalah tempat pertama bagi pendidikan anak-anak, maka seorang ibu haruslah mendayagunakan naluri anak tersebut untuk kepentingan anak itu sendiri dan untuk kepentingan masyarakatnya, dengan memperkenalkan keindahan ciptaan Allah, menanamkan perasaan takut kepada Allah dan merasa selalu berada dalam pengawasan-NYA, sebab tidak ada yang tersembunyi dari pantauan Allah, apa saja yang ada dilangit dan dibumi. Semua akan diperhitungkan dihadapan Allah, meski berapapun kecilnya. InsyaAllah dengan pendidikan yang seperti ini, akan lahirlah generasi yang bisa memikul amanah apapun dengan penuh tanggung jawab.

3. Pendidikan Akhlak

Pendidikan akhlak dapat dilakukan dengan menanamkan prinsip-prinsip akhlak mulia dalam jiwa anak-anak, seperti takut kepada Allah dan berbuat untuk mencapai ridha-NYA, misalnya dengan mengajarkan ketaatan, kejujuran, amanah (dapat dipercaya), Penyantun terhadap orang yang lemah, menghormati orang yang lebih tua, pengasih kepada pembantu, sayang kepada binatang serta sifat-sifat terpuji lainnya.

Kaum ibu dianjurkan untuk sering-sering menceritakan sejarah kehidupan para Nabi agar tertanam dalam benak anak-anak bentuk kesempurnaan akhlak yang akan membuat mereka menjadi orang-orang yang ikhlas dalam melaksanakan tugas dan pekerjaannya serta jauh dari segala sesuatu yang merusak martabat mereka.
Namun, pendidikan ini tidak akan terlihat pengaruhnya atau tidak akan berbekas, kecuali sang ibu juga memiliki akhlak yang baik.
Seorang wanita yang agamanya, akhlaknya serta yang melahirkan generasi muslim seperti ini, ia tercipta untuk menjadi calon penghuni surga.

Ketahuilah para muslimah! sebagian besar penguni surga adalah kaum wanita. itu merupakan karunia Allah, meskipun banyak dari mereka yang berbuat maksiat dan dosa, namun Allah Maha Penerima Taubat. Karna itu, Wahai muslimah, bergegaslah kembali kejalan Allah, memperbaiki kualitas pribadi kita supaya bisa melahirkan generasi mudah yang bisa memimpin umat ini dan melanjutkan shaff perjuangan islam karna ditangan para pemudalah kebangkitan islam ini akan terwujud. InsyaAllah.

Sumber: https://www.catatanmoeslimah.com/