Syarat Pemimpin Berdasarkan Fiqih Siyasah dan Hukum Positif

Syarat Pemimpin Berdasarkan Fiqih Siyasah dan Hukum Positif

Syarat Pemimpin Berdasarkan Fiqih Siyasah dan Hukum Positif

Syarat Pemimpin Berdasarkan Fiqih Siyasah dan Hukum Positif
Syarat Pemimpin Berdasarkan Fiqih Siyasah dan Hukum Positif

 

Menurut Muhammad Amin bin Umar Abidin

bahwa syarat untuk menjadi seorang pemimpin adalah seorang muslim, merdeka, laki-laki, berakal, baligh, mempunyai kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin dan keturunan bangsa Quraisy.[21]

Syarat pemimpin menurut al-Mawardi

terbagi menjadi tujuh yaitu: Pertama: Al-adâlah. Kedua: Mempunyai ilmu pengetahuan hingga mencapai taraf mujtahid. Ketiga: Pancaindranya lengkap dan sehat dari pendengaran, penglihatan, lidah, dan sebagainya. Keempat: Tidak ada kekurangan pada anggota tubuhnya yang menghalanginya untuk bergerak dan cepat bangun. Kelima: Visi pemikirannya baik sehingga dapat menciptakan kebijakan bagi kepentingan rakyat dan mewujudkan kemaslahatan mereka. Keenam: Mempunyai keberanian dan sifat menjaga rakyat, yang membuatnya mempertahankan rakyatnya dan memerangi musuhnya. Ketujuh: Nasab dari keturunan Quraisy.

Abdul Qadir Audah menetapkan syarat khalifah delapan syarat

Pertama: Islam. Diharamkan mengangkat pemimpin seorang kafir berdasarkan (QS.Ali Imran: 28) karena seorang kepala negara yang kafir tidak mungkin mau dan bisa melaksanakan hukum syariah yang menjadi tugas khalifah. Begitu juga diharamkan mengangkat orang kafir sebagai hakim karena di tangan hakim kekuasaan hukum ditegakkan (QS. al-Nisa’: 141). Kedua: Laki-laki. Seorang wanita menurut tabiatnya tidak cakap memimpin negara, karena pekerjaan itu membutuhkan kerja keras seperti memimpin pasukan dan menyelesaikan berbagai persoalan. Ketiga: Taklif. Yaitu sudah dewasa, di mana jabatan khalifah adalah penguasaan atas orang lain. Keempat: Ilmu Pengetahuan. Yaitu ahli dalam hukum Islam sampai bila mungkin mencapai taraf mujtahid. Bahkan dituntut mengetahui hukum internasional, traktat, dan perdagangan internasional, dan lain-lain. Kelima: Adil. Yaitu menghiasi diri dengan sifat-sifat kemuliaan dan akhlakul karimah, terhindar dari sifat fasik, maksiat, keji dan munkar. Keenam: Kemampuan dan Kecakapan. Yaitu di samping mampu mengarahkan umat dia juga mampu membimbing umat ke jalan yang benar sesuai dengan Syariat Islam. Ketujuh: Sehat Jasmani dan Rohani. Yaitu khalifah tidak boleh buta, tuli, bisu, dan cacat. Kedelapan: Keturunan Quraisy. Di kalangan ulama terjadi perbedaan pendapat tentang hal ini. Karena hadits yang mengatakan imam dari Quraisy selama mereka memerintah dengan adil. Ditujukan untuk maksud terbatas, yaitu waktu dan tempat terbatas. Jadi tidak berlaku secara umum.