Tokoh Filsafat Islam AL-FARABI (257 – 337 H 870 – 950 M)

Tokoh Filsafat Islam AL-FARABI (257 – 337 H  870 – 950 M)

Tokoh Filsafat Islam AL-FARABI (257 – 337 H / 870 – 950 M)
Tokoh Filsafat Islam AL-FARABI (257 – 337 H / 870 – 950 M)

Hidup dan Karya-Karyanya

Nama aslinya Abu Nasr Muhammad Bin Muhammad Bin Tharkhan, sebutan Al Faribi diambil dari nama kota Arab. Ia dilahirkan pada tahun 257 H (870). Ayahnya adalah seorang Iran dan menikah dengan seorang wanita Turkestan kemudian ia menjadi perwira tentara Turkestan. Oleh karena itu, al Farabi dikatakan berasal dari Turkestan dan kadang-kadang juga dikatakan dari keturunan Iran.

Menurut Massiqnon, orientaslis Perancis, al Farabi adalah seorang filsafat islam pertama dengan penuh arti kata, sebelum beliau memang al Kindi telah membuka pintu filsafat Yunani bagi dunia islam. Akan tetapi ia tidak menciptakan sistem (madzhab) filsafat tertentu, sebaliknya al Farabi telah menciptakan suatu sistem filsafat yang lengkap dan memainkan peran penting dalam dunia islam, seperti peranan yang dimiliki plotinus bagi dunia barat, begitu juga al Farabi menjadi guru bagi Ibnu Sina, Ibnu dan filsafat-filsafat islam lain yang datang sesudahnya. Oleh karena itu ia mendapat gelar “Guru Kedua” (Al Mu’allim Ats Tsani) sebagai kelanjutan dari aristoteles yang mendapat gelar “Guru Pertama” (Al Mu’allim Al Awwal).
Di antara karangan-karangannya adalah :

a. aghradhu ma ba’da ath-thabi’ah
b. Al-Jam’u baina Ra’yai Al Hakimain (mempertemukan pendapat kedua filsafatm maksudnya Plato dan Aristoteles)
c. Tahsil as sa’adah (mencari kebahagiaan)
d. ‘Uyun ul-Masail (pokok-pokok persoalan)
e. Arau ahl-il madinah al fadhillah (pikiran-pikiran penduduk kota utama negeri utama)
f. Il sha’u al ulum (statistik ilmu)
Dalam buku terakhir ini al Farabi membicarakan macam-macam ilmu (bagian-bagiannya, yaitu ilmu bahasa, ilmu mantik, ilmu matekatika, fisika, ketuhanan, fiqih, perkotaan dan ilmu kalam)

Al-Farabi dan Kesatuan Filsafat

Filsafat al Farabi sebenarnya merupakan campuran antara filsafat aristoteles dan neoplatoisme dengan pikiran keislaman yang jelas dan corak aliran syiah imamiah. Misalnya dalam soal etika dan politik, ia mengikuti plato dan dalam soal metafisika, ia mengikuti plotinus, selain itu al Farabi adalah seorang filsafat sinkretisme (pamanduan) yang percaya akan kesatuan (ketunggalan) filsafat.
Pemanduan yang menonjol tampak jelas pada usahanya untuk mempertemukan hasil-hasil pemikiran plato dengan pemikiran aristoteles di satu pihak dan mempertemukan hasil-hasil pemikiran filsafat dengan wahyu di lain pihak, dengan bersenjatakan takwil (interpetensi bathin) (Al Hanafi, 1991 : 83)

Logika

Tampaknya dalam lapangan logika al Farabi banyak mengikuti Aristoteles. Adalah :
a. Definisi logika ialah ilmu tentang pedoman (peraturan) yang dapat menegakkan pikiran dan menunjukkan pada kebenaran dalam lapangan yang tidak bisa dijamin kebenarannya.
b. Guna logika, maksudnya logika ialah agar kita dapat membetulkan pikiran orang lain, atau agar orang lain dapat membenarkan pemikiran kita, atau kita dapat membetulkan pemikiran diri kita sendiri
c. Lapangan lgika, lapangannya ialah segala macam pemikiran yang bisa diutarakan dengan kata-kata dalam kedudukannya sebagai alat menyatakan pemikiran.
d. Bagian-bagian logika, yaitu kategori (al-ma’qulat al ‘asyr); kata-kata (al ibaroh, termas); analogi pertama (al qiyas); analogi kedua (al burhan); jadal (debat; sofistika; retorika dan poetika (syair), pembagian qiyas ada lima yaitu
1) kias meyakinkan (qiyas – burhani), yaitu kias memberi keyakinan
2) qiyas jadali, yaitu kiyas yang terdiri dari hal yang sudah dikenal dan bisa diterima (al-masyhurat wal musallamat)
3) kias sofistika ialah kias yang menimbulkan sangkaan bahwa sesuatu yang tidak benar kelihatan benar dan sebalinya.
4) Qiyas-khatabi, yaitu kias yang menimbulkan dugaan yang tidak begitu kuat
5) Qiyas syi’I, yaitu kias yang memakai perasaan dan khayalan untuk dapat menarik orang lain
(A. Hanafi, 1991 : 89)

Filsafat Metafisika

Hal-hal yang dibicarakannya adalah :

a. Tuhan

Al faribi terlebih dahulu membagi wujud yang ada pada hakikat Tuhan dan sifat-sifat-Nya
1) wujud yang mumkin atau wujud yang nyata karena lainnya (wajib ligharbi) seperti wujud cahaya yang tidak akan ada, kalau tidak ada matahari.
2) Wujud yang nyata dengan sendirinya (wajib al wujud lidzatih). Wujud adalah wujud yang tabiatnya itu sendiri menghendaki wujud-Nya)

b. Hakekat Tuhan

Allah adalah wujud yang sempurna dan ada tanpa suatu sebab, karena kalau ada sebab bagi-Nya berarti ia tidak sempurna, sebab bergantung kepadanya, ia adalah wujud yang paling mulia dan yang paling dahulu adanya. Oleh karena itu, tuhan adalah zat yang azali (tanpa permulaan) yang selalu ada zat-Nya itu sendiri sudah cukup menjadi sebab bagi keabadian wujud-Nya. Wujud-Nya tidak berarti terdiri dari Hule (matter, benda dan shurroh). Yaitu dua bagian yang terdapat pada makhluk, kalau itu terjadi dari kedua perkara tersebut, tentunya akan terdapat susunan (bagian-bagian pada zat-Nya)

Baca Juga: