Sekolah Tanpa Pagar

Sekolah Tanpa Pagar

Sekolah Tanpa Pagar
Sekolah Tanpa Pagar

Seorang anak ogah melepas baju tidur, mungkin emoh beranjak dari mimpi. Ibunya bingung meladeni sikap anaknya. Cemas. Kebiasaan anaknya ini jelas susah ditoleransi oleh lembaga pendidikan bernama sekolah. Dan, ia laiknya orangtua kebanyakan tentu saja tak ingin anaknya tak diizinkan bersekolah hanya karena alasan sesepele itu.

Kita ingat, misalnya, anak dalam catatan Antropolog Roanne Van Voorst (2018) yang tak diizinkan bersekolah karena seragam dan sepatunya ikut hangus kala rumah mereka terbakar. Bocah yang sedang kita bicarakan ini ke mana-mana maunya juga cuma nyeker saja!

Kemudian, berkat “psikologi yang kompleks”, begitu si ibu menyebut sebab tabiat anaknya, si bocah menjadi murid di Sanggar Anak Alam (SALAM). SALAM menghendaki setiap anak berpakaian sesuka hati. Dan, karena tabiat aneh itu, tanpa pernah disadari sebelumnya, mungkin akan menjadi salah satu ketidaksengajaan terbaik dalam hidup si bocah.

Pakaian, kita tahu, sebenarnya bukanlah faktor terpenting dalam sebuah pembelajaran. Pembelajar bisa mengenakan setelan apa pun tanpa mempengaruhi kondusifitas pembelajaran. Tapi, di sekolah di republik ini seragam menjadi sebuah kewajiban. Secara tidak langsung kewajiban ini membentuk setidaknya dua hal.

Pertama, sebagaimana ditulis Saya Shiraishi, ia “menghapus perbedaan-perbedaan di antara para murid.” Seragam melupakan kenyataan bahwa murid memiliki latar belakang dan tendensi yang berbeda. Dengan kewajiban berseragam, perbedaan itu dihapus seakan sebuah mala.

Kedua, seragam adalah batas. Ia membuat jarak antara “kita” yang berseragam, dengan “mereka” yang tak berseragam. Dalam dunia pendidikan, berarti “kita” yang terdidik dengan “mereka” yang tak terdidik. Bagaimana pun, menganggap anak jalanan usia sekolah, misalnya, sebagai bocah tak terpelajar meski mereka berbakat dalam musik atau menggambar bukanlah pandangan minoritas.

Kebebasan berpakaian di SALAM selain menghargai kebebasan dan perbedaan, dalam taraf tertentu berarti suatu upaya mendefinisikan ulang pengertian belajar yang selama ini kadung mapan. Yakni, belajar itu bersekolah. Di tempat yang dikelilingi pagar tinggi, anak menghadapi buku bertumpuk (yang entah bagaimana mutunya) dan menghafalkan isinya. Pada akhir semester kelak akan diuji hafalan mereka. Hasil ingatan para murid lantas diurutkan dari tertinggi sampai terendah. Posisi teratas berarti siswa cemerlang, posisi terbawah berarti siswa-siswa runyam. Belajar menjadi sebuah laku yang tak menggembirakan.

SALAM sebenarnya hanyalah sebuah sekolah yang menyingkirkan hal-hal tidak menyenangkan itu –yang kita semua sebenarnya juga tahu. Tapi, bedanya, kebanyakan kita masih meneruskan siksaan ini. Selain di sekolah, implementasi dari pengertian belajar yang merepotkan itu juga kita temui di kampung-kampung lewat progam bernama “jam wajib belajar”. Pada jam tersebut anak-anak dilarang keluar rumah. Mereka mesti menghafal kalimat-kalimat atau rumus-rumus yang mereka mungkin tak tahu gunanya (hlm. 130).

Di SALAM, belajar itu menemukan. Manifesto pendidikan SALAM adalah: Saya temukan, saya kuasai. Dengan itu, anak-anak mulai belajar meriset sesuatu. Riset tidak dipandang sebagai hal mewah atau berat. Dan, tanpa sekat mata pelajaran, tema riset bergantung kegemaran setiap siswa setelah melalui diskusi dengan orangtua dan fasilitator. Semua terlibat. Semua murid, semua guru.

Sebagai contoh, Natalia Renane, siswi SMP SALAM, melakukan riset obat batuk herbal. Melihat banyak orang di sekelilingnya terjangkit batuk, itu membuatnya ingin menciptakan obat batuk dari bahan herbal di sekitarnya.

Jadi, berkat riset semacam itu, belajar berarti mengalami peristiwa-peristiwa menggembirakan. Terlebih,

laporan perkembangan siswa berbentuk naratif, bukannya angka. Selain menunjukkan intensitas fasilitator mengikuti perkembangan siswa, ini adalah upaya menghindarkan anak dari sifat kompetitif yang memunculkan anggapan bahwa “seseorang dianggap berprestasi apabila telah berhasil mengungguli, mengalahkan orang lain—betapa jahatnya?” (hlm. 28).

Saya ingat sebuah seloroh soal ini: “Di sekolah diajari berkompetisi, pas gede diprotes, kok kalian gak bisa kerja sama?”

Satu hal menarik dari SALAM adalah kedekatan mereka dengan lingkungan. SALAM sadar mereka merupakan bagian dari masyarakat. Kesadaran ini bahkan membuat mereka berandil besar dalam mengembalikan budaya yang nyaris hilang di lingkungan setempat seperti pesta panen.

Di sekolah di negeri ini kebanyakan selain menumbuhkan pagar tinggi, yang sepertinya tidak disadari menyumbang jarak antara siswa dengan lingkungannya, adalah pendirian tempat ibadah di kompleks sekolah. Siswa tidak diizinkan beribadah di tempat ibadah di lingkungan setempat. Ini membuat sekolah semakin menutup diri dan menjauhkan kemungkinan siswa berbaur dengan masyarakat sekitar (hlm. 77). Seolah sekolah ingin mengatakan bahwa berbaur dengan masyarakat hanya membuang waktu belajar belaka.

Tidak hanya sekolah formal, Toto Rahardjo lewat buku ini juga mengkritik “sekolah alam”

yang mulai menjamur. Sebagai lembaga pendidikan alternatif, sekolah alam kebanyakan hanyalah sebagai tempat belajar di luar ruangan semata. Sisanya tak lebih dari sekolah formal pada umumnya. Lebih tragis, tren sekolah alam cuma dijadikan wadah mengeruk duit.

Sekolah alam jenis ini hanya mereproduksi sekolah alam yang sudah ada: menempatkan kebun dan sawah di tengah sekolah. Sayangnya, mereka juga tak tahu kebun dan sawah itu untuk apa selain hiasan. “Padahal seharusnya sekolah alam merancang model pembelajarannya disesuaikan dengan kecenderungan unik anak-anak peserta didiknya serta disesuaikan dengan komunitas-komunitas masing-masing yang tentunya berbeda satu sama lain.” (hlm. 96).

Kita ingat julukan Toto-chan (dalam cerita anak Jepang yang populer karya Tetsuko Kuroyanagi)

: gadis cilik di jendela. Ia gemar berdiri di dekat jendela ketika di kelas, untuk memanggil pemusik jalanan atau menanyakan kabar burung walet. Barangkali kebiasaannya itu adalah sebuah kegelisahan kalau pendidikan mestinya tidak mengasingkan peserta didik dari lingkungan sekitarnya.

Maka, sebab itulah Toto Rahardjo tidak meminta kita yang setuju dengan idenya berbondong-bondong ke SALAM. Minggat dari tempat tinggal kita dan membiarkannya teronggok sepi. “Kalau Anda setuju,” tulis Toto Rahardjo, “mulailah dari tempat tinggal Anda.”

 

Sumber :

http://rakusen-sien.com/the-role-of-benefits-in-your-law-practice/