Tokoh Filsafat Islam Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd

Tokoh Filsafat Islam Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd

Tokoh Filsafat Islam Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd
Tokoh Filsafat Islam Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd

IBNU SINA

Hidup dan karyanya

Ibnu Sina dilahirkan dalam masa kekacauan, ketika kalifah abbasyiyah mengalami kemunduran dan negeri-negeri yang mula-mula berada di bawah kekuasaan khalifat tersebut mulai melepaskan diri satu per satu untuk berdiri sendiri. Ibnu Sina dilahirkan di Afsyana, daerah Bukhara pada tahun 340 H (980 M) di Bukhoro, ia menghafal Al-Qur’an dan belajar ilmu-ilmu agama serta ilmu-ilmu astronomi katika usianya baru 10 tahun, kemudian mempelajari ilmu kedokteran pada Isa bin Yahya seorang Masehi. Hidup beliau sepenuhi dengan kesibukan, seperti bekerja di pemerintahan, mengarang, menulis, dll.

Karya-karyanya yang terkenal

a. Asy-syifa terdiri dari logika fisika, matematika dan metafisika (ketuhanan)
b. An najat
c. Al-isyarat wat-tanbihat
d. Al-hikmah al-masyriqiyyah mengenai tasawuf tetapi menurut carlos nallino, berisi filsafat timur sebagai imbangan filsafat barat
e. Al-qonun

Dasar-dasar fisika

Ibnu Sina seperti halnya al Farabi, mengambil teori tersebut dari Aristoteles, dengan mengatakan bahwa benda alam terdiri darinya (maddah) sebagai tempat dan dari shurat sebagai perkara yang bertempat padanya. Pertalian benda shurah sama dengan pertalian perunggu dengan patuh, jadi benda alam mempunyai tambahan (perkara yang mengikutinya) yaitu aradh (sifat-sifat) seperti gerak, diam dan lain-lain.

Perbedaan shurah dengan aradh ialah kalau aradh terdapat sesudah ada benda, sedangkan shurah terdapat sebelum benda,
Gerak dan diam menurut Ibnu Sina “tiap-tiap gerak terdapat perkara yang bisa bertambah atau berkurang. Sedangkan Jauhar (benda kecil/atom) tidak demikian keadaannya (tidak mengenal gerak). Dengan demikian perpindahan dari satu tempat ke tempat lain adalah gerak, begitu pula perpindahan dari putih ke hitam (dalam bahasa arab disebut istihalah) dan bertambah atau berkurangnya sesuatu bentik dikarakan juga gerak (a. hanafi, 1991 : 118)

IBNU RUSYD (520 – 595 H / 1126 – 1198 M)

Hidup dan karyanya

Ia adalah abdul walid Muhammad bin ahmad ibn Rusyd, kelahiran Cordova pada tahun 520 H, berasal dari kalangan keluarga besar yang terkenal di Andalusia (Spanyol), ayahnya seorang hakim, dan neneknya terkenal dengan sebutan “Ibn Rusyd nenek” (aljadd) kepala hakim Cordova.
Karangannya meliputi berbagai macam ilmu seperti fiqih usul, bahasa, kedokterean, astronomi, politik, filsafat, dan buku-bukunya :
a. Bidyatul mujtahidin (ilmu fiqih) yaitu berisi perbandingan madzhab
b. Fashlul-maqalfi ma baina al hikmati was-syariat min al-ittisal (ilmu kalam)
c. Manahij al-adillah fi aqaid ahl-al millah (ilmu kalam)
d. Tashafur at-thohatut (filsafat dan ilmu kalam

Dalil wujud Tuhan

Ibnu Rusyd menerangkan dalil-dalil wujud tuhan menurut syara yang meyakinkan yaitu dalil ‘inayah (pemelihara) dan dalil ihtira’ (penciptaan), yang kedia-duanya terdapat dalam al-Qur’an, menurut beliau Al-Qur’an bisa dibagi menjadi 3 golongan, Pertama, ayat berisi peringatan terhadap dalil ‘inayah. Kedua, ayat-ayat yang berisi peringatan terhadap dalil ikhtira’. Ketiga, ayat-ayat yang berisi peringatan kedua dalil tersebut bersama.
Dalil inayah apabila ala mini kita perhatikan kita akan mengetahui apa yang ada di dalamnya sesuai dengan kehidupan dan makhluk-makhluk lainnya. Persesuaian ini bukan terjadi secara kebetulan. Tetapi menunjukkan adanya penciptaan yang rapi dan teratur, yang didasarkan atas ilmu dan kebijakan, sebagaimana yang ditunjukan oleh ilmu pengetahuan modern.
Dalil iktira’, seperti halnya dengan dalil ‘inayah mendorong kita untuk mengikuti keilmuan sejauh mungkin. Dalil tersebut lebih berguna pada dalil atom / dalil wajib-mumkin dan lain-lain. Kelebihan dalil ikhtira’, ialah karena ia dipakai oleh syara’ dan menguatkan adanya kebijakan Tuhan. Banyak ayat yang berisi dalil ikhtira’ tersebut. Diantaranya ayat 5-6, surat At Thariq.

Dalil gerak yang diambil dari Arsitoteles bahwa alam semesta ini bergerak dengan sesuatu gerakan yang abadi dan gerakan ini mengandung adanya penggerak pertama yang tidak bergerak dan tidak berbenda yaitu Tuhan, tetapi juga Ibnu Rusyd mengatakan bahwa benda-benda langit beserta gerakannya dijadikan oleh tuhan dari tiada dan bukan dalam zaman, karena zaman tidak mungkin mendahului wujud cara yang bergerak, selama zaman itu kita anggap sebagai ukuran geraknya. Jadi, gerakan menghendaki adanya penggerak pertama / sesuatu sebab yang mengeluarkan dari tiada menjadi wujud (A. Hanafi; 1991 : 172)

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/