Flexmedia.co.id

Flexmedia.co.id situs website pendidikan yang menyajikan informasi-informasi yang bermanfaat bagi pelajar

Tolok Ukur Validitas Qira’at

Tolok Ukur Validitas Qira’at

Untuk menangkal penyelewengan qira’at yang sudah mulai muncul, para ulama membuat persyaratan-persyaratan bagi qira’at yang dapat diterima. Untuk membedakan antara qira’at yang benar dan qira’at yang aneh (sya’zzah), para ulama membuat tiga syarat bagi qira’at yang benar. Pertama, qira’at itu sesuai dengan bahasa Arab sekalipun menurut satu jalan. Kedua, qira’at itu sesuai dengan mushhaf utsmani. Ketiga, bahwa sahih sanadnya, baik diriwayat­kan dari imam qira’at yang tujuh dan yang sepuluh, maupun dari imam-imam qira’at yang selain mereka. Setiap qira’at yang memenuhi kriteria ini adalah qira’at yang benar yang tidak boleh ditolak dan harus diterima. Sebaliknya, qira’at yang kurang salah satu dari tiga syarat ini disebut sebagai qira’at yang lemah atau aneh atau batal, baik qira’at tersebut diriwayatkan dari imam qira’at yang tujuh maupun dari imam yang lebih besar dari mereka. Inilah pendapat yang benar menurut imam-imam yang meneliti dari kalangan Salaf dan Khalaf. Demikian ditegaskan oleh Al-Dani, Makki, Al-Mahdi, dan Abu Syamah. Bahkan, menurut Al-Suyuthi, pendapat ini menjadi mazhab Salaf yang tidak diketahui seorang pun dari mereka menyalahinya. (Ramli Abdul Wahid, 1993:119)

Mayoritas  ulama Ahlus  Sunnah   berkeyakinan bahwa tujuh qira’at di  atas  diriwayatkan  secara  mutawatir, sehingga sabda Nabi,  “Al-Qur’an  diturunkan dengan  memakai tujuh  huruf”, ditafsirkan oleh sebagian mereka sebagai diturunkan dengan me­makai  tujuh qira’at itu. Sebagian  ulama Syi’ah juga condong kepada pendapat ini. (Thabathaba’i, 1992:139)

Namun Makki menyatakan,. “Sungguh salah bila orang menganggap bahwa qira’at para qura, seperti Nafi’ dan ‘Ashim, itu adalah tujuh huruf yang disebutkan dalam hadis Nabi (di atas).” Selanjut­nya ia menyatakan, “Anggapan ini membawa konsekuensi bahwa qira’at di luar qira’at tujuh imam itu, yang telah pasti diriwayat­kan dari imam-imam selain mereka dan sesuai dengan tulisan mushaf, bukan merupakan Al-Qur’an. Ini merupakan kesalahan yang besar, sebab ahli-ahli qira’at terdahulu yang menyusun buku-buku tentang qira’at-qira’at Al-Qur’an, seperti Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam, Abu Hatim as-Sijistani, Abu Ja’far ath-Thabari dan Ismail al-Qadhi menyebutkan qira’at-qira’at yang jumlahnya beberapa lipat dari jumlah tujuh qira’at itu. (Thabathaba’i, 1992:139)

  1. Implikasinya Dalam Penafsiran

Yang menjadi persoalan adalah, apakah perbedaan-perbedaan yang ada pada qira’at itu berimplikasi pada penafsiran? Jawabnya, perbedaan-perbedaan ini sudah barang tentu membawa sedikit atau banyak, perbedaan kepada makna yang selanjutnya berpengaruh kepada hukum yang diistinbath daripadanya. Karena itu, Al-Zarkasyi berkata: (Ramli Abdul Wahid, 1993:123)

Artinya: “Bahwa dengan perbedaan qira’at timbullah perbedaan dalam hukum. Karena itu, para ulama fiqh membangun hukum batalnya wudhu’ orang yang disentuh (lawan jenis) dan tidak batalnya atas dasar perbedaan qira’at pada: “kamu sentuh” dan “kamu saling menyentuh”. Demikian juga hukum bolehnya mencampuri perempuan yang sedang haidh ketika terputus haidhnya dan tidak bolehnya hingga ia mandi (dibangun) atas dasar perbedaan mereka dalam bacaan: “hingga mereka suci”.

Menurut qira’at Nafi’ dan Abu ‘Amr dibaca  dan menurut qira’at hamzah dan Al-Kisai; . Qira’a  pertama dengan sukun tha  dan dhammah ha’ menunjukkan larangan menggauli perempuan itu pada ketika haidh. Ini berarti bahwa ia boleh dicampuri setelah terputusnya haidh sekalipun sebelum mandi. Inilah pendapat Abu Hanifah. Sedangkan qira’at kedua dengan tasydid (suara ganda) tha’ dan ha’   menunjukkan adanya perbuatan manusia dalam usaha menjadikan dirinya bersih. Per­buatan itu adalah mandi sehingga  ditafsirkan dengan  (mandi).  Berdasarkan qira’at Hamzah dan Al-Kisai, jumhur ulama menafsirkan bacaan yang tidak bertasydid dengan makna bacaan yang bertasydid.

sumber :

Joe Dever’s Lone Wolf Complete 1.00 Apk

Flexmedia

Kembali ke atas