TANGGUNG JAWAB MANUSIA

TANGGUNG JAWAB MANUSIA

TANGGUNG JAWAB MANUSIA

TANGGUNG JAWAB MANUSIA
TANGGUNG JAWAB MANUSIA

Makna yang esensial dari kata ‘abdun ( hamba ) adalah ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan. Ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan manusia hanya layak diberikan kepada Allah, yang dicerminkan dalam ketaatan, kepatuhan, dan ketundukan pada kebenaran dan keadilan berdasarkan ketentuan Allah.

Seorang hamba

Dalam hubungan dengan Tuhan, manusia menempati posisi sebagai ciptaan, dan Tuhan sebagai pencipta. Posisi ini mempunyai konsekuensi adanya keharusan manusia menghambakan diri kepada Allah, dan dilarang menghamba pada dirinya dan hawa nafsunya. Kesediaan manusia untuk menghamba hanya kepada Allah dengan sepenuh hatinya, akan mencegah manusia pada penghambaan terhadap sesama manusia. Tanggung jawab ‘abdullah terhadap dirinya adalah memelihara iman yang dimiliki yang bersifat fluktuatif, yang dalam istilah Hadits Nabi Muhammad SAW adalah yaziidu wa nyanquushu (menguat dan melemah).

Tanggung jawab terhadap keluarga

Tanggung jawab terhadap keluarga merupakan lanjutan dari tanggung jawab terhadap diri sendiri, karena memelihara diri sendiri berkaitan dengan perintah memelihara iman keluarga. Oleh karena itu, dalam Al Qur’an dinyatakan dengan istilah quu anfusakum wa ahliikum naara ( jagalah dirimu dan keluargamu dari neraka ).

Allah dengan ajaran-Nya Al Qur’an menurut Sunnah Rasul , memerintahkan hamba-Nya ( Abdullah ) untuk berlaku adil dan ihsan. Oleh karena itu tanggung jawab hamba Allah adalah menegakkan keadilan, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap keluarga. Dengan berpedoman pada ajaran Allah, seorang hamba berupaya mencegah kekejian moral dan kemungkaran yang mengancam diri sendiri dan keluarganya. Abdullah harus senantiasa melaksanakan shalat dalam rangka menghindarkan diri dari kekejian dan kemungkaran. Hamba Allah sebagai bagian dari ummat yang senantiasa berbuat kebajikan juga diperintahkan untuk mengajak yang lain untuk berbuat makruf dan mencegah yang munkar ( QS. 3 : Ali Imran : 103 ).

Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
Demikianlah tanggung jawab hamba Allah yang senantiasa tunduk dan patuh kepada Allah menurut Sunnah Rasulullah SAW.

Tanggung Jawab Manusia Sebagai Khalifah Allah

Manusia diserahi tugas kehidupan yang merupakan amanah Allah yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya. Tugas kehidupan yang dipikul manusia di muka bumi adalah tugas kekhalifahan, yaitu tugas kepemimpinan , wakil Allah di muka bumi untuk mengelola dan memelihara alam ciptaan Allah berdasarkan ketentuan Allah,

Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang kekuasaan . Manusia menjadi khalifah memegang mandat Tuhan untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan dirinya mengolah serta mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidupnya. Sebagai wakil Tuhan, Tuhan mengajarkan kepada manusia kebenaran dalam segala ciptaan-Nya dan melalui pemahaman serta penguasaan terhadap hukum-hukum kebenaran yang terkandung dalam ciptaan-Nya, manusia dapat menyusun konsep baru, serta melakukan rekayasa membentuk wujud baru dalam kebudayaan.

Sebagai khalifah

Sebagai khalifah, manusia diberi wewenang berupa kebebasan memilih dan menentukan, sehingga kebebasannya melahirkan kreativitas yang dinamis. Adanya kebebasan manusia di muka bumi adalah karena kedudukannya untuk memimpin, sehingga pemimpin tidak tunduk kepada siapapun, kecuali kepada Allah yang memberi kepemimpinan. Oleh karena itu, kebebasan manusia sebagai khalifah bertumpu pada landasan tauhidullah , sehingga kebebasan yang dimiliki tidak menjadikan manusia bertindak sewenang-wenang. Kebebasan manusia dengan kekhalifahannya merupakan implementasi dari ketundukan dan ketaatan. Ia tidak tunduk kepada siapapun kecuali kepada Allah, karena ia hamba Allah yang hanya tunduk dan taat kepada Allah.

Kekuasaan manusia sebagai wakil Tuhan dibatasi oleh aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh yang mewakilkannya, yaitu hukum-hukum Tuhan, baik yang tertulis dalam kitab suci Al Qur’an, maupun yang tersirat dalam kandungan alam semesta ( al-kaun ). Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakilinya adalah wakil yang mengkhianati kedudukan dan perannya, serta mengkhianati kepercayaan yang diwakilinya. Oleh karena itu, ia diminta pertanggung jawaban terhadap penggunaan kewenangannya di hadapan yang diwakilinya sebagaimana firman Allah dalam QS. 35 (Fathir) : 39.

Artinya : Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, Maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.
Dua peran yang dipegang manusia di muka bumi, sebagai khalifah dan ‘abdun , merupakan perpaduan tugas dan tanggung jawab yang melahirkan dinamika hidup, yang syarat dengan kreativitas dan amaliah yang selalu berpihak pada nilai-nilai kebenaran. Oleh karena itu hidup seorang muslim akan dipenuhi dengan amaliah, kerja keras yang tiada henti , sebab kerja bagi seorang muslim adalah membentuk amal shalih. Kedudukan manusia di muka bumi sebagai khalifah dan hamba Allah, bukanlah dua posisi yang bertentangan, melainkan satu kesatuan yang padu dan tak terpisahkan. Kekhalifahan adalah realisasi dari pengabdiannya kepada Allah yang menciptakannya. Dua sisi tugas dan tanggung jawab ini tertata dalam diri setiap muslim sedemikian rupa. Apabila terjadi ketidak seimbangan, maka akan lahir sifat-sifat tertentu, yang menyebabkan derajat manusia jatuh ke tingkat yang rendah, seperti firman Allah dalam QS. 95 (al-Tiin) :

Kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka) Dengan demikian, manusia sebagai khalifah Allah dan hamba Allah merupakan kesatuan yang saling menyempurnakan nilai kemanusiaan sebagai makhluk yang memiliki kebebasan berkreasi dan sekaligus menghadapkannya pada tuntutan kodrat yang menempatkan posisinya pada keterbatasan. Perwujudan kualitas kemanusiaan tidak terlepas dari konteks sosial budaya, atau dengan kata lain kekhalifahan manusia pada dasarnya diterapkan pada konteks individu dan sosial yang berporos pada Allah, seperti firman Allah dalam QS. 3 ( Ali Imran ) : 112. Artinya : Ketika dua golongan dari padamu[13] ingin (mundur) karena takut, Padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.

Baca juga: